SOLOBALAPAN, HIBURAN — Musisi Daniel Baskara Putra atau yang lebih akrab disapa Hindia baru-baru ini meluapkan kekesalannya melalui platform media sosial X.
Langkah konfrontatif ini dipicu oleh viralnya tangkapan layar ponsel seorang penonton yang memuat pesan bernada homofobik di tengah-tengah jalannya pertunjukan musik Hindia bersama grup band .Feast.
Insiden yang terjadi di sebuah festival musik tersebut mendadak ramai jadi buah bibir warganet, bahkan respons spontan dari Baskara sendiri langsung memicu perdebatan sengit di ruang siber.
Kronologi Munculnya Pesan Kontroversial di LED Panggung
Peristiwa kurang mengenakkan ini bermula dari unggahan salah satu akun TikTok yang mengabadikan momen keseruan festival musik Pesta Bebas Berselancar di Gelora Pakansari, Bogor, pada 21 Juni 2026 lalu.
Di tengah kemeriahan acara, layar LED raksasa di panggung utama mengarahkan sorotan kamera (crowd shot) ke arah kerumunan penonton.
Namun, alih-alih menampilkan ekspresi antusias pengunjung, kamera justru menangkap sebuah layar ponsel yang sengaja diangkat tinggi oleh salah satu penonton di barisan depan.
Ponsel tersebut memuat teks kontroversial yang berbunyi, “Jadi apa pun asal jangan jadi boti,” sebuah istilah urban yang erat dikaitkan dengan narasi homofobik.
Unggahan tersebut diviralkan kembali oleh akun X @firasaat hingga meledak dan menjangkau lebih dari 5,2 juta penayangan.
Hindia Semprot Aksi Kameramen: "Tolol dan Katro"
Gerah karena panggungnya dijadikan media untuk menyebarkan pesan diskriminatif dan memicu kegaduhan, Hindia langsung melayangkan kritik tajam lewat akun X pribadinya.
Penyanyi kelahiran tahun 1994 ini blak-blakan menyayangkan keputusan kru kameramen lapangan yang dinilai kurang selektif dalam memilih objek visual untuk dipampang di layar utama panggung.
“tolol. kameramen jg ngapain nyorot ginian, katro,” tulis Hindia secara singkat dan tegas melalui akun media sosialnya.
Tabel Klasifikasi Peta Opini Netizen Terhadap Respons Hindia
Karena Hindia melemparkan kritik yang sangat singkat tanpa adanya elaborasi lebih lanjut, netizen di media sosial langsung terbagi menjadi beberapa sudut pandang dalam menafsirkan maksud sang musisi:
Ruang Seni yang Terdistorsi Ruang Perdebatan
Sikap ketus Baskara Putra mengundang pro dan kontra yang cukup pelik.
Di satu sisi, sebagian netizen menuduh respons emosional tersebut merupakan bentuk keberpihakan sang musisi kepada komunitas gender tertentu yang merasa tersinggung oleh tulisan sang penonton.
Namun di sisi lain, kelompok netizen yang mendukung Hindia menegaskan bahwa aksi sang musisi murni didasari profesionalisme kerja.
Menurut mereka, Hindia hanya ingin melindungi marwah festival musiknya agar tetap menjadi ruang aman yang fokus pada apresiasi lagu-lagunya, bukan malah menjadi arena provokasi digital yang memecah konsentrasi penonton dan menodai kesakralan jalannya konser musik.
(did)