SOLOBALAPAN.COM – Pasar modal Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pada pembukaan perdagangan Kamis (29/1/2026) pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung ambruk sebesar 4,30 persen ke posisi 7.962,79.
Aksi jual masif ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap status aksesibilitas pasar Indonesia di mata dunia.
Jika otoritas tidak segera bertindak cepat menanggapi catatan dari MSCI, Indonesia terancam turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market, sebuah langkah yang bisa memicu eksodus dana asing besar-besaran.
Level Psikologis 8.000 Jebol
Pelemahan IHSG pagi ini sebesar 357,76 poin langsung menghantam level psikologis 8.000.
Tak hanya IHSG, indeks saham unggulan LQ45 juga terjun bebas 4,12 persen ke posisi 779,05.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, IHSG berpotensi menguji level dukungan berikutnya di angka 7.850.
Ancaman "Turun Kelas" ke Frontier Market
Fokus utama investor saat ini adalah tenggat waktu dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) hingga Mei 2026.
Apabila otoritas bursa dan pemerintah tidak menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperbaiki aksesibilitas pasar, bobot saham Indonesia di indeks global akan dipangkas.
"Jika diturunkan menjadi Frontier Market, potensi dana asing yang keluar (outflow) akan lebih masif. Ini tidak hanya menekan IHSG, tapi juga nilai tukar Rupiah, menurunkan likuiditas pasar, serta membengkakkan biaya pendanaan pemerintah dan korporasi," jelas Ratna Lim, dikutip dari ANTARA, Kamis (29/1/2026).
Sentimen Global: The Fed Tahan Suku Bunga
Di tengah guncangan domestik, sentimen dari mancanegara juga memberikan warna. Bank sentral AS, The Fed, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 3,5 - 3,75 persen.
Ketua The Fed, Jerome Powell, memilih tetap fokus pada indikator ekonomi yang stabil dan menghindari pembahasan mengenai tekanan penyelidikan dari pemerintahan Donald Trump.
Meski ekonomi AS dinilai berkembang dengan kecepatan solid, ketidakpastian mengenai kepemimpinan baru The Fed membuat pasar global, termasuk bursa regional Asia, cenderung bergerak variatif dan hati-hati. (dam)
Editor : Damianus Bram