SOLOBALAPAN, ENTERTAINMENT — Rumah produksi Rexinema kembali menjadi sorotan publik setelah muncul kabar bahwa mereka tengah menjajaki kerja sama strategis dengan platform streaming raksasa, Netflix.
Langkah ini menjadi angin segar bagi para pencinta sinema tanah air yang merindukan karya-karya legendaris dari awal era 2000-an.
Informasi ini pertama kali mencuat melalui diskusi di media sosial, khususnya akun X @dewaaphrodite, yang menyebutkan bahwa pihak produser baru memulai tahap pembicaraan awal untuk membawa katalog film lawas mereka ke audiens global.
Membuka Gerbang Nostalgia: Dari Alexandria hingga Jelangkung
Jika negosiasi ini terealisasi, film "Alexandria" disebut-sebut akan menjadi pembuka jalan.
Film yang dibintangi oleh Marcel Chandrawinata, Fachri Albar, dan Julie Estelle ini merupakan salah satu drama paling ikonik pada masanya dengan soundtrack yang tak kalah melegenda.
Selain itu, beberapa judul besar lainnya yang berpotensi menyusul antara lain:
-
Jelangkung: Pionir kebangkitan horor modern Indonesia.
-
Catatan Akhir Sekolah: Film wajib bagi para remaja yang merayakan masa SMA.
-
30 Hari Mencari Cinta: Komedi romantis yang sangat relatable dengan kehidupan urban.
-
Bangsal 13: Film horor setting rumah sakit yang hingga kini masih menyisakan trauma bagi penontonnya.
Reaksi Viral: Nessie Judge Ikut Bersuara
Hype mengenai kabar ini semakin memuncak setelah konten kreator ternama, Nessie Judge, turut mengekspresikan antusiasmenya.
Melalui sebuah unggahan, Nessie menuliskan, "OMG i need to rewatch Bangsal 13," yang langsung viral dan memicu ribuan reaksi serupa dari netizen yang ingin melakukan rewatch party secara digital.
Rexinema dikenal sebagai rumah produksi yang berani mengeksplorasi berbagai genre, mulai dari horor yang intens hingga drama remaja yang ringan namun membekas.
Gaya penceritaan mereka yang khas dinilai masih sangat relevan untuk dinikmati oleh generasi baru saat ini.
Momentum Distribusi Global
Meski pembicaraan masih di tahap awal dan belum ada konfirmasi resmi dari pihak Netflix maupun Rexinema, langkah ini dianggap sangat strategis.
Menaruh katalog film klasik di platform internasional bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga upaya memperkenalkan sejarah emas perfilman Indonesia ke mata dunia.
Kini, para penggemar hanya bisa menunggu kepastian resmi sambil terus meramaikan diskusi di TikTok, Instagram, dan X.
Jika berhasil, transformasi distribusi ini bisa menjadi contoh bagi rumah produksi lain untuk menghidupkan kembali "harta karun" film Indonesia di ranah digital.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo