SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kembali terjadi dengan dalih mengikuti mekanisme pasar.
Kebijakan ini disebut telah sesuai regulasi dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas). Namun, di balik klaim tersebut, muncul pertanyaan tentang sejauh mana dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.
Baca Juga: 2 Pelaku Penikaman Nus Kei di Bandara Blak-blakan Ungkap Alasan Habisi Nyawa Ketua DPD Golkar Malut
Area Manager Communication, Relations, & CSR Regional JBT PT Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan, menegaskan bahwa kenaikan hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi, sementara BBM subsidi tetap mengikuti ketentuan pemerintah.
“Untuk jenis subsidi sudah pasti tidak boleh naik sesuai aturan pemerintah. Sementara BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar,” ujarnya, Senin (20/4).
Klaim Konsumsi Rendah, Dampak Disebut Minim
Pertamina menyebut konsumsi BBM nonsubsidi relatif kecil. Produk seperti Pertamax Turbo hanya sekitar 1 persen, Pertamina Dex 4 persen, dan Dexlite 2 persen dari total konsumsi.
Dengan komposisi tersebut, Pertamina menilai dampak kenaikan harga tidak signifikan. Sebaliknya, konsumsi terbesar masih didominasi BBM seperti Pertalite, Pertamax, dan Solar yang mencapai sekitar 90 persen.
Namun, argumen ini tidak sepenuhnya menutup kritik. Sebab, kelompok pengguna BBM nonsubsidi umumnya berada di segmen tertentu yang tetap memiliki peran dalam rantai ekonomi, termasuk sektor logistik dan industri.
Dorongan Tinggalkan Subsidi, Realistis atau Tidak?
Pemerintah juga terus mendorong masyarakat mampu untuk tidak menggunakan BBM subsidi agar distribusinya tepat sasaran. Kebijakan ini diperkuat dengan program subsidi berbasis sistem digital.
Baca Juga: Dini Hari Mencekam, Oven Kayu di Pabrik Sukoharjo Dilalap Api
Melalui penerapan QR code di SPBU, pembelian Pertalite dan Solar kini dibatasi dan diawasi. Program ini telah berjalan selama beberapa tahun dan diklaim cukup efektif.
Namun di lapangan, implementasi kebijakan ini masih menyisakan celah. Verifikasi penerima subsidi kerap menjadi persoalan, terutama terkait validitas data kendaraan dan identitas pengguna.
“Kita lakukan verifikasi ulang dengan bantuan Korlantas untuk identifikasi STNK dan jenis kendaraan,” jelas Taufiq.
Stabilitas Harga dan Potensi Perpindahan Konsumen
Pertamina juga memastikan beberapa produk nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green tidak mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, terdapat kecenderungan pengguna BBM dengan harga lebih tinggi beralih ke produk yang lebih stabil.
Fenomena migrasi ini menunjukkan bahwa sensitivitas harga tetap menjadi faktor utama dalam perilaku konsumen, sekaligus menjadi indikator bahwa kenaikan BBM—sekecil apa pun—tetap berdampak.
Stok Aman, Tapi Pengawasan Jadi Kunci
Di sisi lain, Pertamina memastikan ketersediaan BBM dalam kondisi aman, bahkan jika terjadi lonjakan permintaan ekstrem.
“Stok aman. Kalau ada lonjakan hingga sepuluh kali lipat pun masih bisa kita atasi,” tegasnya.
Meski demikian, jaminan stok bukan satu-satunya persoalan. Tantangan utama justru terletak pada konsistensi pengawasan dan keadilan distribusi.
Tanpa pengawasan yang ketat, kebijakan subsidi tepat sasaran berpotensi meleset. Sementara kenaikan harga BBM nonsubsidi, meski disebut kecil, tetap membuka ruang beban baru—terutama dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. (alf/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto