SOLOBALAPAN.COM – Nama Wiji Thukul tetap menjadi simbol keberanian dan perjuangan rakyat kecil di Indonesia.
Penyair sekaligus aktivis yang lahir di Solo, 26 Agustus 1963, ini dikenal karena puisi-puisinya yang kritis terhadap ketidakadilan sosial dan rezim Orde Baru.
Meskipun menghilang secara misterius pada tahun 1998, karyanya tetap hidup dan menjadi inspirasi abadi bagi generasi muda.
Latar Belakang dan Kepekaan Sosial
Baca Juga: Lakon “Pasien No. 1”: Satir Keras dari Indonesia Kita Soal Kemerosotan Hukum
Wiji Thukul (nama asli Widji Widodo) lahir dari keluarga sederhana di kampung Sorogenen, Solo. Ayahnya adalah penarik becak.
Lingkungan sederhana ini membentuk kepekaannya terhadap ketimpangan sosial dan menumbuhkan empati terhadap rakyat kecil sejak usia muda.
Sejak muda, Wiji aktif menulis puisi dan mengikuti kegiatan teater rakyat. Ia kerap mengekspresikan kritik sosial melalui karya seni, yang kemudian menjadi fondasi perjuangannya di dunia aktivisme.
Pada Oktober 1989, Wiji menikah dengan Siti Dyah Sujirah (Sipon), seorang buruh, dan dikaruniai dua anak, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah.
Sipon adalah pendukung setia perjuangan Wiji sebagai aktivis. Sejak remaja, Wiji aktif menulis puisi dan teater rakyat, menggunakan seni sebagai fondasi kritik sosialnya.
Puisi Sebagai Alat Perlawanan Politik
Karya sastra Wiji Thukul bukanlah sekadar hiburan, melainkan medium perlawanan politik yang lugas dan emosional, sehingga mampu membangkitkan semangat kolektif untuk menentang ketidakadilan.
Pada 1994, buku kumpulan puisinya berjudul Mencari Tanah Lapang diterbitkan dengan kata pengantar dari sosiolog dan mantan aktivis 66, Arief Budiman.
Pada 2000, penerbit Indonesia Tera dari Magelang mengumpulkan hampir semua puisi Wiji yang pernah terbit dan menerbitkannya kembali dengan judul Aku Ingin Menjadi Peluru.
Salah satu puisinya yang paling mengharukan adalah Baju Loak Sobek Pundaknya, puisi sedih yang didedikasikan untuk istrinya, Sipon.
Dari puisinya lahir slogan-slogan yang melegenda, seperti “Hanya ada satu kata: lawan!”
Pelarian dan Kehilangan Misterius
Sejak tahun 1996, Wiji Thukul menjadi buron politik pemerintah Orde Baru karena aktivitasnya di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker) di bawah Partai Rakyat Demokratik (PRD).
Tragisnya, pada 1998, saat kerusuhan pecah, Wiji Thukul hilang secara misterius.
Namanya masuk dalam daftar orang hilang resmi pada tahun 2000, dan hingga kini, keberadaannya masih belum diketahui.
Meskipun telah lama hilang, puisi-puisi Wiji Thukul tetap relevan, terus dibaca, dipentaskan, dan menjadi pengingat abadi bahwa sastra adalah medium yang kuat untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan. (mg2/dam)
Editor : Damianus Bram