SOLOBALAPAN.COM – Keberanian Aurelie Moeremans membongkar praktik child grooming lewat memoar Broken Strings berbuntut panjang.
Tak hanya memicu diskusi publik, kasus ini kini memasuki babak baru yang mencekam.
Aurelie mengungkap bahwa rekan-rekan artis yang memberikan dukungan secara terbuka kini menjadi sasaran teror dan ancaman dari pihak tak dikenal.
Salah satu yang menjadi korban teror tersebut adalah presenter Hesti Purwadinata.
Hal inilah yang memicu Aurelie untuk berhenti mengunggah ulang (repost) dukungan-dukungan yang ia terima demi keselamatan rekan-rekannya.
Teror Menyasar Hesti Purwadinata dan Suami
Melalui saluran media sosialnya pada Minggu (11/1/2026), Aurelie menjelaskan bahwa ancaman yang diterima Hesti sangat mengganggu privasi.
Teror tersebut dikabarkan masuk melalui pesan singkat (Direct Message) hingga aplikasi WhatsApp.
"Alasan kenapa sudah gak repost story dukungan, sederhana tapi penting. Aku pernah repost story Teh Hesti. Setelah itu, sampai sekarang, Teh Hesti dan suaminya masih terus diancam. Dari DM sampai ke WhatsApp," tulis Aurelie.
Aurelie menegaskan bahwa dirinya sangat tidak enak hati jika keberaniannya membongkar masa kelam justru membahayakan orang lain.
"Kalau aku yang diancam, aku bisa terima. Tapi kalau sampai orang lain ikut kena hanya karena berdiri di sampingku, itu berat," tuturnya.
Strategi Melindungi Pendukung dari Sosok "Bobby"
Dalam memoar bertajuk Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, Aurelie menceritakan pengalaman traumatisnya dimanipulasi oleh pria dewasa yang ia samarkan dengan nama "Bobby".
Sejak kutipan buku ini viral di awal Januari 2026, netizen banyak berspekulasi bahwa sosok tersebut merujuk pada musisi Roby Tremonti, mengingat riwayat hubungan masa lalu mereka.
Aurelie kini memilih untuk bergerak secara senyap. Dengan tidak mengunggah ulang dukungan rekan artis, ia berharap pelaku teror tidak mengetahui siapa saja sosok yang berada di pihaknya.
"Dengan aku tidak repost, dia tidak tahu siapa saja yang mendukungku. Teman-temanku bisa tetap aman," ucapnya.
Mengingat Kembali Praktik Child Grooming
Kasus yang menimpa Aurelie menjadi pembelajaran besar mengenai bahaya child grooming.
Dalam bukunya, ia menceritakan bagaimana sosok Bobby mendekatinya sejak ia berusia 15 tahun, sementara pria tersebut sudah berusia 29 tahun.
Proses manipulasi ini terjadi secara sistematis di lokasi kerja (syuting), di mana pelaku perlahan mengisolasi Aurelie dari keluarga, mengontrol cara berpakaian, hingga menggerus jati dirinya.
Aurelie menekankan bahwa dukungan yang diberikan teman-temannya meski kini dilakukan secara diam-diam, tetap terasa sangat kuat dan menguatkannya.
Hingga saat ini, publik masih terus mengawal isu ini, terutama terkait perlindungan bagi korban dan pendukung yang berani menyuarakan kebenaran di tengah ancaman teror digital. (dam)
Editor : Damianus Bram