SOLOBALAPAN, ENTERTAINMENT — Kasih sayang seorang ibu sering kali disebut sebagai cinta yang paling tulus.
Namun, dalam film "Crocodile Tears", cinta tersebut bertransformasi menjadi sesuatu yang mengekang, posesif, dan berbahaya.
Film karya sutradara Tumpal Tampubolon ini siap meramaikan bioskop tanah air pada Mei 2026 setelah sukses berkeliling di berbagai festival film internasional.
Bekerja sama dengan Tala Media serta rumah produksi dari empat negara, film ini menjanjikan drama dengan intrik mendalam dan konflik batin yang mencekam antara ibu dan anak.
Hidup di Bawah Kendali Sang "Mama"
Cerita berpusat pada Johan (Yusuf Mahardika), seorang pemuda yang menghabiskan seluruh hidupnya dalam pengawasan ketat sang Mama (Marissa Anita).
Sebagai orang tua tunggal, Mama berusaha keras "melindungi" Johan dari dunia luar yang dianggapnya sebagai ancaman.
Keduanya tinggal di sebuah lahan penangkaran buaya yang terisolasi. Hidup mereka tampak tenang, namun sebenarnya monoton dan penuh kontrol.
Setiap jadwal dan langkah Johan berada di bawah kendali penuh Mama, hingga Johan nyaris tidak memiliki ruang untuk mengeksplorasi jati dirinya sendiri.
Kehadiran Arumi dan Pecahnya Ketenangan
Ketakutan terbesar Mama akhirnya menjadi nyata saat seorang perempuan cantik bernama Arumi (Zulfa Maharani) hadir dalam kehidupan Johan.
Hubungan mereka berkembang cepat hingga Johan nekat membawa Arumi tinggal bersama di rumah mereka.
Keputusan ini memicu ketegangan hebat. Kehadiran Arumi bukan hanya mengganggu dominasi Mama atas Johan, tetapi juga
mulai mengungkap gerak-gerik mencurigakan Mama, terutama dalam caranya merawat satu ekor buaya tertentu di penangkaran tersebut.
Di sini, "buaya" bukan hanya hewan buas di kandang, melainkan metafora atas ancaman dari orang terdekat.
Prestasi Gemilang di Kancah Internasional
Sebelum resmi menyapa penonton Indonesia, Crocodile Tears telah mengukir prestasi luar biasa di panggung dunia.
Masa pengembangan yang memakan waktu 7 tahun terbayar tuntas dengan pemutaran perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2024.
Film ini telah menjajaki lebih dari 33 festival film bergengsi, termasuk:
-
Busan International Film Festival
-
BFI London Film Festival
-
Tallinn Black Nights Film Festival
-
Adelaide Film Festival
Kolaborasi Empat Negara
Diproduseri oleh Mandy Marahimin, film ini merupakan hasil kolaborasi sineas dari Indonesia, Prancis, Singapura, dan Jerman (Acrobates Films, Poetik Films, Giraffe Pictures, dan 2Pilots Film Production).
Kombinasi talenta internasional ini menghasilkan visual dan narasi yang kuat, membuat penonton akan merasakan atmosfer ketegangan yang merambat perlahan hingga puncak konflik.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo