Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Harga Minyak Dunia Turun, Harga BBM Nonsubsidi Diprediksi Bisa Turun Lagi? Prabowo Bilang Begini

Laila Zakiya • Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05 WIB
Pertamina menyebut kenaikan BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar dan berdampak kecil. (Dok. Raso)
Pertamina menyebut kenaikan BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar dan berdampak kecil. (Dok. Raso)

 

SOLOBALAPAN.COM — Angin segar berembus dari sektor energi internasional pasca-tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Penandatanganan memorandum yang mengakhiri ketegangan tersebut langsung berdampak pada merosotnya nilai komoditas minyak mentah global di bawah level USD 80 per barel setelah jalur krusial Selat Hormuz kembali dibuka.

Situasi melandainya pasar energi makro ini memicu pertanyaan di tengah masyarakat tanah air mengenai kemungkinan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax Series, untuk kembali mengalami penurunan dalam waktu dekat.

Baca Juga: Persebaya Bidik Gelar Juara di Musim Centenary, Bernardo Tavares Usung Misi Bismillah 2027

Proyeksi Optimistis dari Istana Negara

Merespons dinamika tersebut, Kepala Negara memandang pemulihan sektor energi ini sebagai peluang besar untuk memperkuat stabilitas domestik.

CEO Danantara Rosan Roeslani membeberkan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto sempat menyinggung perihal harga minyak dunia yang akhirnya turun imbas kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Menurut keterangan pasca-pertemuan dengan jajaran perbankan pelat merah, mantan Danantara tersebut menyampaikan pesan optimisme dari Presiden.

Prabowo, kata Rosan, berharap penurunan harga minyak dunia ini dapat menciptakan sentimen positif bagi ekonomi Indonesia. 

“Kita harus optimis ke depannya perekonomian kita akan berjalan baik, berjalan maju,” kata Rosan di Istana, pada Kamis (18/6/2026) .

Penurunan indikator makro ini diharapkan mereduksi tekanan inflasi nasional.

“Apalagi tadi disampaikan juga (oleh Prabowo), dengan kesepakatan dari Presiden Trump dan juga pemerintah Iran, harga minyak juga tadi disampaikan sudah menurun di bawah 80 (USD per barrel), dan harapannya ini juga akan memberikan sentimen yang positif terhadap perekonomian kita,” lanjutnya.

Kepastian Penurunan Harga BBM Non-Subsidi

Pihak otoritas sektor energi membenarkan adanya korelasi linear antara harga minyak mentah internasional dengan banderol BBM komersial di SPBU.

Juru Bicara Menteri ESDM, Dwi Anggia sempat mengatakan bahwa harga BBM non-subsidi diantaranya produk RON 92 Pertamax bisa kembali turun. Hal ini jika harga minyak dunia juga turun.

Langkah fluktuatif ini merujuk pada regulasi teknis yang mengacu pada angka keekonomian riil pasar.

"Apakah (Pertamax) bisa turun lagi? pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun. Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau, tidak terhindarkan harga BBM non-subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya," ujar Dwi Anggia, Rabu (17/6/2026).

Di sisi lain, jajaran Pertamina menegaskan bahwa evaluasi nilai jual varian nonsubsidi terus dimonitor secara reguler dengan mempertimbangkan kondisi makro masyarakat.

"Pada prinsipnya, harga BBM non-subsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah," terang Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun dalam siaran persnya, Kamis (18/6/2026).

Baca Juga: Filosofi 'Legenda Pribadi' dalam Novel The Alchemist Paulo Coelho

Sikap Kehati-hatian Pemerintah dan Evaluasi Rantai Pasok

Meski pasar menunjukkan tren melandai, penyesuaian tarif ritel di dalam negeri memerlukan perhitungan yang matang dan tidak dapat diubah secara instan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penurunan harga minyak dunia pascameredanya konflik di kawasan Timur Tengah belum serta-merta dapat langsung diterjemahkan menjadi penyesuaian harga BBM di pasar domestik.

Airlangga menekankan bahwa pemerintah masih memantau efektivitas pembukaan jalur logistik laut secara riil di lapangan.

"Pertama kan penandatanganan harapannya besok betul-betul bisa dilaksanakan. Dengan kembali terbukanya Selat Hormuz kan kita baru lihat penyesuaian terhadap harga lagi," ujar Airlangga .

Manajemen stok dan pengadaan yang sudah berjalan sebelumnya menjadi salah satu variabel penentu waktu penyesuaian tarif baru.

"Ini kan tidak otomatis, kita lihat juga implementasi daripada perjanjian perdamaian," lanjutnya.

Baca Juga: Jawa Gelap Gulita! PLN Buka Suara Bongkar Penyebab Mati Listrik Bergilir, Dua Pembangkit Raksasa Tumbang?

Mengapa Harga di SPBU Tidak Langsung Turun?

Dari sudut pandang pengamat ekonomi, harga jual BBM komersial di Indonesia dipengaruhi oleh banyak komponen struktural di luar harga minyak mentah murni.

“Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung, karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata, melainkan merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak,” kata kepala ekonom Bank Permata, Josua Pardede, Kamis (18/06/2026).

Josua memaparkan bahwa fluktuasi harian di pasar global tidak bisa langsung diterapkan di tingkat pengecer.

“Bukan langsung diteruskan sebagai penurunan harga di SPBU. Sementara untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian lebih mengikuti mekanisme pasar, tetapi tetap tidak bergerak harian karena memakai formula resmi dan pengawasan pemerintah; oleh karena itu, persoalan yang sesungguhnya bukan apakah harga BBM harus turun, melainkan seberapa transparan pemerintah dalam mengkomunikasikan komponen-komponen perhitungan harga tersebut kepada publik agar tidak mudah dipolitisasi,” sambungnya.

Adapun untuk kategori jaminan sosial seperti Pertalite dan Solar, harganya tetap dipastikan stabil guna memitigasi guncangan ekonomi pada masyarakat kelas menengah ke bawah. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#pertamina #harga minyak dunia #bbm