SOLOBALAPAN.COM - Pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Mulai dari membeli makanan di warung, berbelanja di pasar, hingga membayar minuman di kedai kopi, semuanya bisa dilakukan dengan memindai kode QR melalui aplikasi pembayaran.
Namun, kemudahan tersebut juga perlu diikuti dengan kewaspadaan. Pada Rabu (14/10/2026), isu dugaan penyalahgunaan QRIS milik pedagang untuk transaksi judi online ramai diperbincangkan di media sosial.
Baca Juga: Tanpa Kulit, Ayam Pop Justru Punya Rasa Gurih yang Khas
Fenomena ini kembali mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyelesaikan pembayaran sebelum memeriksa informasi yang muncul di aplikasi.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengingatkan masyarakat mengenai risiko penyalahgunaan QRIS oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Salah satu langkah pencegahannya adalah memastikan nama pedagang atau merchant yang muncul setelah kode dipindai sesuai dengan tempat transaksi.
Lantas, apa saja yang perlu diperiksa sebelum membayar menggunakan QRIS?
Baca Juga: 4 Alasan Tok Dalang Selalu Bantu Keluarga Upin & Ipin Meski Bukan Saudara, Terungkap di Episode Ini
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah nama penerima pembayaran. Setelah memindai kode QR menggunakan aplikasi perbankan atau dompet digital, biasanya akan muncul informasi mengenai merchant yang menerima pembayaran. Periksa apakah nama tersebut sesuai dengan nama toko atau pedagang yang dituju.
Misalnya, seseorang hendak membayar makanan di sebuah warung, tetapi nama penerima yang muncul justru tidak berkaitan dengan usaha tersebut.
Kondisi seperti ini perlu dikonfirmasi terlebih dahulu kepada pedagang. Jangan langsung memasukkan PIN atau menekan tombol pembayaran hanya karena kode QR terpasang di meja kasir.
Nama merchant yang berbeda tidak otomatis membuktikan adanya penipuan. Beberapa usaha memang menggunakan nama pemilik atau nama badan usaha yang berbeda dari nama yang dikenal pelanggan.
Namun, apabila informasinya tidak sesuai dan pedagang tidak dapat memberikan penjelasan yang meyakinkan, sebaiknya tunda transaksi sampai kejelasannya diperoleh.
Baca Juga: Dukung Wellness Tourism, D-3 Bahasa Inggris SV UNS Gandeng Anaya Azana Tawangmangu
Selain nama penerima, periksa pula nominal pembayaran sebelum transaksi diselesaikan. Pastikan jumlah yang tertera sesuai dengan harga barang atau jasa yang dibeli. Langkah ini penting untuk menghindari kesalahan pembayaran, terutama ketika menggunakan kode QR dinamis yang dibuat untuk nominal transaksi tertentu.
Masyarakat juga perlu memastikan kode QR yang dipindai benar-benar berasal dari pedagang yang bersangkutan. Perhatikan apakah kode tersebut terlihat telah ditempeli stiker lain atau mengalami perubahan yang mencurigakan.
Jika menemukan sesuatu yang tidak wajar, tanyakan langsung kepada pedagang dan gunakan kode pembayaran yang telah dikonfirmasi keasliannya.
Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak melanjutkan transaksi apabila menemukan informasi yang tidak sesuai dengan profil merchant atau tujuan pembayaran.
Pedagang pun diingatkan untuk memeriksa QRIS miliknya secara berkala dan memastikan kode pembayaran tidak diganti oleh pihak yang tidak berwenang.
Lalu, bagaimana jika pembayaran telanjur dilakukan dan muncul dugaan bahwa QRIS tersebut bermasalah?
Simpan bukti transaksi, termasuk tangkapan layar yang menunjukkan nominal, waktu pembayaran, dan nama penerima.
Setelah itu, segera hubungi penyedia jasa pembayaran yang digunakan, baik bank maupun penyedia dompet digital, melalui saluran layanan resmi. Jelaskan kronologi kejadian dan ikuti petunjuk untuk menyampaikan pengaduan.
Jika terdapat indikasi penipuan atau penggantian kode pembayaran tanpa izin, pedagang maupun konsumen dapat mempertimbangkan pelaporan kepada pihak berwenang.
Hindari menghapus bukti transaksi atau menyebarkan data pribadi secara terbuka ketika membagikan pengalaman di media sosial.
Meski isu penyalahgunaan QRIS perlu diwaspadai, masyarakat tidak perlu langsung menghindari seluruh pembayaran menggunakan kode QR.
QRIS merupakan standar pembayaran digital yang dikembangkan untuk memudahkan transaksi. Persoalan yang perlu diantisipasi adalah penyalahgunaan kode, identitas merchant, atau tujuan pembayaran oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pada akhirnya, keamanan transaksi digital tidak hanya bergantung pada sistem pembayaran, tetapi juga kebiasaan pengguna saat melakukan pembayaran. Meluangkan beberapa detik untuk memeriksa nama penerima, nominal, dan kesesuaian informasi dapat membantu mengurangi risiko salah transfer atau pembayaran kepada pihak yang tidak semestinya.(lut)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Bank Indonesia, Berbagai Sumber