SOLOBALAPAN.COM – Program Studi (Prodi) Seni Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sukses mementaskan naskah berjudul "Maling", yang diadaptasi dari naskah bahasa Sunda berjudul "Badog" karya Dhipa Galuh Purba.
Pementasan ini digelar Sabtu, 24 Oktober 2025 dan didukung oleh Surakartans Lightning Kleb, Azas Production, Fasilitas Pemajuan Kebudayaan (FPK) dan Balai Pelestarian Budaya Wilayah X Daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta dalam rangka melestarikan bahasa Jawa melalui naskah drama.
Pentas ini menjadi jembatan antara budaya Sunda dan Jawa, sekaligus mengangkat isu kritik sosial yang relevan.
Jembatan Naskah Nusantara dan Seminar Bahasa Jawa
Baca Juga: Solo Street Art Market Jadi Magnet Wisata Malam, Bukti Seni Bisa Dinikmati Semua Kalangan
Acara ini diawali dengan seminar bertema "Menelisik Keberadaan Naskah Bahasa Jawa Hari Ini", yang dibawakan oleh Dr. Budi Waluyo (UNS) dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati.
Dwi Laily menyampaikan harapan agar kolaborasi ini meningkatkan kesadaran pelestarian bahasa Jawa.
“Kami harap para pendatang yang tergolong mahasiswa mau belajar bahasa Jawa. Begitupun dengan warga lokal yang kami harap bisa mengajari untuk seseorang yang ingin belajar bahasa Jawa,” ujarnya.
Tujuan Sutradara: Siapa Sebenarnya Maling?
Baca Juga: Seni Pertunjukan dan Kecakapan Abad 21: Transformasi Pembelajaran untuk Siswa
Achmad Dayari (Kang Aday), selaku sutradara dan pengaju proposal, membagikan tujuannya memproduksi pentas ini.
Ia ingin mengajak Prodi Teater ISI Surakarta untuk tidak terus mencari naskah Barat, melainkan melirik naskah-naskah Nusantara yang ada di sekitar.
Naskah "Maling" menceritakan Iswari, seorang perempuan yang dilanda kesulitan hidup: memiliki bayi, ekonomi yang terpuruk, dan lingkungan sosial yang tidak sehat.
Kang Aday mengajak penonton merenung: Siapa yang sebenarnya maling dalam kehidupan sehari-hari?
Apakah orang yang memiliki jabatan tinggi, ataukah orang-orang kecil yang dipaksa mencuri demi bertahan hidup?
Tantangan Emosi Antika Fitriyani
Antika Fitriyani, pemeran Iswari, membagikan suka dukanya memerankan tokoh yang menggambarkan kesulitan perempuan di zaman dulu hingga saat ini.
“Susahnya tuh, aku belum bisa menentukan emosi waktu aku ngomong sama orang. Soalnya yang dipikiran ku itu masih orang yang biasa aku temui sehari-hari, bukan si tokoh,” ujar Antika.
Pementasan yang dibalut musikalisasi ini berhasil membuat para penonton trenyuh, melihat ironi perjuangan perempuan di Indonesia. (mg1/dam)
Editor : Damianus Bram