SURAKARTA, SOLOBALAPAN.COM – Dosen Makro Mikro Ekonomi Budiyono, menyoroti fenomena paradoks dalam perdagangan internasional Indonesia. Di tengah surplus ekspor yang terus berlanjut, nilai tukar rupiah justru mengalami tekanan hingga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan lemahnya pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) serta belum efektifnya kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga pasokan dolar di pasar domestik.
Baca Juga: Harga Bahan Batik Naik, Aktivitas Belanja di Pasar Klewer Solo Tetap Ramai
Budiyono mendesak DPR RI segera memanggil Gubernur Bank Indonesia secara langsung sebagai langkah konkret untuk membahas persoalan tersebut secara terbuka dan substantif.
“Pemanggilan Gubernur BI oleh DPR harus menjadi langkah nyata untuk menguliti akar masalah moneter, bukan sekadar mendengar jawaban normatif lewat konferensi pers,” tegasnya.
Surplus Ekspor, Tapi Rupiah Justru Tertekan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$3,32 miliar. Surplus tersebut bahkan telah berlangsung selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Namun di sisi lain, kurs rupiah justru melemah hingga menembus Rp17.525 per dolar AS.
Budiyono menilai kondisi itu sebagai anomali besar dalam struktur ekonomi nasional. Menurutnya, besarnya nilai ekspor tidak otomatis memperkuat rupiah karena devisa hasil ekspor lebih banyak disimpan di luar negeri.
“Kita mengalami paradoks yang ironis. Volume dan nilai ekspor sangat besar, tetapi pasokan dolar di pasar domestik tetap kering,” ujarnya.
Baca Juga: Long Weekend Bikin Pasar Gede Solo Dipadati Wisatawan, Kuliner Legendaris Jadi Buruan
Ia menyebut banyak eksportir besar lebih memilih menempatkan dana valas mereka di pusat keuangan luar negeri seperti Singapura karena menawarkan imbal hasil lebih kompetitif.
Akibatnya, Bank Indonesia harus bekerja keras menjaga stabilitas rupiah dengan mengandalkan cadangan devisa negara yang disebut telah turun menjadi sekitar US$146,2 miliar.
Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat
Budiyono menilai pelemahan rupiah bukan hanya persoalan angka kurs, tetapi memiliki dampak langsung terhadap masyarakat, terutama kelompok ekonomi bawah.
Depresiasi rupiah menyebabkan harga barang impor, bahan baku pangan, hingga barang modal mengalami kenaikan. Kondisi tersebut memicu imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.601 per Dolar AS, Ini Penyebab Tekanan dari Dalam dan Luar Negeri
“Kelompok masyarakat bawah menjadi pihak yang paling menderita akibat lemahnya tata kelola valas ini,” katanya.
Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi untuk menahan arus modal keluar dinilai ikut menekan pelaku UMKM karena biaya kredit usaha menjadi semakin mahal.
Ia juga mengingatkan pelemahan rupiah akan meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri pemerintah dalam APBN.
Menurutnya, situasi tersebut berpotensi memaksa pemerintah mengambil kebijakan penghematan anggaran atau fiscal austerity yang justru bisa memperlambat perputaran ekonomi domestik.
“Ketika belanja pemerintah diketatkan, sirkulasi uang di masyarakat tersendat dan daya beli masyarakat ikut melemah secara sistemis,” tegasnya.
Usulkan Langkah Radikal
Baca Juga: Dewi Perssik Semprot Aldi Taher Soal Klaim Peran Ayah: Anak Saya Bukan Konsumsi Konten TikTok!
Menghadapi situasi tersebut, Budiyono meminta DPR RI lebih agresif menjalankan fungsi pengawasan terhadap kebijakan moneter dan pengelolaan devisa nasional.
Ia juga mengusulkan sejumlah langkah strategis, di antaranya menghentikan intervensi pasar yang dinilai tidak efektif agar cadangan devisa tidak terus terkuras.
Selain itu, pemerintah diminta segera menerbitkan aturan yang mewajibkan eksportir mengonversi sebagian devisa hasil ekspor ke dalam rupiah, bukan hanya menyimpannya di rekening valas domestik.
“Pemerintah harus punya regulasi tegas agar sebagian DHE benar-benar masuk ke pasar domestik dan memperkuat rupiah,” ujarnya.
Budiyono berharap pemerintah dan otoritas moneter segera mengambil langkah konkret agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin membebani perekonomian nasional dan masyarakat kecil. (an)
Editor : Andi Aris Widiyanto