SOLOBALAPAN.COM - Memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans tengah menjadi perhatian luas publik.
Buku ini bahkan sempat trending di media sosial karena mengangkat pengalaman personal Aurelie yang sarat luka, trauma, dan perjuangan pulih dari masa lalu kelam.
Berbeda dari kebanyakan buku memoar selebritas, Broken Strings dirilis secara gratis, tanpa penerbit, dan bisa dibaca oleh siapa saja.
Namun, tingginya minat publik juga memunculkan risiko beredarnya tautan palsu.
Berikut panduan lengkap cara membaca Broken Strings secara aman dan resmi.
Apa Itu Buku Broken Strings?
Broken Strings merupakan memoar nonfiksi yang ditulis langsung oleh Aurelie Moeremans.
Buku ini dirilis secara mandiri pada 10 Oktober 2025 dan tersedia dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.
Dalam versi Bahasa Indonesia, buku ini berjudul Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah dan terdiri dari 24 bab.
Isinya menyoroti pengalaman Aurelie sejak remaja, terutama saat ia menjadi korban child grooming.
Dalam prolog buku, Aurelie menegaskan pendekatan penulisannya yang jujur dan tanpa dramatisasi:
“Tidak semua kisah dimulai dengan ‘pada suatu waktu’. Sebagian kisah dimulai saat tak ada seorang pun yang melihat. Ketika seorang gadis terlalu muda untuk mengerti apa yang sedang terjadi.”
Memoar ini ditulis dari sudut pandang korban, berdasarkan ingatan dan pengalaman pribadinya sendiri.
Kisah yang Membuat Broken Strings Viral
Dalam buku tersebut, Aurelie mengungkap bahwa dirinya mengalami grooming sejak usia 15 tahun oleh pria yang jauh lebih dewasa, yang dalam buku disamarkan dengan nama Bobby.
Pengakuan ini juga ia sampaikan secara terbuka di media sosial:
"Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku."
Aurelie menggambarkan bagaimana hubungan yang awalnya tampak penuh perhatian perlahan berubah menjadi kontrol, manipulasi, dan tekanan emosional, hingga berdampak besar pada kesehatan mental dan kehidupannya.
Kenapa Buku Ini Dibagikan Gratis?
Aurelie secara sadar memilih untuk tidak menjual Broken Strings.
Akses gratis menjadi salah satu alasan buku ini cepat menyebar dan dibaca puluhan ribu orang.
Banyak pembaca mengaku merasa terwakili dan tersentuh oleh kejujuran narasi Aurelie.
Buku ini juga membuka diskusi lebih luas tentang child grooming, kekerasan dalam relasi, dan pentingnya kesehatan mental.
Cara Resmi Baca Gratis Broken Strings
⚠️ Waspada link palsu! Ikuti langkah ini
Aurelie hanya membagikan link resmi melalui akun Instagram pribadinya. Cara aman membacanya adalah:
1. Buka profil Instagram Aurelie Moeremans di:
https://www.instagram.com/aurelie/
2. Klik link di bio
3. Masuk ke halaman Linktree
4. Pilih menu Broken Strings
5. Tentukan versi bahasa:
* Bahasa Indonesia
* Bahasa Inggris
Link resmi versi Google Drive yang dibagikan Aurelie:
Versi Bahasa Indonesia
https://drive.google.com/file/d/1mnM75U0nIVqZsOCJHA7mehZFg8pQxnXo/view?usp=drivesdk
Versi Bahasa Inggris
https://drive.google.com/file/d/10i1Sicmhm43miVZGcFkg7ABsXCXxc8-Y/view?usp=drivesdk
Selain link di atas, hindari tautan lain yang meminta data pribadi, login, atau pembayaran.
Respons Publik dan Dampak Setelah Buku Dirilis
Sejak Broken Strings beredar luas, Aurelie mengaku menerima banyak dukungan dari pembaca.
Namun, ia juga menyebut masih mendapatkan gangguan dari pihak tertentu.
Dalam kolom komentar unggahannya, Aurelie menulis:
“Aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. Niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun.”
Ia juga menambahkan:
“Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. Padahal caranya, justru berisiko buat dirinya sendiri. Selama ini aku memilih diam, tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. Dan setiap pilihan punya batas.”
Pengakuan ini kembali memantik diskusi publik soal keberanian korban untuk bersuara dan risiko yang kerap menyertainya.
Lebih dari Memoar, Broken Strings Jadi Pengingat
Buku Broken Strings bukan sekadar kisah hidup seorang publik figur.
Memoar ini menjadi pengingat penting tentang bahaya grooming, pentingnya literasi relasi sehat, serta perlunya ruang aman bagi korban untuk berbagi dan pulih.
Dengan membacanya melalui jalur resmi, pembaca tidak hanya melindungi diri dari penipuan digital, tetapi juga menghormati niat Aurelie dalam membagikan kisahnya secara jujur dan terbuka. (lz)
Editor : Laila Zakiya