Bukan Cuma Bikin Panas, El Niño Ternyata Bisa Bikin Harga Makanan Naik

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 06:24 WIB
Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat sedang terjadi pada 2026. Kondisi ini membuat musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat dan berdampak pada sektor pangan. (Pinterest)
Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat sedang terjadi pada 2026. Kondisi ini membuat musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat dan berdampak pada sektor pangan. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - El Niño selama ini mungkin lebih sering dikenal sebagai fenomena yang membuat cuaca Indonesia menjadi lebih panas dan kering. Namun, dampaknya ternyata tidak berhenti pada soal suhu.

Fenomena iklim ini juga dapat mengganggu pertanian dan pada akhirnya berpotensi memengaruhi harga berbagai bahan makanan.

Baca Juga: Alasan FIFA Pangkas Hadiah Juara ASEAN Cup 2026, Terkendala Penjualan Hak Siar di Asia Tenggara

Hal tersebut kembali menjadi perhatian pada 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Niño dengan intensitas sangat kuat sedang terjadi di Indonesia.

Bersamaan dengan itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpengaruh terhadap berkurangnya curah hujan.

Kondisi tersebut membuat musim hujan 2026/2027 diprediksi datang lebih lambat. BMKG memperkirakan sebanyak 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami awal musim hujan yang mundur dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan baru memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Bahkan, durasi musim hujan juga diprediksi lebih pendek dari kondisi normal pada 482 Zona Musim yang mencakup sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia.

Lalu, apa hubungannya dengan harga makanan?

Sederhananya, pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air. Ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang dan hujan datang terlambat, petani dapat menghadapi kesulitan menentukan waktu tanam.

Baca Juga: Menakar Khasiat Telur Bebek Asin vs Telur Ayam Rebus untuk Asupan Protein Harian

Tanaman yang membutuhkan cukup air juga berisiko mengalami gangguan pertumbuhan apabila kondisi kering berlangsung terlalu lama.

BMKG sendiri merekomendasikan sektor pangan untuk menyesuaikan jadwal tanam dan menggunakan varietas tanaman dengan siklus lebih pendek sebagai salah satu langkah menghadapi kondisi tersebut.

Jika produksi suatu komoditas terganggu, jumlah hasil panen yang tersedia di pasar dapat ikut terdampak. Ketika pasokan berkurang sementara permintaan tetap ada, harga secara teori dapat memperoleh tekanan untuk meningkat. Namun, kenaikan harga tidak otomatis terjadi hanya karena El Niño. Stok, distribusi, kebijakan pemerintah, biaya produksi, impor, hingga kondisi pasar juga ikut menentukan harga pangan.

Dampaknya pun tidak hanya menyangkut satu jenis makanan.

Baca Juga: PUBG MOBILE x One-Punch Man Resmi Hadir, Saitama Hingga Garou Masuk Battleground

Laporan terbaru mengenai El Niño 2026 menunjukkan sejumlah komoditas pertanian di Asia Tenggara menghadapi risiko akibat kekeringan dan perubahan pola hujan.

Beras dan minyak sawit menjadi dua komoditas yang mendapat perhatian karena Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya merupakan bagian penting dari rantai pasok komoditas tersebut.

Di Indonesia sendiri, dampak terhadap sektor pertanian sudah menjadi perhatian BMKG. Dalam laporan prediksi musim hujan 2026/2027, BMKG menyebut kondisi kering yang lebih panjang perlu diantisipasi sektor pangan.

Saat ini, 556 Zona Musim yang mencakup 61,91 persen luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau. Beberapa wilayah bahkan telah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari.

Kondisi tersebut juga dapat berpengaruh pada komoditas yang tidak langsung terlihat berkaitan dengan cuaca. Misalnya, sawit membutuhkan kondisi produksi yang mendukung agar hasil perkebunan tetap terjaga. Gangguan produksi dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku minyak nabati dan berbagai produk turunannya.

Bukan hanya pertanian darat yang perlu diperhatikan. El Niño yang menyebabkan kondisi lebih panas dan kering juga dapat memengaruhi perairan dan sektor perikanan di sejumlah wilayah Asia. Laporan terbaru mengenai kondisi El Niño 2026 menyebut penurunan hasil tangkapan ikan di beberapa wilayah Asia turut menjadi salah satu dampak yang dikhawatirkan.

Karena itu, El Niño sebenarnya memiliki rantai dampak yang cukup panjang. Fenomena yang bermula dari perubahan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik dapat memengaruhi pola hujan, kemudian berdampak pada ketersediaan air, pertanian, hasil panen, distribusi pangan, hingga kondisi pasar.

Meski demikian, masyarakat tidak perlu langsung menganggap semua harga makanan akan melonjak. Dampak El Niño berbeda-beda pada setiap komoditas dan wilayah. Persediaan pangan yang cukup, kebijakan pemerintah, serta kemampuan petani beradaptasi juga dapat membantu mengurangi tekanan terhadap pasokan.

Yang jelas, El Niño 2026 bukan sekadar persoalan cuaca panas. Ketika hujan datang terlambat dan kemarau berlangsung lebih panjang, dampaknya bisa merambat jauh hingga ke sektor pangan.

Jadi, kalau beberapa bulan ke depan harga bahan makanan tertentu mengalami perubahan, cuaca dan kondisi produksi pertanian menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan.(Luthfiana Sekar)

Editor : Luthfiana Sekar
pangan el nino bmkg