Suara Mirip Belum Tentu Asli, Kenali Modus Penipuan Berbasis AI

Rahma Azra Calista • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 18:10 WIB
Di era AI, suara yang terdengar begitu akrab belum tentu benar-benar berasal dari orang yang kita kenal. Kewaspadaan dan kebiasaan memverifikasi informasi menjadi langkah sederhana untuk menghindari penipuan digital. (AI Generated)
Di era AI, suara yang terdengar begitu akrab belum tentu benar-benar berasal dari orang yang kita kenal. Kewaspadaan dan kebiasaan memverifikasi informasi menjadi langkah sederhana untuk menghindari penipuan digital. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Suara di seberang telepon itu terdengar begitu akrab. Dengan nada panik, ia mengaku sedang mengalami musibah dan meminta segera dikirimkan sejumlah uang.

Dalam situasi seperti itu, banyak orang mungkin akan langsung percaya. Padahal, suara yang terdengar begitu meyakinkan belum tentu berasal dari orang yang sebenarnya.

Skenario seperti itu kini bukan lagi sekadar imajinasi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) mengingatkan masyarakat agar mewaspadai penyalahgunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam berbagai modus penipuan.

Baca Juga: Unggahan Terakhir Yanto Idorway Presenter TVRI Bikin Merinding Usai Ditemukan Meninggal Hanyut di Sungai Memti

Salah satunya melalui voice cloning, teknologi yang mampu meniru suara seseorang, serta deepfake yang dapat membuat wajah atau video tampak seolah-olah asli.

Dengan bantuan teknologi tersebut, pelaku dapat menyamar sebagai anggota keluarga, teman, rekan kerja, bahkan tokoh tertentu untuk memperoleh kepercayaan korban.

Modus penipuan pun ikut berkembang. Jika dulu pelaku lebih sering mengandalkan pesan singkat, tautan palsu, atau akun media sosial palsu, kini mereka memanfaatkan AI agar aksinya terlihat semakin meyakinkan. Yang disasar bukan hanya kelemahan sistem keamanan, tetapi juga kepanikan korban.

Baca Juga: Cancel Culture di Media Sosial: Antara Kontrol Sosial dan Penghakiman Publik

Ancaman tersebut terlihat dari data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) di bawah koordinasi OJK. Sejak mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 31 Mei 2025, IASC menerima 135.397 laporan penipuan dengan total kerugian yang dilaporkan mencapai sekitar Rp 2,6 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 163,3 miliar dana korban berhasil diblokir sebagai upaya penyelamatan. Angka tersebut menunjukkan bahwa penipuan digital masih menjadi persoalan serius dan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi.

Kemajuan AI memang membawa banyak manfaat. Namun, teknologi yang sama juga dimanfaatkan sebagian pelaku untuk menjalankan berbagai modus penipuan yang semakin sulit dikenali. Lantas, seperti apa modus yang perlu diwaspadai?

1. Mengaku sebagai Orang Terdekat

Salah satu modus yang mulai banyak dibicarakan adalah pelaku menghubungi korban menggunakan suara yang sangat mirip dengan anggota keluarga atau orang terdekat. Misalnya, pelaku mengaku sebagai anak yang ponselnya rusak sehingga menggunakan nomor baru.

Baca Juga: Red Flag dan Green Flag, Istilah yang Makin Populer di Kalangan Gen Z

Tak lama kemudian, ia bercerita sedang mengalami kecelakaan, membutuhkan biaya rumah sakit, atau kehilangan dompet dan meminta uang segera ditransfer.

Karena suara yang terdengar sangat mirip dan situasinya terasa mendesak, tidak sedikit korban yang langsung percaya tanpa sempat memastikan kebenarannya.

Modus semacam ini menunjukkan bahwa pelaku tidak hanya mengandalkan kecanggihan AI, tetapi juga memanfaatkan rasa panik dan kepedulian korban terhadap orang yang mereka sayangi.

Baca Juga: Di Balik Iming-iming Cuan Instan, Judi Online Menyisakan Kerugian Finansial

Itulah sebabnya, setiap permintaan yang berkaitan dengan uang atau data pribadi sebaiknya selalu dipastikan terlebih dahulu melalui nomor telepon atau saluran komunikasi lain yang biasa digunakan.

2. Memanfaatkan Kepanikan Korban

Teknologi AI hanyalah alat. Yang sebenarnya dimanfaatkan pelaku adalah respons emosional korban. Penelitian berjudul Hubungan Literasi Digital, Paparan Video Deepfake yang Dihasilkan AI, dan Kemampuan untuk Mengidentifikasi Deepfake pada Generasi X menemukan bahwa konten hasil manipulasi AI mampu memengaruhi respons emosional seseorang.

Saat rasa panik, takut, atau iba muncul, seseorang cenderung mengambil keputusan lebih cepat sebelum sempat memeriksa kebenaran informasi yang diterima.

Baca Juga: Mengenal Bebot, Kikay, dan Kakaibabe, Tiga Gaya Makeup Filipina yang Tengah Tren

3. Mendesak Korban segera Mengirim Uang atau Data Pribadi

Setelah korban mulai percaya, pelaku biasanya meminta transfer uang atau meminta informasi penting, seperti kode OTP, PIN, maupun data perbankan.

Karena merasa sedang menghadapi situasi darurat, korban sering kali langsung menuruti permintaan tersebut tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Padahal, OJK mengingatkan masyarakat untuk tidak pernah memberikan data pribadi maupun informasi perbankan kepada siapa pun.

4. Jangan Percaya hanya Karena Suaranya Terdengar Mirip

Di era AI, suara yang terdengar sangat meyakinkan belum tentu benar-benar berasal dari orang yang kita kenal. Karena itu, jangan terburu-buru mengambil keputusan ketika menerima telepon atau video yang berisi permintaan mendesak.

Baca Juga: Iqbaal Ramadhan Banjir Pembeli saat Jual Gorengan di Latihan Pestapora Makassar

Jika memungkinkan, tutup telepon lebih dahulu lalu hubungi kembali melalui nomor yang biasa digunakan. Langkah sederhana ini dapat membantu memastikan apakah informasi yang diterima benar atau hanya rekayasa AI.

OJK juga mengingatkan bahwa dana korban penipuan umumnya berpindah dalam waktu yang sangat cepat. Karena itu, apabila seseorang menyadari telah menjadi korban penipuan, pelaporan sebaiknya segera dilakukan agar peluang penyelamatan dana masih terbuka.

Perkembangan AI akan terus menghadirkan berbagai inovasi yang memudahkan kehidupan. Namun, di balik kecanggihannya, masyarakat juga dituntut memiliki literasi digital yang semakin baik.

Baca Juga: Food Waste di Indonesia: Kebiasaan Sepele yang Berdampak Besar

Di tengah teknologi yang mampu meniru suara maupun wajah seseorang dengan sangat meyakinkan, kebiasaan sederhana untuk berhenti sejenak, memverifikasi informasi, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan dapat menjadi perlindungan pertama agar tidak menjadi korban penipuan berbasis AI.

Editor : Adi Pras
voice cloning ai deepfake literasi digital penipuan