SOLOBALAPAN.COM – Junior Chamber International (JCI) Solo mencatatkan sejarah baru dengan menandatangani program Twinning Chapter Agreement atau kerja sama Sister Chapter bersama JCI Surigao, Filipina. Penandatanganan tersebut berlangsung dalam ajang Asia Pacific Conference (ASPAC) 2026 yang digelar di Kota Niigata, Jepang.
Kerja sama ini merupakan hasil penjajakan yang telah berlangsung selama dua tahun. Penandatanganan dilakukan oleh Presiden JCI Solo, Pulung Priyo Utomo, bersama Presiden JCI Surigao, Jair Balberan, disaksikan langsung oleh jajaran pimpinan JCI dunia dan nasional.
Pulung Priyo Utomo mengatakan Solo dan Surigao memiliki karakter yang berbeda, namun justru menjadi kekuatan dalam membangun kolaborasi yang saling menguntungkan.
“Solo dan Surigao mungkin berbeda pulau dan karakter. Namun justru perbedaan itu membuat kolaborasi ini menjadi menarik. Solo dikenal sebagai pusat budaya Jawa, pendidikan, dan UMKM, sementara Surigao memiliki kekuatan pada sektor sumber daya alam dan industri maritim,” ujarnya.
Kolaborasi Industri Nikel dan Manufaktur
Salah satu sektor yang menjadi fokus kerja sama adalah industri dan manufaktur. Surigao dikenal memiliki cadangan nikel terbesar di Filipina yang menjadi bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik (EV).
Di sisi lain, Solo memiliki ekosistem UMKM yang kuat serta didukung lembaga pendidikan vokasi dan perguruan tinggi yang memiliki kompetensi di bidang manufaktur.
Melalui kerja sama ini, kedua pihak melihat peluang transfer teknologi pengolahan nikel yang ramah lingkungan, pelatihan sumber daya manusia manufaktur dari Solo untuk mendukung industri hilirisasi nikel di Surigao, hingga pengembangan usaha bersama pada sektor komponen penunjang industri pertambangan.
Perkuat Kerja Sama Pendidikan dan Riset
Bidang pendidikan juga menjadi salah satu fokus utama. Solo memiliki sejumlah perguruan tinggi ternama seperti Universitas Sebelas Maret, Institut Seni Indonesia Surakarta, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sementara itu, Surigao memiliki Surigao del Norte State University.
Kerja sama yang direncanakan meliputi program pertukaran mahasiswa dengan fokus pada geologi, teknik pertambangan, dan kebudayaan. Selain itu, kedua pihak juga membuka peluang riset bersama terkait konsep green mining atau pertambangan berkelanjutan serta rehabilitasi lahan bekas tambang.
Promosi Pariwisata Budaya dan Alam
Di sektor pariwisata, Solo dikenal sebagai destinasi wisata budaya dengan kekayaan Keraton, batik, dan kuliner tradisional. Sementara Surigao memiliki potensi wisata alam, wisata bahari, serta festival budaya yang menjadi daya tarik wisatawan.
Melalui kerja sama ini, kedua kota berencana mengembangkan paket wisata bersama yang menghubungkan wisata budaya dan wisata alam. Pengrajin batik Solo berpeluang tampil dalam berbagai kegiatan budaya di Surigao, sedangkan pelaku wisata Surigao dapat mempelajari pengelolaan paket wisata budaya yang berkembang di Solo.
Program promosi silang juga dirancang dengan konsep “From Keraton to Nickel Coast” untuk memperkenalkan keunggulan masing-masing daerah kepada pasar internasional.
Dorong UMKM Tembus Pasar ASEAN
Pada sektor ekonomi, kerja sama diarahkan untuk memperluas akses pasar produk UMKM. Solo yang dikenal dengan produk batik, kerajinan kulit, dan furnitur memiliki peluang memperluas pasar ke Filipina melalui Surigao.
Selain itu, pelaku UMKM Solo juga berpeluang mendapatkan akses pelatihan pemasaran digital untuk memperkuat penetrasi pasar ASEAN. Sebaliknya, Surigao dapat memasok sejumlah bahan baku kerajinan yang dibutuhkan industri kreatif di Solo.
Fokus pada Lingkungan dan Energi Berkelanjutan
Kerja sama juga menyentuh aspek lingkungan hidup. Kedua wilayah memiliki tantangan lingkungan yang berbeda, mulai dari pengelolaan kawasan Sungai Bengawan di Solo hingga dampak aktivitas pertambangan di Surigao.
Karena itu, kedua pihak membuka peluang penelitian bersama terkait energi terbarukan, teknologi pengolahan limbah tambang, serta pengembangan kota berkelanjutan. Solo dapat berbagi pengalaman dalam pengelolaan kota budaya berkelanjutan, sementara Surigao memiliki potensi berbagi pengetahuan terkait pemanfaatan nikel sebagai komponen teknologi energi masa depan.
Hasil Penjajakan Dua Tahun
Pulung menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan hasil dari proses panjang yang telah dirintis oleh para presiden JCI Solo sebelumnya, yakni William Sandika dan Soni Suharyono.
Selama dua tahun terakhir, kedua organisasi melakukan serangkaian penjajakan dan evaluasi untuk memastikan seluruh program kerja sama memiliki peluang keberhasilan yang tinggi.
Menurutnya, proses tersebut juga mendapat dukungan dari Serra Argo Rianda, yang saat ini menjabat sebagai perwakilan Indonesia di tingkat global JCI dan berperan menjembatani kebutuhan kedua organisasi.
“Beruntung pada saat yang sama kita memiliki Serra Argo Rianda yang duduk sebagai perwakilan di JCI Global sehingga dapat menjembatani dan mempertemukan kebutuhan kedua organisasi untuk bekerja sama,” kata Pulung.
Penandatanganan Sister Chapter Agreement tersebut turut disaksikan oleh Alejandra Castillo selaku Presiden Dunia JCI dan Siegfried Listijosuputro.
Keduanya berharap kolaborasi antara Solo dan Surigao dapat menjadi contoh kerja sama internasional yang memadukan kekuatan budaya, sumber daya alam, dan pengembangan sumber daya manusia.
Melalui kemitraan ini, Solo diharapkan dapat memperluas jejaring internasional berbasis kreativitas dan budaya, sementara Surigao memperoleh dukungan pengembangan SDM dan ekonomi yang berkelanjutan. Kerja sama tersebut juga dinilai berpotensi menjadi langkah awal menuju hubungan yang lebih luas antara kedua kota di masa mendatang. (an)