Saat ini, Pertalite masih dipatok pada harga subsidi Rp10.000 per liter, sedangkan Pertamax bertahan di angka Rp15.950 per liter. Terciptanya selisih harga yang mencapai Rp5.950 per liter ini memaksa para komuter dan pekerja berpenghasilan setara Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMR) memutar otak demi menjaga efisiensi anggaran hariannya.
Baca Juga: Resmi Turun Mulai Hari Ini! Cek Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru per 1 Agustus 2026
Hal tersebut dirasakan langsung oleh warga di kawasan aglomerasi Solo Raya meliputi Kota Solo, Sukoharjo, Karanganyar, Klaten, Boyolali, Sragen, hingga Wonogiri. Samuel Christ, 22, seorang karyawan swasta asal Sukoharjo, mengaku harus menerapkan strategi pengisian BBM kombinasi agar pengeluaran bulanan tidak membengkak.
"Harga Pertamax masih tergolong tinggi untuk pengeluaran harian. Jadi solusinya diselang-seling, sesekali isi Pertalite dan kalau ada anggaran lebih baru isi Pertamax," ujar Samuel. Ia berharap Pertamina dapat memberikan penyesuaian harga yang lebih ramah kantong pada awal September mendatang.
Kondisi senada diungkapkan Prasetyawan, warga Boyolali. Dia terpaksa beralih ke pertalite untuk mengisi BBM kendaraannya. Sebab, kalau tetap diisi dengan pertamax tentu akan berdampak pada operasional harian. "Gaji saya terkuras untuk beli pertamax," ujar karyawan salah satu perusahaan swasta di Solo ini.
Berdasarkan pemantauan di SPBU wilayah Solo Raya dan Jawa Tengah pada Rabu (26/8/2026), berikut rincian harga BBM Pertamina yang berlaku:
- Pertalite (RON 90): Rp10.000 per liter
- Pertamax (RON 92): Rp15.950 per liter
- Pertamax Green 95: Rp16.600 per liter
- Pertamax Turbo (RON 98): Rp18.300 per liter
- Dexlite: Rp19.700 per liter
- Pertamina Dex: Rp21.150 per liter
- Biosolar Subsidi: Rp6.800 per liter
Kondisi harga yang bertahan ini menunjukkan bagaimana dinamika pasar BBM non-subsidi berdampak langsung pada kebiasaan serta keputusan ekonomi masyarakat lokal dalam memilih jenis bahan bakar kendaraan operasional sehari-hari. (angelyna fransiska meia)
Editor : Kabun Triyatno