SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Turunnya harga minyak mentah dunia dalam beberapa pekan terakhir belum diikuti penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di masyarakat mengenai mekanisme penetapan harga BBM yang dinilai tidak selalu sejalan dengan pergerakan harga minyak global.
Pakar Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, Anton Agus Setyawan, menilai harga BBM di Indonesia memang tidak dapat langsung turun hanya karena harga minyak dunia mengalami penurunan. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi kebijakan harga energi nasional.
“Penetapan harga BBM tidak hanya dipengaruhi harga minyak mentah dunia, tetapi juga nilai tukar rupiah, biaya distribusi, hingga kondisi fiskal pemerintah,” ujarnya.
Kenaikan Pertamax Berpotensi Dorong Migrasi ke Pertalite
Anton menjelaskan, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax berpotensi mendorong sebagian konsumen beralih ke BBM subsidi, khususnya Pertalite. Namun, menurutnya, langkah antisipasi telah dilakukan melalui penerapan sistem barcode untuk memastikan subsidi tepat sasaran.
“Yang sebelumnya menggunakan Pertamax itu pasti ada yang beralih ke Pertalite. Saya kira pengajuan barcode baru juga akan diperketat supaya migrasi masyarakat yang mampu ke BBM subsidi bisa dikendalikan,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi penyalahgunaan distribusi BBM subsidi apabila pengawasan tidak dilakukan secara ketat. Risiko penjualan ilegal maupun penyimpangan distribusi dinilai tetap perlu diwaspadai.
Biaya Transportasi dan Distribusi Berpotensi Naik
Menurut Anton, dampak paling nyata dari kenaikan harga BBM nonsubsidi adalah meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang. Meski sebagian kendaraan logistik masih menggunakan solar bersubsidi maupun biodiesel, kenaikan harga Pertamax tetap dapat memengaruhi aktivitas ekonomi.
“Kalau yang terjadi nanti kemungkinan kenaikan biaya transportasi manusia, misalnya tarif taksi online yang akan menyesuaikan. Untuk barang, efeknya pasti ada karena semua yang berkaitan dengan penggunaan Pertamax akan memengaruhi harga,” jelasnya.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga barang dan jasa sehingga perlu menjadi perhatian pemerintah dalam menjaga stabilitas inflasi.
Biodiesel B50 Dinilai Bisa Kurangi Ketergantungan Impor
Anton berharap pengembangan program biodiesel B50 dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.
Dengan meningkatnya pemanfaatan energi berbasis bahan baku domestik, pemerintah dinilai dapat mengurangi dampak gejolak harga minyak dunia terhadap perekonomian nasional sekaligus menjaga stabilitas harga energi.
Kelas Menengah Paling Terdampak
Lebih lanjut, Anton menilai kelompok masyarakat kelas menengah merupakan pihak yang paling merasakan dampak kenaikan harga BBM dan biaya hidup.
Baca Juga: Korsleting Listrik Dominasi Penyebab Kebakaran di Wonogiri Sepanjang 2026
Menurutnya, kelompok ini tidak memperoleh subsidi langsung dari pemerintah, namun tetap harus menanggung berbagai kewajiban seperti pajak kendaraan maupun pajak penghasilan.
“Kelas menengah itu yang paling terdampak. Mereka tidak mendapat subsidi langsung, sementara penghasilannya cenderung tetap. Dengan kenaikan biaya hidup, daya beli mereka makin tergerus,” ujarnya.
Ia menambahkan, meningkatnya tunggakan pajak kendaraan di sejumlah daerah dapat menjadi salah satu indikator tekanan ekonomi yang tengah dirasakan masyarakat kelas menengah.
Baca Juga: Acosta dan Aldeguer Jadi Ancaman Baru, Marc Marquez Siap Bekerja Lebih Keras
Pemerintah Diminta Perkuat Efisiensi Anggaran
Anton menilai pemerintah perlu lebih mengedepankan efisiensi anggaran untuk menjaga kesehatan fiskal negara dibanding menambah beban masyarakat melalui kebijakan yang berpotensi menekan daya beli.
“Pemerintah sebenarnya sudah tahu cara mengatasinya, yaitu melalui efisiensi. Program-program yang belum terlalu mendesak bisa dikurangi skalanya agar ruang fiskal tetap terjaga,” pungkasnya. (alf/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto