Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Pengguna Diesel Tertekan! Harga BBM Diesel Melonjak Tajam, di SPBU Swasta Tembus Rp30.000 per Liter

Laila Zakiya • Rabu, 6 Mei 2026 | 10:04 WIB
Ilustrasi kenaikan harga BBM Nonsubsidi atau BBM Diesel. (radar Solo/Arief Budiman)
Ilustrasi kenaikan harga BBM Nonsubsidi atau BBM Diesel. (radar Solo/Arief Budiman)

 

SOLOBALAPAN.COM - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali jadi sorotan publik di awal Mei 2026.

Kali ini, lonjakan paling terasa datang dari jenis diesel non-subsidi yang mengalami kenaikan signifikan, bahkan di sejumlah SPBU swasta sudah menembus angka Rp30.000 per liter.

Kondisi ini membuat pengguna kendaraan diesel—mulai dari mobil pribadi hingga sektor logistik—mengeluhkan beban operasional yang semakin berat.

Diesel Jadi Penyumbang Kenaikan Paling Signifikan

Penyesuaian harga BBM yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) per 5 Mei 2026 menunjukkan tren kenaikan berlanjut sejak April.

Di wilayah Jawa, harga Dexlite kini berada di kisaran Rp26.000 per liter, sementara Pertamina Dex mencapai Rp27.900 per liter.

Angka ini menegaskan bahwa BBM diesel menjadi jenis yang paling terdampak dibandingkan bensin non-subsidi yang relatif stabil.

Kenaikan ini dinilai semakin “mencekik” pengguna kendaraan diesel karena konsumsi bahan bakarnya yang cenderung lebih besar dalam aktivitas harian.

Baca Juga: Dua Eks Pengurus KONI Solo Jadi Tersangka, Modus Pajak Dipotong Tapi Tak Disetor Rugikan Negara Rp1,05 Miliar

SPBU Swasta Tembus Rp30.000 per Liter

Lonjakan lebih tajam justru terjadi di SPBU swasta. Harga diesel bahkan sudah menembus Rp30.000 per liter, memicu perhatian pemerintah.

Di SPBU BP, produk BP Ultimate Diesel kini dijual Rp30.890 per liter, naik dari Rp25.560.

Sementara di SPBU Vivo, harga Diesel Primus Plus melonjak drastis dari Rp14.610 menjadi Rp30.890 per liter hanya dalam waktu sekitar dua bulan.

Menanggapi hal ini, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan bahwa pemerintah masih melakukan kajian dampak kenaikan tersebut.

"(Peluang kenaikan harga gasoline) masih sama BPH Migas dilakukan asesmen," katanya.

Kenaikan diesel ini dikhawatirkan menimbulkan efek domino, terutama pada biaya distribusi dan sektor industri yang sangat bergantung pada bahan bakar tersebut.

Baca Juga: FPTI Solo Resmi Berganti Nahkoda, Target Juara Umum Porprov 2026 Langsung Dicanangkan

Pemerintah Tegaskan BBM Subsidi Aman

Di tengah lonjakan harga, pemerintah memastikan bahwa BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa penyesuaian harga hanya berlaku untuk BBM non-subsidi yang mengikuti mekanisme pasar.

"Untuk BBM yang sifatnya industri atau hanya untuk orang-orang yang mampu itu penyesuaiannya berdasarkan harga pasar, dan sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM tahun 2022 ya," ujar Bahlil.

"Saya katakan bahwa untuk minyak subsidi, baik itu bensin, solar, maupun elpiji tidak akan ada kenaikan. Saya katakan tidak akan ada kenaikan," imbuhnya.

Saat ini, harga BBM subsidi seperti Pertalite tetap di Rp10.000 per liter dan Biosolar di Rp6.800 per liter.

Baca Juga: Scoopy Punya Adik? Irit dan Punya Pilihan Warna Lucu, Honda Giorno 2026 Bawa Desain Retro Modern!

Imbas ke Masyarakat dan Sektor Usaha

Kenaikan harga diesel bukan sekadar angka di papan SPBU. Dampaknya langsung terasa pada biaya transportasi, logistik, hingga harga barang di pasaran.

Bagi pelaku usaha, terutama di sektor distribusi dan industri, lonjakan ini berpotensi meningkatkan biaya operasional secara signifikan. Sementara bagi masyarakat umum, efeknya bisa merambat ke kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Di sisi lain, pemerintah masih melakukan berbagai asesmen untuk menahan dampak lebih luas, termasuk kemungkinan penyesuaian harga BBM jenis lain.

Namun satu hal yang pasti, di tengah tren kenaikan energi global, pengguna diesel saat ini menjadi kelompok yang paling merasakan tekanan ekonomi secara langsung. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#BBM Diesel #bbm nonsubsidi #kenaikan harga #harga bbm