SOLOBALAPAN.COM – Komika senior Pandji Pragiwaksono tengah berada di pusaran konflik hukum setelah pertunjukan spesialnya yang bertajuk "Mens Rea" (akhir 2025) dilaporkan ke pihak berwajib.
Laporan yang diinisiasi oleh Front Persaudaraan Islam (FPI) tersebut menuding Pandji telah melakukan penistaan agama melalui materi lawakannya.
Meski ditekan untuk segera menyampaikan permohonan maaf secara terbuka, Pandji memilih untuk tetap teguh pada pendiriannya dan meminta adanya ruang dialog untuk memperjelas duduk perkara.
Pandji: "Apa yang Harus Diminta Maaf?"
Pandji Pragiwaksono menyikapi tuntutan tersebut dengan tenang namun kritis.
Ia menegaskan tidak akan gegabah meminta maaf jika belum memahami secara pasti poin mana dalam materinya yang dianggap melanggar norma agama.
Baginya, materi dalam acara Mens Rea sangatlah luas dan beragam.
"Saya kurang paham apa yang harus diminta maaf. Atas kesalahan apa? Mungkin sebaiknya ada dialog dulu agar ada kejelasan dan klarifikasi," ujar Pandji menanggapi laporan tersebut, dikutip dari JawaPos.com, Selasa (3/2/2026).
Dia menegaskan siap bertemu untuk melakukan komunikasi dan dialog supaya dirinya tahu poin yang mana yang dipersoalkan.
Apalagi, materi yang dibawakan Pandji Pragiwaksono dalam acara Mens Rea cukup beragam.
"Mungkin sebaiknya ada dialog dulu, ngobrol dulu biar ada kejelasan dan ada klarifikasi. Proses ini kan belum jalan, kalau jalan bisa saya jelaskan supaya duduk perkara lebih jelas," kata Pandji Pragiwaksono.
Keberatan FPI: Soroti Materi Salat Safar
Di sisi lain, DPP FPI melalui Imam Abuya Ahmad Qurthubi Jaelani menegaskan bahwa lawakan Pandji yang mengaitkan ibadah (salat safar) dengan turbulensi pesawat adalah bentuk penistaan yang tidak bisa ditoleransi.
FPI menyatakan akan terus mengawal proses hukum ini sebagai bentuk penjagaan terhadap kehormatan agama.
"Kami menitikberatkan pada penistaan agama. Siapa pun yang menistakan agama, kami akan menjadi garda terdepan untuk memprosesnya ke jalur hukum," tegas Abuya Ahmad Qurthubi pada pertengahan Januari lalu.
Menunggu Jalur Dialog atau Hukum?
Hingga saat ini, Pandji menyatakan kesiapannya untuk bertemu dan berdiskusi.
Ia berharap kasus ini tidak langsung menjadi bola liar di pengadilan sebelum ada penjelasan duduk perkara yang jernih.
Publik pun kini terbelah antara mendukung kebebasan berekspresi dalam komedi atau mendukung penegakan hukum terkait batasan dalam menyinggung unsur SARA. (dam)
Editor : Damianus Bram