SOLO, SOLOBALAPAN.COM-Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mulai memengaruhi perilaku konsumen di pasar mobil bekas.
Meski belum berdampak signifikan terhadap penjualan, sebagian pembeli kini mulai mempertimbangkan ulang pilihan kendaraan, khususnya mobil diesel. Hal tersebut disampaikan oleh Farhan, selaku manajemen salah satu showroom mobil bekas di Solo.
Baca Juga: Usaha Miras Diduga Tak Berizin di Solo, Satpol PP Akui Pengawasan Terkendala Izin Pusat
Ia menyebut, secara umum penjualan mobil diesel masih terbilang stabil, meskipun terdapat perubahan kecil dari sisi preferensi konsumen.
“Sejauh ini belum ada dampak besar, penjualan masih normal. Tapi memang ada penyesuaian, terutama dari sisi harga dan cara konsumen mengambil keputusan,” ujarnya saat ditemui di showroom, Rabu (6/5).
Menurutnya, kenaikan harga solar membuat biaya operasional kendaraan diesel ikut meningkat.
Kondisi ini mendorong sebagian konsumen untuk beralih ke kendaraan berbahan bakar bensin.
“Dari 10 pembeli, mungkin ada 2 sampai 3 orang yang akhirnya tidak jadi ambil diesel dan memilih bensin, karena selisih biaya operasionalnya lumayan,” jelasnya.
Selain memengaruhi pilihan konsumen, kenaikan harga BBM juga berdampak pada penyesuaian harga jual mobil diesel bekas. Beberapa unit mengalami penurunan harga untuk menyesuaikan kondisi pasar.
“Misalnya yang sebelumnya dijual di kisaran Rp450 juta, sekarang bisa turun jadi Rp425 juta sampai Rp430 juta. Jadi ada penyesuaian, tapi tidak drastis,” katanya.
Meski demikian, Farhan menegaskan bahwa minat terhadap mobil diesel masih cukup tinggi. Hal ini terlihat dari penjualan sejumlah model populer seperti Toyota Innova, Fortuner, dan Mitsubishi Pajero yang masih diminati konsumen.
“Peminat diesel masih banyak. Bahkan setelah harga BBM naik pun, unit-unit itu masih laku,” tambahnya.
Farhan menjelaskan, perubahan yang paling terasa justru pada pola pikir konsumen. Saat ini, pembeli cenderung lebih mempertimbangkan biaya jangka panjang sebelum memutuskan membeli kendaraan.
“Sekarang konsumen lebih banyak menghitung. Mereka mempertimbangkan biaya operasional, termasuk harga BBM, sebelum memutuskan,” ungkapnya.
Namun, ia menilai bahwa keputusan membeli kendaraan tetap sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing konsumen. Beberapa masih memilih diesel karena dianggap lebih cocok untuk perjalanan jarak jauh atau penggunaan tertentu.
Fenomena ini sejalan dengan tren yang terjadi secara nasional. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa kenaikan harga BBM, khususnya solar non-subsidi, mulai memengaruhi pasar otomotif, terutama di segmen kendaraan diesel.
Kenaikan harga tersebut mendorong konsumen untuk lebih selektif dalam memilih kendaraan, sekaligus mempertimbangkan efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang.
Baca Juga: Guru SMP di Wonogiri Jadi Tersangka, Korban Capai 8 Orang dan Bisa Bertambah
Di tengah perubahan tersebut, pasar mobil bekas dinilai masih dalam tahap penyesuaian. Pelaku usaha tetap optimistis, selama kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan masih tinggi.
“Kalau dibilang turun drastis, tidak. Masih stabil. Hanya saja memang ada penyesuaian dari sisi harga dan preferensi konsumen,” pungkas Farhan. (Lutfiana sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto