SOLOBALAPAN.COM – Aktris papan atas Luna Maya kembali dipercaya untuk menghidupkan karakter ikonik "Ratu Horor Indonesia" dalam film layar lebar terbarunya di tahun 2026, yang bertajuk Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa.
Ini merupakan kali ketiga wanita kelahiran Denpasar tersebut memerankan karakter Suzzanna, setelah sukses besar di dua film sebelumnya.
Dalam konferensi pers yang digelar di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, pada Senin (26/1/2026), Luna Maya berbagi cerita mengenai proses kreatif dan beban mental yang ia pikul.
Meski sudah berpengalaman, aktris berusia 42 tahun ini mengaku tantangan yang dihadapi tidaklah surut, justru menuntut pendalaman karakter yang lebih spesifik agar tidak terjebak pada repetisi peran semata.
Menghidupkan Karakter, Bukan Sekadar Meniru
Luna menegaskan bahwa fokus utamanya bukanlah menjadi Suzzanna secara personal dalam kehidupan sehari-hari, melainkan menghidupkan kembali karakter yang sedang diperankan oleh mendiang Suzzanna dalam konteks cerita film tersebut.
Ia berusaha keras membedakan nuansa aktingnya agar sesuai dengan naskah Santet Dosa di Atas Dosa.
"Kesulitannya hampir sama di setiap film ya, bagaimana menghidupkan karakter bukan Suzzanna yang aslinya, tapi Suzzanna yang memerankan film 'Dosa di Atas Dosa'.
Jadi memang aku coba benar-benar kayak, 'Oke, ini harus berbeda dari sebelum-sebelumnya,' karena karakternya memang sedikit berbeda," ungkap Luna.
Berikut adalah poin-poin fokus Luna Maya dalam mendalami peran ini:
-
Diferensiasi Karakter: Memastikan karakter Suzzanna di film ini memiliki warna yang berbeda dibanding film sebelumnya.
-
Menjaga Ciri Khas: Tetap mempertahankan gestur dan gaya bicara unik yang menjadi kekuatan almarhumah.
-
Interpretasi Naskah: Membedah skenario agar "jiwa" Suzzanna masuk ke dalam konflik cerita yang baru.
Melanjutkan Legasi, Bukan Menggantikan
Salah satu hal yang paling ditekankan oleh Luna adalah posisinya sebagai penerus, bukan pengganti. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kharisma Suzzanna asli tidak akan pernah bisa disamai 100 persen oleh siapa pun, termasuk dirinya.
Perbedaan latar belakang dan kepribadian membuat interpretasi peran pasti memiliki celah perbedaan.
"Saya ingin mencoba menghidupkan legasi beliau di film-film yang terbaru ini, tanpa bermaksud menggantikan atau bermaksud untuk bilang bahwa saya lebih baik. Tapi ini melanjutkan legasi beliau," tegasnya dengan rendah hati.
Tantangan Menghadapi 'Fans Garis Keras'
Selain teknis akting, tekanan eksternal dari para penggemar setia Suzzanna juga menjadi tantangan tersendiri.
Luna menyadari bahwa ekspektasi publik sangat tinggi, mengingat sosok Suzzanna sudah sangat melekat di hati masyarakat Indonesia lintas generasi.
"Bunda begitu sudah melekat di hati masyarakat Indonesia, bahkan sangat-sangat bisa dibilang fans garis kerasnya itu luar biasa sekali.
Jadi bagaimana memenuhi ekspektasi supaya mereka masih bisa melihat marwah beliau itu dilanjutkan oleh saya," pungkas Luna. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo