SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada sejumlah sektor perdagangan, termasuk kenaikan harga bahan kain dan perlengkapan tekstil. Namun kondisi tersebut belum terlalu memengaruhi penjualan batik di Pasar Klewer Solo.
Sejumlah pedagang mengaku aktivitas jual beli masih berjalan stabil meski harga bahan baku perlahan mengalami kenaikan.
Salah satu pedagang batik di Pasar Klewer, Katmi, mengatakan penjualan di kios miliknya hingga kini masih cukup lancar. Ia mengaku belum merasakan dampak signifikan terhadap jumlah pembeli.
Baca Juga: Long Weekend Bikin Pasar Gede Solo Dipadati Wisatawan, Kuliner Legendaris Jadi Buruan
“Alhamdulillah masih lancar, tidak ada pengaruh ke penjualan,” ujarnya saat ditemui di kiosnya di Blok D82 Pasar Klewer Solo Jumat (15/5).
Katmi yang sudah berjualan sekitar tiga tahun di Pasar Klewer menjual berbagai produk batik, mulai dari kain batik, baju, daster, outer hingga blouse.
Menurutnya, dampak pelemahan rupiah lebih terasa pada kenaikan harga bahan kain dibandingkan penurunan daya beli masyarakat.
“Kalau kain naik selisih Rp5 ribu per meter. Satu gelondongan panjang dua meter naik sekitar Rp10 ribu,” jelasnya.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.601 per Dolar AS, Ini Penyebab Tekanan dari Dalam dan Luar Negeri
Selain kain, beberapa bahan penunjang produksi batik juga ikut mengalami kenaikan harga, meski masih dalam batas wajar.
“Untuk bahan Paris yang biasa itu naik sekitar Rp10 ribu,” tambahnya.
Meski suasana pasar pada hari biasa cenderung lebih sepi dibanding akhir pekan atau musim liburan, aktivitas transaksi masih tetap berjalan.
“Hari biasa ya sepi, tapi masih ada satu dua yang beli,” katanya.
Ia menyebut produk yang paling banyak dicari pembeli saat ini adalah pakaian batik untuk kebutuhan harian seperti daster, outer, dan blouse karena dinilai nyaman dipakai.
Budaya tawar-menawar juga masih menjadi ciri khas aktivitas perdagangan di Pasar Klewer.
Baca Juga: Dewi Perssik Semprot Aldi Taher Soal Klaim Peran Ayah: Anak Saya Bukan Konsumsi Konten TikTok!
“Masih banyak yang nawar, tapi ya sewajarnya,” ujarnya sambil tertawa.
Sementara itu, salah satu pengunjung asal luar kota bernama Mawar mengaku sengaja datang ke Pasar Klewer saat berlibur ke Solo untuk berburu batik dan tas.
“Lagi jalan-jalan ke Solo, sekalian mau beli baju batik sama tas,” ujarnya.
Menurut Mawar, Pasar Klewer masih menjadi destinasi belanja favorit karena pilihan produknya lengkap dan harga yang beragam.
Namun ia menilai kondisi pasar yang cukup padat terkadang membuat pengunjung merasa kurang nyaman saat berkeliling.
Baca Juga: Biodata Rangga Azies, Sosok Pria yang Pamer Foto Mesra dengan Dahlia Poland hingga Diduga Go Public
“Fasilitasnya cukup padat, struggle-nya panas,” katanya.
Ia berharap pengelola pasar dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung, misalnya dengan penambahan kipas angin dan penataan kios yang lebih rapi.
“Harapannya mungkin bisa ditambah kipas atau apa gitu, terus tokonya lebih tertata biar jalannya nggak susah,” tambahnya.
Pasar Klewer sendiri dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan batik terbesar di Kota Solo sekaligus destinasi wisata belanja yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Di tengah kenaikan harga bahan baku akibat tekanan nilai tukar rupiah, para pedagang berharap kondisi pasar tetap stabil dan daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan signifikan. (Lutfiana Sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto