SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Rencana pemerintah mempercepat penerapan biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 diproyeksikan sebagai langkah strategis menghadapi gejolak harga energi global.
Kebijakan ini juga digadang sebagai tonggak menuju kemandirian energi berbasis sumber daya domestik.
Namun di balik optimisme tersebut, kalangan akademisi menilai implementasi B50 bukan tanpa persoalan. Sejumlah tantangan mendasar—mulai dari aspek teknis hingga ekonomi—dinilai berpotensi menghambat efektivitas kebijakan ini.
Baca Juga: Ngantuk di Jalan Lurus, Truk Hantam Pohon di Wonogiri, Satu Nyawa Melayang
Deputi Bidang Riset, Inovasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual Universitas Muhammadiyah Surakarta, Rois Fatoni, menyebut kebijakan B50 sebagai langkah progresif untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).
“Minyak nabati tersebut dapat diperoleh dari minyak kelapa sawit yang tumbuh di Indonesia,” ujarnya, Senin (20/4).
Efisiensi Energi Jadi Sorotan
Meski menjanjikan dari sisi kemandirian energi, biodiesel memiliki karakteristik berbeda dibandingkan solar fosil. Kandungan oksigen dalam biodiesel membuat nilai kalorinya lebih rendah.
Artinya, dalam volume yang sama, energi yang dihasilkan tidak setinggi bahan bakar konvensional. Dampaknya, konsumsi bahan bakar berpotensi lebih boros untuk menempuh jarak yang sama.
Dalam konteks ini, kebijakan B50 tidak hanya soal mengganti sumber energi, tetapi juga berimplikasi pada efisiensi operasional, terutama di sektor transportasi dan industri.
Baca Juga: Geger! Isu Hubungan Terlarang Feby Belinda Istri Ahmad Sahroni dan Drummer Band 90-an Mencuat, Netizen Sebut Nama Yoyo Padi?
Risiko Teknis pada Mesin
Selain efisiensi, aspek teknis juga menjadi perhatian. Penggunaan biodiesel dengan kadar tinggi seperti B50 berpotensi memengaruhi performa mesin.
Senyawa organik dalam minyak nabati dapat mempercepat penyumbatan filter bahan bakar. Kondisi ini menuntut perawatan lebih intensif, yang pada akhirnya bisa meningkatkan biaya operasional—terutama bagi sektor industri berat dan logistik.
“Semua biodiesel seperti itu,” jelas Rois.
Tantangan Ekonomi dan Ketergantungan Baru
Di sisi lain, harga bahan baku biodiesel berbasis FAME dari minyak sawit masih relatif lebih tinggi dibandingkan solar konvensional. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan ekonomi program B50.
Lebih jauh, ketergantungan pada komoditas sawit juga dinilai berisiko. Sebagai komoditas global, harga minyak sawit sangat fluktuatif dan rentan terhadap dinamika pasar internasional.
Jika tidak diantisipasi, kebijakan yang awalnya bertujuan mengurangi ketergantungan impor justru bisa menciptakan ketergantungan baru—pada satu komoditas domestik yang juga terikat pasar global.
Diversifikasi Jadi Kunci
Sebagai solusi jangka panjang, Rois mendorong diversifikasi bahan baku biodiesel. Salah satu alternatif yang mulai dikaji adalah pemanfaatan tanaman non-pangan seperti jarak pagar.
Namun, pengembangan sumber energi alternatif ini masih menghadapi keterbatasan lahan, infrastruktur, dan ekosistem industri.
Lebih dari Sekadar Substitusi Energi
Pada akhirnya, implementasi B50 bukan sekadar soal mengganti bahan bakar fosil dengan nabati. Kebijakan ini menuntut kesiapan sistem secara menyeluruh—mulai dari teknologi, industri pendukung, hingga stabilitas pasokan.
Tanpa perencanaan matang, ambisi kemandirian energi berpotensi menghadapi tantangan baru yang tidak kalah kompleks dari persoalan yang ingin diselesaikan. (alf/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto