SOLOBALAPAN.COM - Nama Brooklyn Beckham kembali menjadi sorotan publik setelah secara terbuka menyatakan tak ingin berdamai dengan orang tuanya, David Beckham dan Victoria Beckham.
Keputusan tersebut langsung memunculkan pertanyaan besar: bagaimana kehidupan Brooklyn setelah memutus komunikasi dengan keluarga supertajir itu, terutama dari sisi finansial?
Terlahir sebagai putra sulung pasangan ikonik dunia fashion dan sepak bola, Brooklyn memang sejak kecil hidup di bawah sorotan.
Namun dinamika keluarga yang memanas membuat publik kini menaruh perhatian pada cara Brooklyn membangun kemandirian hidupnya, termasuk sumber penghasilan yang menopang gaya hidupnya saat ini.
Tegas Menjauh dari Keluarga Beckham
Konflik Brooklyn dengan keluarga Beckham memuncak pada awal 2026.
Ia secara terbuka menyatakan sikapnya di media sosial.
"Untuk kali pertama dalam hidupku, sejak menjauh dari keluargaku, kecemasan itu hilang," ujar Brooklyn.
Ia juga menegaskan bahwa keputusannya bukan karena pengaruh sang istri, Nicola Peltz.
"Saya telah diam selama bertahun-tahun dan berusaha sekuat tenaga menjaga masalah ini tetap privat," tulis Brooklyn seperti dilansir dari Variety.com.
"Saya tidak sedang dikendalikan, saya justru membela diri saya sendiri untuk pertama kalinya dalam hidup saya," tandasnya.
Sikap tegas tersebut menandai babak baru dalam hidup Brooklyn, termasuk dalam membangun karier dan keuangan tanpa bergantung pada nama besar Beckham.
Baca Juga: Alonso Tolak Tawaran Jerman, Sinyal Kuat Gabung Liverpool atau Spurs?
Endorsement Jadi Sumber Penghasilan Utama
Sebagai figur publik global, Brooklyn memiliki personal brand kuat di industri fashion dan lifestyle.
Ia kerap menjadi wajah berbagai kampanye brand internasional seperti Moncler, Express, hingga Burberry.
Nilai kerja sama endorsement Brooklyn disebut mencapai angka fantastis.
Dilansir dari Sun, pendapatannya dari jalur ini diperkirakan berada di kisaran 1–2 juta GBP per tahun atau setara Rp22–45 miliar.
Angka tersebut menjadi tulang punggung utama penghasilannya saat ini.
Media Sosial sebagai Aset Digital Bernilai Tinggi
Media sosial bukan sekadar etalase gaya hidup bagi Brooklyn, tetapi juga aset ekonomi.
Dengan jutaan pengikut aktif, setiap unggahan memiliki nilai komersial yang besar, baik untuk promosi brand maupun proyek pribadi.
Ketertarikannya pada dunia memasak juga ia manfaatkan sebagai konten yang terasa personal dan relevan, membuat engagement tetap stabil dan menarik bagi pasar global.
Fotografi dan Proyek Kreatif
Minat Brooklyn pada fotografi sudah terlihat sejak usia muda.
Ia bahkan sempat merilis buku foto berjudul What I See yang menampilkan sudut pandang personal tentang hidup dan perjalanannya.
Selain itu, Brooklyn juga dipercaya memotret kampanye fashion, termasuk untuk brand milik sang ibu, Victoria Beckham, serta Burberry.
Meski kerap menuai pro dan kontra, fotografi tetap menjadi bagian penting dari portofolio kreatifnya.
Bisnis Saus Premium Cloud23
Tak hanya mengandalkan popularitas, Brooklyn juga merambah dunia bisnis kuliner.
Ia mendirikan Cloud23, merek saus cabai premium yang terinspirasi dari kegemarannya memasak.
Cloud23 hadir dalam varian Hot Habanero dan Sweet Jalapeño, dengan harga sekitar 15–20 GBP per botol atau setara Rp300–450 ribu.
Produk ini diposisikan sebagai saus bergaya lifestyle, menyasar pasar anak muda yang mengutamakan cita rasa dan estetika.
Investasi Properti Bernilai Ratusan Miliar
Bersama Nicola Peltz, Brooklyn juga tercatat melakukan investasi properti di Los Angeles.
Mereka membeli hunian senilai 10,5 juta USD dan kemudian berinvestasi lagi di kawasan Trousdale Estates dengan nilai sekitar 16 juta USD.
Langkah tersebut menunjukkan fokus Brooklyn pada aset jangka panjang dan stabilitas finansial di luar dunia hiburan.
Meski hubungannya dengan keluarga Beckham berada di titik terendah, Brooklyn Beckham membuktikan dirinya tetap mampu berdiri sendiri.
Dari endorsement bernilai miliaran rupiah, bisnis saus premium, hingga investasi properti, Brooklyn kini membangun jalannya sendiri—terlepas dari bayang-bayang nama besar orang tuanya.
Keputusan cut-off tersebut bukan hanya soal relasi keluarga, tetapi juga menjadi simbol upaya Brooklyn untuk mengendalikan hidup, karier, dan masa depannya dengan caranya sendiri. (lz)
Editor : Laila Zakiya