SOLOBALAPAN.COM – Nama HM. Nasruddin Anshoriy Ch., atau yang akrab disapa Gus Nas, adalah sosok langka di Indonesia.
Ia dikenal luas sebagai kiai, budayawan, dan penyair yang menjadikan kata-kata sebagai alat dakwah, kritik sosial, dan pengingat spiritual.
Gus Nas berhasil menjembatani dua dunia yang sering dipandang terpisah: dunia agama dan dunia sastra.
Akar Pesantren dan Puisi yang Memantik Kontroversi
Kecintaan Gus Nas terhadap sastra berawal saat ia mondok di Pesantren Al Muayyad, Solo, pada akhir 1970-an.
Di sana, ia mulai menulis puisi sambil melahap karya-karya ikonik seperti Chairil Anwar dan WS. Rendra.
Perpaduan pengalaman pesantren yang kental dengan bacaan sastra dunia inilah yang membentuk gaya puisinya: religius, kritis, sekaligus membumi.
Titik balik kariernya terjadi pada tahun 1983. Puisinya yang berjudul "Cakar-Cakar Garuda" memantik kontroversi tajam karena dinilai menyindir rezim Orde Baru.
Sejak saat itu, Gus Nas dikenal sebagai penyair yang berani bersuara lantang, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai spiritualitas.
Jejak Internasional dan Penghargaan Puisi Terbaik
Gus Nas tidak hanya fokus pada penulisan, tetapi juga aktif membangun ekosistem kreatif.
Pada 1984, ia mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Tebuireng, Jombang, yang berhasil menghubungkan dunia pesantren dengan seni pertunjukan.
Jejak sastra Gus Nas juga meluas hingga ke kancah internasional. Pada 1987, ia diundang sebagai pembicara di Southeast Asian Writer’s Conference di National University of Singapore.
Buku yang pertama, "Berjuang dari Pinggir" (1996), diterbitkan oleh Pustaka LP3ES Jakarta, menjadi tonggak penting dalam perjalanan kepenulisannya.
Ia juga menulis sejumlah seri buku tentang Strategi Ketahanan Nasional bersama Lemhannas.
Prestasi lain yang diraih Gus Nas, antara lain memenangkan lomba penulisan puisi tingkat Asia (1991), menerima penghargaan “New Voice of Asia," serta dinobatkan sebagai Penulis Puisi Terbaik Favorit oleh pembaca Republika dan pemirsa ANTV dalam perayaan 50 tahun kemerdekaan Indonesia (1995).
Maestro Dokumenter dan Dakwah Kemanusiaan
Sebagai seorang kiai, Gus Nas aktif membina masyarakat melalui majelis ilmu di Imogiri, Bantul.
Ia dikenal menyampaikan ajaran agama dengan sederhana dan membumi, menekankan bahwa Islam adalah soal kemanusiaan, keadilan sosial, dan empati.
Bagi Gus Nas, puisi dan sastra adalah media dakwah: sarana untuk menegur kemunafikan, membela rakyat kecil, dan merayakan keindahan spiritual.
Selain puisi, Gus Nas juga berkarya di dunia film dokumenter sebagai produser, sutradara, dan penulis naskah. Beberapa karyanya mengangkat tokoh-tokoh besar bangsa, antara lain:
"Mata Air Kebangsaan: Biografi Ki Hadjar Dewantoro"
"Sang Guru Bangsa: Biografi HOS Tjokroaminoto"
"Matahari Pembaruan: Biografi Kyai Ahmad Dahlan"
"Jejak Juang Sang Rais Akbar: Biografi Hadratus Sheikh Hasyim Asy’ari"
Ia juga kerap diundang sebagai keynote speaker di forum kebudayaan dan lingkungan dunia, seperti World Heritage Day (2017), World Culture Forum (2013), hingga konferensi internasional perubahan iklim ICOP-13.
Hal ini membuktikan peran Gus Nas sebagai maestro yang penuh inspirasi, mengingatkan bahwa kebenaran harus diperjuangkan dengan keberanian dan kedalaman spiritual. (mg2/dam)
Editor : Damianus Bram