SOLOBALAPAN.COM – Fenomena overthinking atau berpikir berlebihan menjadi isu psikologis yang masif di kalangan generasi muda saat ini.
Melalui buku berjudul Overthinking is My Hobby, and I Hate It, penulis Alvi Syahrin menghadirkan sudut pandang yang jujur, membumi, dan dekat dengan keseharian pembacanya.
Alih-alih menawarkan teori rumit, Alvi Syahrin (diterbitkan Alvi Ardhi Publishing, 2023) menuliskan pengalamannya secara ringan.
Ia menggambarkan bagaimana pikiran yang terlalu aktif sering kali menjadi beban, namun juga bisa menjadi jalan untuk memahami diri sendiri.
Mengurai Pikiran yang Tak Pernah Berhenti
Alvi Syahrin dikenal sebagai penulis yang kerap membahas keresahan anak muda dengan bahasa sederhana.
Dalam buku setebal 268 halaman ini, ia berbicara bukan dari posisi guru, melainkan sebagai teman yang juga berjuang melawan pikirannya sendiri.
Melalui total 45 bab, Alvi menyoroti bagaimana pertanyaan seperti “Bagaimana kalau aku gagal lagi?” atau “Bagaimana jika aku tidak cukup baik?” sering kali menjadi awal dari pusaran overthinking yang melelahkan.
Buku ini mengajak pembaca untuk menelusuri akar dari setiap kekhawatiran. Menurut Alvi, mengenali sumber ketakutan adalah langkah pertama menuju penerimaan.
Pesan Inti: Bukan Solusi Instan, Tapi Proses Menerima
Salah satu nilai utama buku ini terletak pada pesan bahwa overthinking tidak bisa disembuhkan dengan cepat atau solusi instan.
Langkah terbaik bukanlah berusaha berhenti berpikir, melainkan memahami pikiran itu sendiri.
Overthinking muncul dari ekspektasi, tekanan sosial, dan kebiasaan membandingkan diri di era digital.
Proses penyembuhannya justru dimulai dengan kesadaran dan penerimaan, bukan penolakan.
Buku ini menggunakan bahasa ringan dan naratif yang mudah diikuti. Dengan self-care melalui membaca, Alvi mengajak pembaca untuk menata ulang cara berpikir dan berdamai dengan kenyataan bahwa pikiran yang sibuk pun bisa menjadi teman. (mg2/dam)
Editor : Damianus Bram