SOLOBALAPAN.COM - Konflik antara Sarwendah dan mantan suaminya, Ruben Onsu, kini memasuki babak baru yang semakin panas. Perseteruan yang awalnya hanya berkutat pada persoalan komunikasi pasca perceraian, kini melebar ke isu hak asuh anak, dugaan eksploitasi anak, hingga persoalan nafkah yang disebut sudah terhenti selama beberapa bulan terakhir.
Situasi ini menjadi sorotan publik setelah kedua pihak sama-sama membawa persoalan mereka ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Langkah tersebut menandakan konflik keduanya tak lagi sekadar urusan personal, melainkan sudah menyentuh aspek perlindungan anak.
Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, menegaskan pihaknya tidak tinggal diam menghadapi tudingan yang dilontarkan kubu Ruben. Ia menyebut seluruh bukti telah disiapkan untuk membeberkan fakta yang sebenarnya.
“Atas laporan yang kami lakukan dan terkait laporan yang mereka lakukan semuanya akan kami siapkan seluruh bukti untuk memberikan penjelasan sejelas-jelasnya,” kata Chris Sam Siwu, Selasa (23/6/2026).
Salah satu isu yang ramai diperbincangkan adalah tudingan bahwa Sarwendah mempersulit Ruben bertemu dengan anak-anak mereka. Namun tuduhan itu dibantah keras oleh pihak Sarwendah.
“Terkait isu mempersulit RO ketemu anak saya bantah keras. Bahwa tidak pernah klien kami mempersulit RO ketemu anak, yang terjadi adalah komunikasi belum pas saja antara ibu dan bapaknya,” tegasnya.
Chris menilai akar persoalan bukan pada upaya menghalangi pertemuan ayah dan anak, melainkan komunikasi yang belum berjalan harmonis antara kedua orang tua.
Di tengah konflik tersebut, muncul pula tuduhan eksploitasi anak. Ruben sebelumnya menyoroti kehadiran anak-anak dalam siaran langsung penjualan produk yang dilakukan Sarwendah di media sosial. Tuduhan ini memicu perdebatan luas di publik.
Menanggapi hal itu, Chris menilai banyak asumsi yang berkembang justru keliru.
"Jadi jangan dipelintir seakan-akan bahwa 'oh anak itu dijadikan senjata untuk menaikkan rating', tidak ya," bantah Chris kepada media.
Menurutnya, keberadaan anak-anak di sekitar Sarwendah terjadi secara natural karena sang artis memang bekerja dari rumah. Dengan demikian, anak-anak bisa bebas bertemu ibunya kapan pun tanpa ada paksaan.
"Anak itu memang di rumah sehingga anak itu terbuka untuk datang kapan pun ya, jadi eksploitasi anak itu bukan seperti itu. Eksploitasi anak itu bahwa setiap acaranya dipaksa untuk ikut," terangnya.
Ia bahkan menegaskan bahwa di rumah tersebut, anak-anak memiliki kebebasan penuh untuk mendekati ibunya kapan saja.
"Anak ini menurut Sarwendah di dalam rumah itu melebihi manajernya, melebihi siapa pun artinya tidak ada pengekangan. Tidak boleh masuk ruangan di sana, ibu lagi kerja nggak boleh, itu memang dibebaskan," ujar Chris.
Chris juga menyoroti bagaimana Sarwendah berusaha menyeimbangkan pekerjaan dengan perannya sebagai ibu.
"Coba bayangin kurang bahagia apa tempat itu buat anaknya bisa ketemu sama ibunya pada saat dia bangun tidur misalnya tiba-tiba bangun tengah malam, ya untuk ketemu ibunya tinggal naik melihat ibunya sedang mencari uang buat anak-anaknya," kata Chris.
Di sisi lain, persoalan nafkah juga ikut menjadi bahan perdebatan. Pihak Sarwendah mengungkapkan bahwa Ruben disebut sudah tidak lagi memberikan nafkah selama beberapa bulan terakhir. Isu ini disebut akan menjadi salah satu poin penting dalam pembahasan di KPAI.
Sementara itu, kubu Sarwendah justru menyambut baik jika Ruben benar-benar membawa sengketa hak asuh ke pengadilan. Menurut mereka, jalur hukum formal lebih adil dibanding perang opini di media sosial.
Baca Juga: Resmi Go Public! Fuji Ajak Rakin Khan Temui Haji Faisal, Sebut Sang Kekasih Kena Sidak
"Dan terkait dengan masalah gugatan, sekali lagi kami sangat menanti gugatan itu," kata Chris dikutip dari YouTube Reyben Entertainment, Senin (22/6/2026).
Pernyataan tersebut ditegaskan bukan sebagai bentuk tantangan kepada Ruben.
"Bukan kami menantang," tegasnya.
Chris menilai pengadilan merupakan tempat paling fair untuk menguji seluruh bukti dari kedua pihak.
"Karena itu adalah ruang tertutup yang sangat adil, yang sangat fair untuk kita masing-masing menyampaikan semua bukti-bukti. Ya, Bang Minola (kuasa hukum Ruben) menyampaikan bukti yang menguatkan klien Bang Minola, saya memberikan bukti-bukti yang menguatkan klien kami ya," ungkap Chris.
Ia juga menilai penyelesaian lewat jalur hukum jauh lebih sehat dibanding konflik yang terus digiring ke media sosial.
"Jadi semua itu akan baik karena tidak terjadi penghakiman secara medsos. Nah, ini yang mengerikan," lanjutnya.
Di tengah tekanan publik yang besar, Sarwendah dikabarkan sangat terpukul oleh hujatan yang datang bertubi-tubi. Bahkan muncul seruan boikot terhadap dirinya di media sosial.
"Jujur klien kami sedih, tapi klien kami tidak bisa marah," kata Chris.
Sarwendah sendiri sempat menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang terjadi.
Baca Juga: Catatan Magis Lionel Messi di Piala Dunia 2026, Pecahkan Rekor Klose Jadi Top Skor Sepanjang Masa
"Halo semuanya, saya Sarwendah Tan melalui video ini saya ingin menyampaikan beberapa hal, pertama-tama izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semuanya. Keluarga besar, teman-teman, masyarakat, dan para penggemar yang selama ini selalu setia menemani perjalanan saya," ujar Sarwendah dikutip Jumat (5/6/2026).
Ia mengakui sebagai manusia dirinya tidak luput dari kesalahan.
"Sebagai manusia yang biasa, yang tidak luput dari dosa dan kesalahan, saya menyadari potongan video yang beredar tersebut sudah membuat kegaduhan di media sosial. Saya menyadari bahwa kata-kata saya tersebut tidak menunjukkan kebaikan maupun kerendahan hati," akunya.
Sarwendah juga menyesalkan konflik yang semestinya bisa diselesaikan secara lebih tenang justru melebar ke ruang publik.
"Hal-hal yang seharusnya cukup diselesaikan di ruang. Lebih tenang, kini turut menyita perhatian dan energi dari banyak pihak," tuturnya.
Ia pun menyampaikan permintaan maaf kepada semua pihak yang terdampak.
"Oleh karena itu, saya minta maaf dari lubuk hati saya kepada semuanya. Saya minta maaf atas video yang beredar tersebut dan terhadap semua yang telah terdampak oleh karena hal tersebut," ujarnya.
Permintaan maaf terdalam juga ia tujukan kepada anak-anaknya.
"Maaf yang terdalam kepada anak-anak saya. Apapun yang terjadi di antara kehidupan orang dewasa, mereka tidak seharusnya terbawa ke dalam pemberitaan yang beredar," ungkapnya.
Sebagai seorang ibu, Sarwendah menegaskan prioritas utamanya tetap masa depan anak-anak.
"Sebagai seorang ibu, saya berjanji akan terus berusaha menjadi ibu yang melindungi, merawat, dan mengutamakan kebahagiaan dan masa depan mereka," pungkasnya. (lz)
Editor : Laila Zakiya