SOLOBALAPAN.COM – Kasus dugaan penganiayaan yang menyeret nama Rien Wartia Trigina alias Erin semakin memanas.
Satu per satu mantan asisten rumah tangga (ART) yang pernah bekerja di kediamannya mulai buka suara, mengungkap pengalaman yang mengejutkan publik.
Tak hanya soal dugaan kekerasan, isu gaji hingga penahanan dokumen pribadi juga ikut mencuat.
Baca Juga: Skandal Tes “Semi Telanjang” Terbongkar, DPRD Sragen Murka ke PT CWII
Kronologi Dugaan Penganiayaan ART
Salah satu ART bernama Herawati mengaku mengalami tindakan kekerasan saat bekerja di rumah Erin. Peristiwa itu disebut terjadi ketika ia sedang membersihkan rumah.
“Awalnya tuh saya lagi bersihin sofa di lantai 2,” kata Herawati.
Masalah bermula dari hal sepele, yakni kondisi kamar anak Erin yang dianggap tidak sesuai.
“Ibu Erin ke atas. Dia masuk ke kamarnya Mas Dio dan melihat gorden itu nggak dibuka sama kamar mandinya Mas Dio nggak ditutup. Di situlah dia marah,” lanjut Herawati.
Situasi kemudian memanas hingga berujung dugaan kekerasan fisik.
“Dia (Erin) ngambil sapu yang saya pegang, sapu lidi itu diambil sama dia, dipukullah kepala saya pakai gagangnya,” bebernya.
Tak hanya itu, ia juga mengaku mendapat makian saat bekerja.
“Dia (Erin) maki-maki saya, 'Kamu ini kerja tlol banget, kamu ini tlol, kamu ini b*go' katanya gitu. 'Kamu nggak bisa kerja ya?',” ungkap Herawati kemudian.
Gaji ART Disebut di Bawah UMR
Di tengah polemik tersebut, muncul pengakuan dari ART lain bernama Nia yang mengungkap soal besaran gaji selama bekerja di rumah Erin.
Menurutnya, nominal yang diterima tergolong kecil, bahkan di bawah UMR Jakarta.
"Di situ gaji 2,5 karena pak Andre sanggup segitu, karena saya pegang anak-anak dan yg lainnya jadi gajih 3 juta, sisanya Erin yg bayar karena jam kerja saya juga beda sama mba2 yg di sana jdi agak dibedain," kata Nia.
Ia juga mengungkap beban kerja yang cukup berat meski gaji terbatas.
"Ya gajih disitu 3 juta itu Massa Allah kerjanya harus perfek dan harus angkat2 meja sofa blum patung2 yg kecil2 dan naro harus sesuai engga boleh kegeser walau 1 cm," lanjutnya.
Baca Juga: Paradoks Transportasi Udara : Harga Tiket Mahal Tapi Penumpang Pesawat di Solo Malah Naik 27 Persen
Gaji dan Dokumen Disebut Masih Ditahan
Tak hanya soal gaji, sejumlah ART juga mengaku mengalami penahanan dokumen pribadi.
Herawati menyebut hingga kini haknya belum dipenuhi setelah melaporkan kasus tersebut.
"Ponsel, baju saya masih di sana, sama KTP, gaji pun belum dikasih sampai sekarang," bebernya.
Hal serupa juga dialami Nia yang mengaku KTP dan sisa gajinya belum diberikan.
"Kalau saya KTP saya ditahan, sama kekurangan gaji saya masih kurang. Hanya kurang Rp500 ribu. Belum dikasih, (Erin) janji kalau saya datang lagi (bakal dikasih), tapi saya bilang saya enggak bisa datang lagi tolong ditransfer KTP sama kekurangan gaji," tukasnya.
Ketakutan ART untuk Kembali
Nia bahkan mengaku enggan kembali ke rumah tersebut meski diminta datang untuk mengambil haknya.
"Takut disuruh kerja lagi di situ, soalnya susah. Kalau udah masuk situ susah keluar. Kalau ibu Erin nyuruh kita pulang ya pulang, tapi kalau kita izin pulang tapi bu Erin enggak ngizinin ya kita enggak bisa pulang," bebernya.
Baca Juga: Paradoks Transportasi Udara : Harga Tiket Mahal Tapi Penumpang Pesawat di Solo Malah Naik 27 Persen
Erin Bantah dan Laporkan Balik
Di sisi lain, Erin membantah semua tuduhan yang dilayangkan oleh para ART. Ia mengklaim memiliki bukti kuat, termasuk rekaman CCTV.
"Semua sudah ada bukti-buktinya, CCTV yang di rumah, saksi ART yang di rumah, security terutama, jadi biar proses semua," kata Erin.
Ia juga menegaskan tidak ada tindakan penganiayaan.
"Enggak ada (penganiayaan), enggak ada, aman. Tadi sudah ngobrol di rumah, ada pihak dari Polsek Pesanggrahan, Pak RW juga mengecek kebenarannya, dan itu aman," sambungnya.
Tak berhenti di situ, Erin bahkan melaporkan balik dua ART, yakni Nia dan Herawati, atas dugaan pencemaran nama baik.
Kasus ini kini ditangani oleh Polres Metro Jakarta Selatan dengan laporan dari kedua belah pihak. Di satu sisi, ART melaporkan dugaan penganiayaan, sementara di sisi lain Erin melaporkan dugaan fitnah. (lz)
Editor : Laila Zakiya