Saat Gaji Tak Lagi Hanya untuk Diri Sendiri, Memahami Fenomena Sandwich Generation

Rahma Azra Calista • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 11:40 WIB
Ilustrasi anak yang membantu memenuhi kebutuhan finansial orang tua sebagai bagian dari tanggung jawab keluarga. (AI Generated)
Ilustrasi anak yang membantu memenuhi kebutuhan finansial orang tua sebagai bagian dari tanggung jawab keluarga. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Bagi sebagian pekerja, awal bulan bukan hanya tentang gaji yang akhirnya masuk ke rekening. Bersamaan dengan itu, daftar pengeluaran sudah menunggu. Uang bulanan untuk orang tua, biaya kuliah adik, atau kebutuhan rumah lebih dulu diselesaikan.

Kalau masih ada sisa, barulah uang itu disimpan atau dipakai untuk kebutuhan sendiri. Rutinitas seperti ini dijalani banyak orang di Indonesia.

Membantu keluarga sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ketika pengeluaran itu terus hadir setiap bulan dan menjadi penopang kebutuhan keluarga, mengatur keuangan tidak lagi sesederhana menyisihkan sebagian gaji untuk ditabung.

Baca Juga: Banyak Pilihan, Kenapa Justru Makin Sulit Memutuskan? Ternyata Ini yang Disebut FOBO

Situasi inilah yang dikenal sebagai sandwich generation. Istilah ini merujuk pada seseorang yang memenuhi kebutuhan dirinya sendiri sekaligus membantu anggota keluarga yang masih bergantung secara finansial.

Peran tersebut tidak hanya dijalani oleh mereka yang telah berkeluarga. Banyak anak muda yang baru memulai karier juga sudah menjadi penopang ekonomi di rumah.

Bentuknya pun beragam. Ada yang rutin mengirim uang kepada orang tua karena sudah tidak bekerja, ada yang membiayai kuliah adik hingga lulus, ada pula yang menanggung biaya pengobatan anggota keluarga. Cerita seperti ini mudah ditemukan di sekitar kita.

Baca Juga: Ingin Punya Foto Strip Aesthetic? Ini 6 Website Digital Photobooth yang Wajib Dicoba

Besarnya peran masyarakat usia produktif dalam menopang keluarga juga terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, BPS mencatat rasio ketergantungan Indonesia mencapai 45,05.

Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 penduduk usia nonproduktif, yakni anak-anak dan lanjut usia.

Angka tersebut memang bukan jumlah sandwich generation. Namun, data itu memberi gambaran bahwa masih banyak keluarga yang bergantung pada anggota keluarganya yang berada di usia produktif.

Baca Juga: Kenapa Bertemu Banyak Orang Bisa Menguras Energi? Ini Penjelasannya

Di tengah harga kebutuhan yang terus naik, mengatur keuangan menjadi pekerjaan yang tidak mudah.

Uang yang diterima setiap bulan harus dibagi untuk berbagai keperluan yang sama-sama penting, mulai dari kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan, hingga layanan kesehatan.

Dalam keadaan seperti itu, menabung atau menyiapkan dana darurat sering kali harus menunggu. Begitu pula rencana membeli rumah, membuka usaha, melanjutkan pendidikan, atau menyiapkan dana pensiun.

Baca Juga: Tiba-Tiba Tidak Aktif di Media Sosial, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bukan karena keinginan itu hilang, melainkan karena ada kebutuhan keluarga yang lebih dulu harus dipenuhi.

Meski begitu, membantu keluarga bukanlah sesuatu yang dipandang negatif. Dalam banyak keluarga Indonesia, hal tersebut menjadi bentuk tanggung jawab sekaligus balas budi kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendukung anak-anaknya hingga mandiri.

Di balik itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Semakin besar peran seseorang dalam menopang ekonomi keluarga, semakin kecil ruang yang dimilikinya untuk membangun kondisi keuangan sendiri.

Baca Juga: Kebiasaan Ini Bikin Pemakaian Skincare Tak Maksimal

Karena itulah, sandwich generation bukan sekadar istilah yang ramai dibicarakan, tetapi juga menjadi gambaran bagaimana perubahan ekonomi membuat masyarakat usia produktif memikul tanggung jawab yang semakin besar dalam keluarga.

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
Sandwich Generation keluarga gaji keuangan ekonomi