SOLOBALAPAN.COM – Isu kesehatan mental dan toxic relationship kembali menjadi sorotan dalam gelaran Womantalk Bus Roadshow bersama film Suamiku Lukaku yang berlangsung di Ballroom Shaba Kencana Politeknik Indonusa Surakarta, Sabtu (16/5/2026).
Kegiatan yang digelar pukul 11.00–12.00 WIB tersebut menghadirkan aktris Acha Septriasa, sutradara Ssharaad Sharaan, serta psikolog Nasri Ika Yulianti.
Acara ini menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memahami isu kesehatan mental melalui media film yang dinilai lebih dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini.
Baca Juga: Dijuluki Motor Sultan Anti-Jatuh, Apa yang Baru dari Yamaha Tricity 300 ABS 2026?
Film Suamiku Lukaku mengangkat kisah tentang hubungan toxic, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tekanan emosional, hingga dampak kesehatan mental dalam sebuah relasi.
Dalam sesi diskusi, para narasumber menegaskan bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi sekaligus meningkatkan awareness masyarakat terhadap persoalan sosial yang sering terjadi di lingkungan sekitar.
Sutradara Ssharaad Sharaan mengungkapkan bahwa film tersebut lahir dari keresahan terhadap tingginya kasus KDRT yang masih banyak terjadi, khususnya di kawasan Asia.
“Film ini diangkat karena kasus KDRT masih banyak terjadi, terutama di kawasan Asia. Lewat film Suamiku Lukaku, kami ingin menghadirkan cerita yang dekat dengan realita masyarakat sekaligus meningkatkan awareness tentang hubungan toxic dan kesehatan mental,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa mayoritas tim produksi film tersebut diisi oleh perempuan. Langkah itu dilakukan agar sudut pandang korban KDRT dapat tergambar lebih emosional dan dekat dengan realitas yang dialami banyak perempuan.
Sementara itu, Acha Septriasa menyebut film dapat membantu masyarakat memahami perasaan dan kondisi yang terkadang sulit diungkapkan secara langsung.
Menurutnya, cerita yang relate dengan kehidupan sehari-hari membuat penonton lebih mudah memahami pentingnya menjaga kesehatan mental serta mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat.
Dalam kesempatan yang sama, psikolog Nasri Ika Yulianti menyoroti pentingnya lingkungan yang suportif bagi seseorang yang sedang mengalami tekanan mental maupun toxic relationship.
“Masih banyak anak muda yang merasa takut untuk bercerita atau mencari bantuan karena khawatir tidak dipahami oleh lingkungan sekitar,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental, memahami tanda-tanda hubungan toxic, serta berani mencari bantuan ketika mengalami tekanan emosional.
Baca Juga: 'Tiba-Tiba Setan' Dari Prank Rekayasa Menjadi Teror Sesungguhnya
Acara berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama mahasiswa yang hadir di Ballroom Shaba Kencana Politeknik Indonusa Surakarta. (Lutfiana Sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto