SOLOBALAPAN.COM - Sejak 2004, Narwan, 41 tahun, menjalani kesehariannya sebagai kuli panggul di Pasar Gede, Solo. Setiap pagi, ia berangkat dari rumahnya di Mbejen, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, menuju Pasar Gede. Pekerjaan itu telah menjadi bagian dari kehidupannya selama lebih dari dua dekade.
Sebelum menjadi kuli panggul, Narwan bekerja sebagai kuli buah. Kini, setiap pagi ia mulai bekerja sekitar pukul 05.30 hingga pukul 10.00. Berbagai jenis sayuran menjadi barang yang biasa ia angkut, mulai dari sawi, lotus, kailan, hingga paprika.
Sekali menggendong, Narwan biasanya mendapatkan upah minimal sekitar Rp5.000. Namun, untuk pesanan dari pedagang atau bos besar, upah dapat dihitung berdasarkan tonase barang yang diangkut.
Selama bekerja, Narwan menggunakan tenaga dan tperalatan sederhana berupa troli dorong untuk memudahkan pekerjaannya. Dahulu ia menggunakan keranjang untuk membawa sayuran. Namun, cara tersebut membuat pinggangnya sakit. Ia kemudian beralih menggunakan alat dorong, tetapi justru mengalami saraf terjepit. Kini, ia mengombinasikan keduanya agar pekerjaan mengangkut sayuran tetap bisa dilakukan.
Kemampuan fisik Narwan dalam mengangkut barang juga tidak sedikit. Ia mengingat pernah menggendong sayuran dengan berat mencapai 126 kilogram dalam sekali angkut.
Namun, menjadi kuli panggul tidak selalu tentang kekuatan fisik. Ada tanggung jawab yang harus ia jalankan ketika barang yang dibawa tidak sesuai dengan pesanan pedagang.
Pesanan sayuran biasanya disampaikan pedagang kepada bos sayur melalui nota. Catatan tersebut kemudian menjadi acuan barang yang harus disiapkan. Jika ada tambahan pesanan, pedagang dapat menyampaikannya melalui telepon atau pesan suara.
Narwan mengaku salah satu dukanya ketika bekerja adalah ketika barang hilang, kurang, atau tidak sesuai dengan pesanan.
“Kalau ada barang yang hilang, atau pedagang pesan ke bos kurang atau belum dibawain, komplainnya ke saya. Padahal saya cuma gendong, malah kita kena marah. Jadi harus ingat kalau naruh beberapa item,” ujar Narwan.
Baca Juga: Isi Libur Semester, Ratusan Pelajar dan Mahasiswa Luar Daerah Serbu Wisata Kuliner Pasar Gede Solo
Pengalaman lain yang masih membekas baginya terjadi ketika ia pernah membawa karak hingga terjatuh dan hancur. Pengalaman tersebut membuatnya sempat takut ketika harus kembali membawa karak.
“Dulu bawa karak jatuh, terus hancur. Mau ngasih uang tidak mau, dijual juga sudah hancur. Malah saya sudah menjurus ke phobia. Jadi kalau mau bawa karak takut,” tuturnya.
Meski pekerjaan sebagai kuli panggul memiliki berbagai tantangan, Narwan mengatakan dirinya mendapatkan keleluasaan dalam mengatur waktu ketika ada keperluan keluarga. Jika memiliki hajatan atau kepentingan tertentu, ia dapat mengambil waktu libur selama beberapa hari tanpa harus merasa khawatir dimarahi.
Di luar pekerjaannya di Pasar Gede, Narwan bersama istrinya, Sukini, 45 tahun, juga berjualan nasi goreng dan capcay di sekitar tempat tinggal mereka di Karangpandan. Usaha tersebut menjadi tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak mereka. Narwan dan Sukini memiliki tiga anak.
Setiap hari, keduanya membuka usaha makanan berupa nasgor, capcay dan lainnya, mereka mulai berjualan pukul 17.00 hingga sekitar pukul 21.00. Mereka tidak berjualan hingga larut malam karena keesokan harinya harus kembali bekerja di Pasar Gede.
“Buat membiayai anak kuliah, kita puter otak” kata Narwan mengenai alasan mereka menjalankan usaha tersebut.
Pekerjaan di Pasar Gede juga menjadi bagian dari kehidupan keluarga Narwan. Selain dirinya dan Sukini, adik keponakannya juga bekerja sebagai kuli panggul di pasar tersebut.
Selama puluhan tahun bekerja, Narwan telah menyaksikan berbagai perubahan di lingkungan Pasar Gede. Ia juga melihat bahwa banyak pekerja di pasar tersebut justru berasal dari luar Kota Solo.
Bagi Narwan, menjadi kuli panggul bukan sekadar pekerjaan mengangkat dan memindahkan barang. Pekerjaan tersebut menjadi salah satu cara untuk bertahan hidup sekaligus memenuhi kebutuhan keluarganya.
Setiap pagi, setelah menempuh perjalanan dari Karangpandan menuju Pasar Gede, Narwan kembali menjalani rutinitas yang telah ia lakukan selama 22 tahun. Mengangkat sayuran, memastikan barang sampai ke tujuan, kemudian pulang untuk kembali menjalankan kehidupan bersama keluarganya. (Nurul Fadila)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com