Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Ternyata Harga Pertamax Masih Bisa Turun dari Rp16.250, Anak Buah Bahlil Beber Syarat BBM Nonsubsidi Turun Harga

Laila Zakiya • Kamis, 18 Juni 2026 | 07:53 WIB
Pertamina menyebut kenaikan BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar dan berdampak kecil. (Dok. Raso)
Ilustrasi SPBU Pertamina yang menjual BBM Nonsubsidi. (Dok. Raso)

 

SOLOBALAPAN.COM — Kebijakan penyesuaian tarif bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang diberlakukan belakangan ini sukses menyita perhatian publik nasional.

Sejak 10 Juni 2026, PT Pertamina (Persero) telah menetapkan harga jual resmi Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter.

Kenaikan harga Pertamax ini ramai disorot publik lantaran dinilai terlalu signifikan dari harga sebelumnya yang hanya mencapai Rp12.300.

Kendati angka tersebut dirasa memberatkan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan angin segar mengenai potensi penurunan harga di masa depan.

Baca Juga: Selamat! Aktris Korea Nam Bo Ra Resmi Melahirkan Anak Pertama

Syarat Utama Penurunan Harga Pertamax dan Jenis Nonsubsidi Lainnya

Kementerian ESDM menegaskan bahwa banderol produk nonsubsidi bersifat sangat fleksibel dan sepenuhnya bergantung pada pergerakan pasar energi global.

Juru Bicara Menteri ESDM Dwi Anggia memastikan harga BBM nonsubsidi Pertamax akan ikut turun jika harga minyak dunia merosot.

Kepastian tersebut disampaikan secara terbuka kepada awak media dalam sebuah forum komunikasi resmi di ibu kota.

"Nah apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM nonsubsidi juga akan turun," beber Anggia dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (17/6).

Anggia menjelaskan hal sebaliknya juga bisa terjadi, apabila harga minyak dunia naik, maka harga BBM nonsubsidi harus menyesuaikan.

Ia menyampaikan harga BBM nonsubsidi di Indonesia memang menanjak. Anggia menyebut hal itu tak hanya terjadi di Indonesia, tapi di sejumlah negara lain kenaikan terjadi lebih dulu.

Kondisi eksternal yang tidak menentu memaksa para pelaku industri energi untuk bersikap realistis dalam menetapkan tarif. "Seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, ini para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian. Seperti itu. Jadi kalau ditanya akan turun nggak harga minyak dunia turun, pasti akan ada penyesuaian juga untuk penurunan harga BBM non-subsidi," imbuhnya.

Baca Juga: Mengapa Novel Animal Farm Karya George Orwell Tetap Relevan hingga Kini?

Kontradiksi Struk Viral Pertalite dan Harga Keekonomian Asli Pertamax

Di sisi lain, publik sempat digemparkan oleh beredarnya dokumen digital berupa bukti pembayaran di stasiun pengisian bahan bakar.

Namun, kini harga Rp16.250 tersebut ramai disorot publik lantaran disebut-sebut bukan sebagai harga asli Pertamax.

Kabar ini mencuat usai ramainya unggahan terkait struk harga asli Pertalite sebelum mendapatkan subsidi pemerintah.

Dokumen yang menjadi konsumsi viral tersebut menunjukkan angka yang mengejutkan bagi konsumen awam.

Dimana ramai struk pembelian pertalite di Pertmamina tertanggal 11 Juni 2026 yang menyebutkan harga pertalite sebelum di subsidi mencapai Rp.18.040 per liternya.

Harga ini sontak membuat publik gaduh karena harga asli Pertalite dinilai lebih mahal ketimbang Pertamax dengan RON lebih tinggi.

Merespons kegaduhan tersebut, manajemen badan usaha milik negara (BUMN) ini angkat bicara mengenai kalkulasi riil di pasar internasional yang jauh lebih tinggi.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengungkapkan bahwa akibat gejolak geopolitik global, harga riil Pertamax di pasar internasional saat ini sudah berada di level Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter.

Analisis serupa juga dipaparkan oleh pengamat energi nasional yang menghitung variabel makroekonomi saat ini. Senada dengan hal tersebut, Founder ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menyatakan bahwa dengan mempertimbangkan harga minyak dunia dan kurs rupiah, harga keekonomian ideal untuk BBM RON 92 memang berada pada kisaran Rp19.000 hingga Rp21.000 per liter.

Baca Juga: Kronologi Selebgram Nabila Zirus Viral, Istri Sah Kesal Suaminya Dipameri Foto Seksi Sang Selebgram, Begini Modusnya

Intervensi Pemerintah Demi Menjaga Daya Beli Konsumen

Dengan mengacu pada data keekonomian tersebut, nominal Rp16.250 yang berlaku saat ini sebenarnya masih berada di bawah angka pasar yang sesungguhnya.

Meskipun Pertamax merupakan kategori BBM non-subsidi, harga yang berlaku sekarang masih dipengaruhi oleh koordinasi antara Pertamina dan pemerintah untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian ke angka Rp16.250 dilakukan agar beban fiskal tetap kondusif namun tetap mempertimbangkan kemampuan ekonomi konsumen.

Jika harga benar-benar mengikuti mekanisme pasar sepenuhnya tanpa intervensi, maka Pertamax dipastikan akan lebih mahal daripada harga asli Pertalite yang sempat viral di angka Rp18.040 per liter.

Di sisi lain, untuk komoditas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat menengah ke bawah, otoritas menegaskan tidak akan ada perubahan tarif.

Pada saat yang sama, Anggia menyatakan bahwa BBM subsidi takkan mengalami kenaikan. Ia menyebut langkah itu diambil guna melindungi masyarakat yang dinilai rentan secara ekonomi.

"Inilah kebijakan Presiden untuk menjaga BBM subsidi tidak naik harganya, sesulit apapun kondisi geopolitik di luar sana, ini yang tetap dijaga," ucap dia.

Sebagai perbandingan, saat ini harga Pertamax Green 95 (RON 95) meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menjelaskan penyesuaian harga dilakukan dengan mempertimbangkan situasi geopolitik global serta pergerakan harga minyak di pasar internasional.

"Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujar Simon dalam unggahan akun Instagram @pertamina, Kamis (11/6).

Di tengah kenaikan Pertamax dan Pertamax Green, Simon menegaskan harga BBM subsidi tidak berubah. Ia memastikan harga Pertalite tetap dipatok Rp10 ribu per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter sebagaimana ketentuan pemerintah. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#bahlil #bbm nonsubsidi #pertamina #menteri esdm