SOLOBALAPAN.COM- Kulit alpukat yang selama ini lebih sering berakhir sebagai limbah ternyata masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami untuk kain batik.
Melalui proses ekstraksi dan pencelupan, kulit alpukat dapat menghasilkan warna yang menempel pada serat kain.
Pemanfaatan tersebut dilakukan oleh Maya Oktaviana, mahasiswa Program Studi Kriya, ISI Surakarta. Eksperimen ini berangkat dari keinginannya mencari alternatif pewarna dari bahan alam sekaligus memanfaatkan limbah organik yang masih memiliki nilai guna.
Baca Juga: Kenapa Parfum Cepat Hilang? Ini Faktor yang Memengaruhi Ketahanan Aroma
Maya mengatakan penggunaan pewarna sintetis dalam jumlah besar dapat menghasilkan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, terutama jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu, ia mencoba memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan, salah satunya limbah kulit alpukat dari penjual jus.
“Pewarna sintetis itu tidak ramah lingkungan. Kalau limbahnya banyak bisa merusak sungai, jadi eksperimen ini mencari alternatif pewarna dari alam, paling tidak mengurangi limbah. Kulit alpukat juga kalau tidak dimanfaatkan akan menjadi limbah organik,” ujar Maya.
Dalam percobaan tersebut, sebanyak 235 gram kulit alpukat yang diperoleh dari penjual jus dibersihkan dari sisa daging buah, dicuci, kemudian dipotong kecil-kecil. Kulit tersebut kemudian direbus menggunakan 1,2 liter air selama 60 menit dengan tambahan soda ash.
Baca Juga: Kuning, Gurih, Bikin Sehat: Saatnya Nasi Jagung Ambil Alih Piringmu!
Ekstrak kulit alpukat selanjutnya didiamkan semalaman dan disaring sebelum digunakan untuk proses pewarnaan. Kain yang telah melalui proses scouring dan pra-mordan kemudian dicelup menggunakan ekstrak tersebut sebanyak lima kali. Setiap pencelupan dilakukan selama 20 menit, kemudian kain ditiriskan selama 20 menit.
Hasil percobaan menunjukkan kain sudah mampu menyerap warna sejak pencelupan pertama.
Baca Juga: 5 Transportasi Indonesia yang Kini Tinggal Kenangan, Ada Bajaj Oranye hingga Oplet
Setelah proses pewarnaan, dilakukan fiksasi menggunakan tawas dan tunjung. Kain dengan fiksasi tawas menghasilkan warna coklat kemerahan, sedangkan fiksasi tunjung menghasilkan warna coklat tua yang cukup pekat.
Namun, hasil pewarnaan tersebut masih mengalami kendala pada tahap akhir. Maya mengatakan sebagian warna mengalami pelunturan ketika kain melalui proses ngelorod.
“Hasil tersebut ada kesalahan saat ngelorod, akhirnya warnanya banyak yang luntur,” ujar Maya.
Percobaan tersebut menunjukkan bahwa kulit alpukat dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif bahan pewarna alami untuk kain. Selain menghasilkan warna, pemanfaatan ini juga memberikan nilai guna baru terhadap limbah organik yang berasal dari aktivitas sehari-hari.
Bagi Maya, eksperimen tersebut menjadi bagian dari upaya mencari bahan pewarna alternatif yang berasal dari alam sekaligus memanfaatkan limbah yang sebelumnya belum digunakan secara optimal. (Nurul Fadila)
Editor : Kabun Triyatno