SOLOBALAPAN.COM - Masyarakat Jawa dikenal lekat dengan tradisi. Salah satunya yang masih terjaga adalah Cembreng atau pasar malam yang digelar warga sekitar Pabrik Gula (PG) Mojo menjelang musim giling tebu.
Tahun ini, tradisi tersebut kembali diadakan mulai akhir Ramadan hingga lebaran, sembari menanti pelaksanaan buka giling yang direncanakan pada Mei mendatang.
Ketua Panitia Buka Giling PG Mojo, Sugiyanto, menyampaikan bahwa tradisi Cembreng sudah menjadi agenda rutin yang selalu digelar sebelum dimulainya musim giling.
Menurutnya, tradisi ini tidak hanya dilakukan di PG Mojo saja, tetapi juga di berbagai pabrik gula lainnya.
“Di daerah lain ada yang menyebutnya Bodo Pabrik, atau hari rayanya pabrik. Meskipun istilah berbeda-beda, esensinya tetap sama, yakni syukuran dan harapan agar hasil produksi tebu bisa melimpah,” ujar Sugiyanto.
Ia menambahkan, warga di sekitar PG Mojo sudah terbiasa menyambut buka giling dengan suasana meriah.
Sebagian lahan milik pabrik digunakan untuk pelaksanaan Cembreng. Adapun pengelolaannya dilelang ke pihak ketiga dan menghasilkan anggaran yang masuk ke manajemen.
Namun, Sugiyanto menegaskan bahwa dana hasil sewa lahan tersebut tidak masuk sebagai profit perusahaan.
Seluruh pendapatan dari penyelenggaraan Cembreng akan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk program tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR).
“Profit dari Cembreng tidak kami masukkan sebagai keuntungan. Dana itu digunakan untuk CSR, gelaran buka giling, santunan anak yatim, manten tebu, hingga wayangan dua kali. Intinya, uang yang terkumpul kembali ke masyarakat dalam berbagai bentuk,” jelasnya.
Sebagai pabrik yang berada di tengah pemukiman padat penduduk, PG Mojo memandang pentingnya menjaga hubungan sosial dan budaya dengan warga sekitar.
Salah satunya dengan tetap melestarikan tradisi manten tebu dan wayang ruwat sebagai bentuk kepedulian sosial.
Sempat absen saat pandemi Covid-19, ketidakhadiran Cembreng waktu itu cukup disayangkan oleh warga. Maka dari itu, kembalinya tradisi ini disambut antusias.
“Pada dasarnya kami tetap memperhatikan adat dan budaya setempat. Di sisi lain, kami juga bisa menghimpun dana untuk dikembalikan pada masyarakat sekitar,” tutup Sugiyanto. (din)
Editor : Nindia Aprilia