JAKARTA, SOLOBALAPAN.COM – Dua tahun setelah sukses menggebrak industri musik lewat album penuh perdananya, penyanyi dan penulis lagu berbakat Bernadya Ribka akhirnya resmi kembali menelurkan karya terbaru. Berjudul Semoga Hanya di Mimpi, album penuh kedua yang berisi 10 lagu ini telah resmi dirilis di berbagai platform streaming digital pada Rabu (24/6).
Sebelum album utuh ini dilepas ke pasaran, dua lagu di antaranya yaitu Rabun Jauh dan Kita Buat Menyenangkan sudah lebih dulu menyapa pendengar dalam bentuk single pada awal tahun ini.
Secara visual dan artwork, penyanyi asal Surabaya ini tampil dengan image yang cukup kontras dari era sebelumnya. Rambut panjang yang selama ini menjadi ciri khasnya kini terpangkas rapi menjadi sebahu. Selain itu, alih-alih mengenakan gaun hitam pekat yang melankolis seperti di album perdana, Bernadya memilih mengenakan pakaian serba putih untuk konsep foto album Semoga Hanya di Mimpi.
Baca Juga: Adu Irit Vario Evo 160 vs Aerox 155, Motor Skutik Mana yang Lebih Hemat?
Meski penampilannya berubah, urusan lirik dan narasi cerita di album ini masih mempertahankan benang merah khas Bernadya. Lagu-lagunya tetap terasa sentimental, sarat kegalauan, dan mendalam dalam merenungi kisah cinta yang tidak berjalan mulus.
Terinspirasi dari Cherophobia atau Takut Bahagia
Dalam pernyataan tertulis yang diterima, Bernadya mengungkapkan bahwa keseluruhan materi dalam album Semoga Hanya di Mimpi justru lahir dari sebuah rasa takut yang personal.
"Semoga Hanya di Mimpi lahir dari ketakutanku akan rasa tenang. Bagiku, tenang sama dengan tanda bahaya," ungkap Bernadya jujur.
Pemikiran unik ini diakui Bernadya semakin menguat setelah dirinya membaca sebuah artikel ilmiah tentang cherophobia, yakni sebuah kondisi psikologis di mana seseorang merasa takut untuk bahagia karena meyakini akan ada sesuatu yang buruk yang langsung menyusul rasa bahagia tersebut.
"Album ini lahir dari rutinitas normal, yang harusnya aku merasa tenang dan bahagia. Tapi entah kenapa rasanya waswas, karena ini berarti pertanda akan terjadi sesuatu yang besar atau tidak aku inginkan," papar pelantun tembang-tembang melow tersebut.
Nuansa waswas dan gelisah itu tercermin jelas di beberapa nomor terbarunya. Sebut saja lagu pembuka berjudul Laut yang Tenang, yang liriknya menggambarkan bagaimana ombak besar bisa tiba-tiba datang dari lautan yang tampak teduh.
Contoh lain ada pada lagu Tolong Bilang Ini Mimpi, saat Bernadya menyanyikan momen ketika hal buruk yang ia takuti akhirnya benar-benar menjadi nyata. Sementara kegelisahan sosialnya saat berkumpul bersama keluarga atau teman dekat dituangkan secara apik dalam lagu Sebelum Jadi Panjang.
Tidak ketinggalan, Bernadya juga tetap menyajikan kisah cinta tak setara lewat lagu Lawan Waktu dan Jarak serta Wanita Tak Punya Malu, hingga sebuah kepasrahan dalam hubungan yang digantung lewat lagu Kita Buat Menyenangkan.
Eksplorasi Musik Baru: Sentuhan Pop Rock Era 2000-an
Dari departemen musik, Bernadya memberikan kejutan dan sentuhan baru yang lebih segar. Tidak sendirian, ia menggandeng deretan musisi dan produser top tanah air, mulai dari Petra Sihombing, Perunggu, Baskara Putra, Rendy Pandugo, Enrico Octaviano, hingga Dennis Ferdinand.
Baca Juga: Bawa Pisau Daging dan Mengamuk, ODGJ di Nogosari Boyolali Berhasil Diamankan Polisi
Lewat kolaborasi epik ini, Bernadya banyak menyuntikkan elemen musik pop dan rock alternatif yang sempat menjadi tren besar di industri musik Indonesia pada era tahun 2000-an silam.
"Aku penasaran dengan era itu," kata Bernadya, yang juga membocorkan bahwa dirinya banyak mendengarkan album ikonik 18 milik penyanyi Audy Item sebagai salah satu referensi utama dalam meramu karya teranyarnya ini. (len/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto