Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Rupiah Tembus Rp17.601 per Dolar AS, Ini Penyebab Tekanan dari Dalam dan Luar Negeri

Andi Aris Widiyanto • Jumat, 15 Mei 2026 | 17:36 WIB
Doddy Setiawan Profesor di bidang Akuntansi Keuangan. (dok. pribadi)
Doddy Setiawan Profesor di bidang Akuntansi Keuangan. (dok. pribadi)

SOLOBALAPAN.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini menyentuh angka Rp17.601 per US$. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 5,39 persen dibandingkan posisi awal tahun 2026.

Level ini mengingatkan publik pada masa krisis moneter 1998 ketika rupiah juga sempat terpuruk tajam terhadap dolar AS. Meski demikian, kondisi saat ini dinilai memiliki perbedaan signifikan dibandingkan krisis 1998.

Pada krisis moneter 1998, nilai tukar rupiah anjlok drastis dari sekitar Rp2.500 menjadi Rp17.000 per dolar AS dalam waktu relatif singkat. Sementara pelemahan rupiah saat ini terjadi lebih bertahap dan masih lebih baik dibandingkan mata uang lain seperti peso yang melemah 10,72 persen serta baht Thailand sebesar 12,55 persen.

Baca Juga: Dewi Perssik Semprot Aldi Taher Soal Klaim Peran Ayah: Anak Saya Bukan Konsumsi Konten TikTok!

Secara umum, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi dua faktor utama, yakni faktor eksternal dan faktor internal.

Tekanan Eksternal dari Gejolak Global

Faktor pertama yang memberi tekanan besar terhadap rupiah berasal dari kondisi global, terutama memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Perang tersebut memicu ketidakstabilan politik di kawasan Timur Tengah sehingga meningkatkan kekhawatiran investor global. Dalam kondisi tidak menentu, investor cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman atau safe haven.

Akibatnya, banyak investor asing menarik modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.

Selain itu, penguatan dolar AS juga memperburuk kondisi rupiah. Dolar semakin diminati karena dianggap sebagai aset paling aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga: Biodata Rangga Azies, Sosok Pria yang Pamer Foto Mesra dengan Dahlia Poland hingga Diduga Go Public

Penguatan dolar turut dipengaruhi kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih mempertahankan suku bunga pada level tinggi. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas ekonomi AS di tengah dampak perang dan gejolak global.

Tingginya suku bunga The Fed membuat investor lebih tertarik menyimpan aset dalam bentuk dolar AS. Dampaknya, ruang bagi Indonesia untuk menurunkan suku bunga juga menjadi lebih terbatas karena harus menjaga daya tarik investasi domestik.

Tekanan lain datang dari terganggunya jalur perdagangan minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak mentah global yang dilalui sekitar 20 persen logistik minyak dunia.

Gangguan di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak signifikan. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia ikut terdampak karena kebutuhan dolar AS untuk impor energi semakin besar.

Baca Juga: Bezzecchi vs Jorge Martin Memanas di Catalunya, Aprilia Bidik Dominasi Lagi

Faktor Internal Turut Membebani Rupiah

Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kondisi dalam negeri.

Kenaikan harga minyak mentah membuat beban subsidi energi dalam APBN 2026 meningkat. Pemerintah sebelumnya menetapkan asumsi harga minyak sebesar US$70 per barel, sementara harga saat ini telah mendekati US$100 per barel.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan pembayaran impor minyak meningkat dan otomatis memperbesar permintaan dolar AS di dalam negeri.

Di sisi lain, arus modal asing keluar dari Indonesia juga meningkat sejak awal tahun. Investor asing tercatat mulai mengurangi investasi mereka di pasar domestik sehingga turut memberi tekanan pada rupiah.

Surplus perdagangan Indonesia juga mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski Indonesia masih mencatat surplus ekspor, nilai surplus tersebut menyusut akibat perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian pasar internasional.

Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Punya Modal Positif

Meski tekanan terhadap rupiah cukup besar, sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih menunjukkan sentimen positif.

Baca Juga: Nadiem Makarim Dituntut 18 Tahun Penjara, Deretan Artis hingga Anggota DPR Ramai Beri Simpati

Indonesia masih mampu mempertahankan surplus neraca perdagangan sepanjang 2026. Hal itu menunjukkan nilai ekspor nasional masih lebih tinggi dibandingkan impor.

Selain itu, tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi juga dinilai tetap baik. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen dibandingkan periode sebelumnya.

Kondisi pelemahan rupiah juga dapat menjadi peluang bagi sektor ekspor nasional. Produk Indonesia berpotensi menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri.

Jika dimanfaatkan dengan baik, situasi ini dapat mendorong peningkatan ekspor sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. (an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#nilai tukar rupiah melemah #dolar Amerika #krisis moneter 1998 #perang Amerika serikat dan Iran #penutupan selat hormuz