SOLOBALAPAN.COM - “Nanti aku transfer ya.” Kalimat seperti itu rasanya sudah tidak asing setelah makan atau nongkrong bersama teman.
Satu orang membayar lebih dulu, lalu yang lain mulai menghitung pesanannya masing-masing.
Ada yang hanya memesan minuman. Ada yang makan lengkap. Ada pula yang ikut patungan untuk makanan yang dipesan bersama.
Baca Juga: Paras Newyence dan Chrystal Jadi Sorotan, Banyak yang Mengira Hanya Efek Filter
Beberapa tahun lalu, situasi semacam ini bisa terasa sedikit sungkan. Meminta teman membayar sesuai pesanannya kadang dianggap terlalu perhitungan.
Membagi rata juga tidak selalu terasa adil, terutama ketika isi pesanan setiap orang berbeda.
Sekarang, menghitung tagihan masing-masing sudah menjadi hal yang lebih biasa. Tidak perlu banyak basa-basi. Pesan apa, bayar itu.
Baca Juga: Diva Azzura Ulang Tahun ke-24, Momen Surprise dari Na Daehoon Banjir Pujian
Perubahan kecil ini menarik jika dilihat dari kebiasaan mengatur uang. Ketika pengeluaran semakin mudah dibagi, seseorang juga lebih mudah melihat berapa uang yang benar-benar ia keluarkan untuk sebuah kegiatan.
Pesan Apa, Bayar Itu
Bayangkan empat orang makan bersama. Satu orang memesan nasi dan minuman, satu lagi hanya memesan kopi, sementara dua lainnya memilih makanan yang berbeda.
Kalau tagihan langsung dibagi rata, semua orang membayar nominal yang sama. Padahal, isi piring dan gelas masing-masing jelas berbeda.
Baca Juga: Pistachio Kian Digemari, Bukan Sekadar Pelengkap Dessert
Selisihnya mungkin hanya beberapa ribu rupiah. Tidak terlalu terasa untuk sekali makan. Namun, situasi yang sama bisa muncul lagi ketika makan bersama berikutnya, lalu saat nongkrong di tempat lain.
Split bill membuat hitung-hitungan itu lebih sederhana. Setiap orang membayar sesuai pesanannya. Untuk makanan yang dimakan bersama, tinggal dibagi sesuai kesepakatan.
Tidak ada yang harus merasa membayar terlalu banyak, dan tidak ada pula yang perlu sungkan meminta bagian tagihan kepada teman sendiri.
Pengeluaran Kecil yang Sering Lewat Begitu Saja
Uang tidak selalu habis karena membeli sesuatu yang mahal. Kadang justru keluar sedikit demi sedikit.
Secangkir kopi setelah kuliah. Makan malam sepulang kerja. Minuman ketika bertemu teman. Besoknya, mungkin ada pengeluaran serupa lagi.
Sekali keluar, nominalnya terasa biasa. Karena itu, pengeluaran seperti ini sering tidak terlalu dipikirkan.
Ketika membayar sesuai pesanan, nominal yang keluar menjadi lebih jelas. Seseorang bisa langsung tahu berapa uang yang habis untuk makan hari itu.
Baca Juga: Saat Fatherless Bukan Sekadar Tidak Punya Ayah
Dari sana, keputusan berikutnya bisa berubah. Kalau minggu ini sudah beberapa kali makan di luar, mungkin ajakan nongkrong berikutnya dipikirkan lagi.
Kalau sedang ingin menghemat, memilih menu yang lebih murah juga menjadi pilihan.
Bukan soal tidak boleh mengeluarkan uang untuk bersenang-senang. Hanya saja, setiap pengeluaran punya tempatnya sendiri dalam isi dompet.
Tinggal Transfer, Urusan Selesai
Kebiasaan split bill juga semakin mudah karena cara membayar sudah berubah.
Dulu, satu orang yang membayar tagihan harus menerima uang tunai dari beberapa teman. Ada yang membawa uang pecahan besar, ada yang tidak punya uang pas, ada pula yang baru sadar dompetnya tertinggal di rumah.
Sekarang, situasinya lebih sederhana.
Satu orang bisa membayar seluruh tagihan lebih dulu. Setelah itu, teman-temannya mengirim uang sesuai bagian masing-masing melalui transfer atau pembayaran digital.
Yang membeli kopi membayar harga kopinya. Yang memesan makanan lengkap mengirim lebih banyak. Tidak perlu mencari pecahan atau menghitung kembalian di meja makan.
Ponsel menjadi bagian kecil dari urusan tagihan. Begitu semua sudah mengirim, selesai.
Traktir Tetap Ada
Meski begitu, split bill bukan berarti kebiasaan mentraktir hilang.
Ada waktu ketika seseorang memang ingin membayar makanan temannya. Ulang tahun, mendapat kabar baik, atau sekadar ingin berbagi bisa menjadi alasan untuk mengambil seluruh tagihan.
Dalam situasi seperti itu, tidak ada yang sibuk menghitung harga minuman masing-masing. Traktir memang diberikan sebagai bentuk perhatian.
Ada pula momen ketika membayar sendiri terasa lebih nyaman. Apalagi jika sedang mengatur uang untuk kebutuhan lain.
Jadi, split bill dan traktir sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya hanya digunakan dalam situasi yang berbeda.
Baca Juga: Darjeeling Himalayan Railway, Jalur Kereta Warisan Dunia UNESCO yang Menembus Pegunungan Himalaya
Cara orang membayar setelah makan memang terlihat seperti urusan kecil. Namun, dari kebiasaan itu terlihat satu hal yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari: uang semakin sering dipertimbangkan sebelum dikeluarkan.
Mau makan di mana, memilih menu apa, sampai memutuskan ikut nongkrong atau tidak, semuanya bisa berujung pada pertanyaan sederhana tentang isi dompet.
Split bill tidak membuat orang menjadi lebih pelit. Bagi sebagian orang, cara ini justru membuat pengeluaran terasa lebih jelas dan tidak menyisakan rasa sungkan.
Setelah makanan habis dan meja mulai dibereskan, urusan tagihan pun tinggal satu hal: menghitung bagian masing-masing, lalu membayar. Sederhana. Tidak perlu canggung lagi. (Rahma Azra Calista)
Editor : Adi PrasSumber : Berbagai Sumber