Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Menyelami Romansa Klasik: Ulasan Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck — Kritik Adat dan Cinta yang Terhalang Darah

Damianus Bram • Jumat, 31 Oktober 2025 | 00:18 WIB
Film
Film

SOLOBALAPAN.COM – "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" adalah karya sastra legendaris yang berhasil melampaui zamannya.

Diadaptasi ke layar lebar pada tahun 2013 oleh sutradara Sunil Soraya (Soraya Intercine Films), film ini bukan sekadar kisah cinta klasik, melainkan upaya menghidupkan kembali semangat moral dan kritik sosial dalam novel monumental karya Buya Hamka (diterbitkan 1938).

Dengan durasi hampir tiga jam, film ini berani menampilkan kemegahan visual era kolonial sambil mempertahankan esensi Hamka, yakni cinta yang terhalang struktur sosial yang mengekang.

Konflik Utama: Cinta yang Tunduk pada Adat

Baca Juga: Benarkah Desa Wanirejo di Film Zombie 'Abadi Nan Jaya' Itu Nyata? Lagi Jadi Sorotan, Ternyata Ini Faktanya

Kisah ini berpusar pada romansa tragis antara dua karakter utama, yakni:

Zainuddin (Herjunot Ali): Pemuda berdarah campuran Minangkabau-Bugis. Ia datang ke Padang Panjang dengan harapan diterima, namun status bukan Minang murni menjadikannya asing dan terpinggirkan.

Hayati (Pevita Pearce): Gadis Minang yang jatuh hati pada Zainuddin, tetapi cintanya harus tunduk pada adat dan kehendak keluarga ketika ia dijodohkan dengan Aziz (Reza Rahadian) yang lebih terpandang secara sosial.

Film ini dengan kuat menggambarkan bagaimana adat yang seharusnya menjaga kehormatan, justru bisa menjadi tembok pembatas bagi perasaan manusia, meninggalkan luka sosial yang mendalam pada Zainuddin.

Tragedi Kapal dan Simbolisme Takdir

Puncak kisah ini adalah tragedi ketika Kapal Van der Wijck tenggelam—sebuah peristiwa nyata yang terjadi di perairan Brantas, Jawa Timur, pada tahun 1936.

Dalam novel Hamka, tragedi ini diolah menjadi simbol kehancuran cinta dan kehidupan Zainuddin.

Sunil Soraya berhasil menampilkan konflik ini dengan sinematografi yang menghadirkan suasana melankolis.

Film ini sukses meraih lebih dari 1,7 juta penonton pada tahun perilisannya, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris di 2013.

Keberhasilan adaptasi film ini terletak pada kemampuannya menyeimbangkan romantika sinema modern dengan pesan moral klasik, mendorong banyak penonton generasi baru untuk membaca novel asli Buya Hamka. (mg2/dam)

Editor : Damianus Bram
#Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck #sastra #herjunot ali #pevita pearce #buya hamka