Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Penggarap Sepatu Adidas Batal Berinvestasi di Sragen, Sejumlah Perusahaan Lain Sedang Proses

Ahmad Khairudin • Minggu, 14 April 2024 | 22:00 WIB
Ilustrasi investasi tanah. (IREK/ RADAR SOLO)
Ilustrasi investasi tanah. (IREK/ RADAR SOLO)

SOLOBALAPAN.COM - Kabupaten Sragen menjadi salah satu daerah yang dilirik para investor.

Tercatat, ada enam investor yang terpikat menanamkan modalnya di Bumi Sukowati.

Namun, ada kendala yang menyebabkan pemilik modal tersebut hengkang.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Sragen Dwi Agus Prasetyo menjelaskan, yang sudah positif berinvestasi adalah Djarum.

Mereka beroperasi di Desa Pagak, Kecamatan Sumberlawang. Manajemen juga ancang-ancang berinvestasi di daerah lainnya di Kabupaten Sragen.

Ada pula PT TKG Taekwang yang sedang berproses. Dwi menyebut telah terealisasi 24 hektare lahan, namun masih kurang 12 hektare.

”Setelah Lebaran ini, PT TKG Taekwang akan membuka kantor perwakilan di Desa Gabugan, Kecamatan Tanon. Warga yang ingin menjual tanah, bisa komunikasi langsung dengan perwakilan perusahaan,” ujarnya.

Diterangkan Dwi, kebutuhan lahan PT TKG Taekwang tinggal sedikit.

Tergantung kesadaran warga untuk melepas tanahnya. Jika dikalkulasi, tidak ada kerugian ketika investasi itu berjalan.

”Tidak ada limbah, CSR lingkungan jelas. Dipastikan memberikan gaji karyawan di atas UMK. Serapan karyawan mencapai 20 ribu orang. Makan siang juga disediakan,” ucapnya.   

Multiplayer effect yang didapatkan, imbuh Dwi, nilai tanah di sekitar kawasan industri naik. Peluang usaha juga tumbuh.

Sedangkan GFT Group Hongkong awalnya hendak berinvestasi di Kecamatan Tangen.

Namun, pindah ke Kecamatan Sumberlawang. Mereka membutuhkan lahan seluas 25 hektare.

”Saat ini sudah ada komunikasi. Baru tersedia 15 hektare, kurang 10 hektare,” jelasnya.

Berikutnya, Mitra Rubber Industry yang sudah membeli 6 hektare lahan. Pada Juni 2024 diperkirakan mulai mendirikan konstruksi pabrik di Kecamatan Sambungmacan.

Selanjutnya PT Eksonindo berproses di Desa Guworejo, Kecamatan Karangmalang.

”Saat ini proses pembebasan lahan seluas 6 hektare,” kata Dwi.

Sayangnya, PT Yihfull Footwear Indonesia yang menggarap produk sepatu Adidas mundur.

Penyebabnya, tidak ada kesepakatan harga tanah di Kecamatan Sambungmacan.

”Harga tanah terlalu tinggi. Sudah kami fasilitas seluas 3 hektare. Tapi harga tanah tidak masuk akal. Jauh di atas NJOP. Akhirnya cari di luar Sragen,” terangnya.

Dengan hengkangnya PT Yihfull Footwear, lanjut Dwi, justru warga yang merugi karena kesulitan mencari pembeli tanah dengan harga terlalu tinggi.

Selain itu, upaya menekan jumlah pengangguran juga tersendat.

”Kami harap warga rasional (menetapkan harga tanah). Jangan hanya gara-gara yang beli orang asing, harga dipukul tinggi,” ujarnya.

Menurut Dwi, nilai kompensasi dari penjualan lahan tersebut bisa untuk membeli lahan yang lebih produktif tidak jauh dari lokasi semula.

”Per patok bisa Rp 3,5 miliar. Nggak rasional. Per meter persegi dijual Rp 1 juta. Padahal NJOP Rp 140 ribu,” terangnya. (din/wa/rei)

 

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#batal #sragen #investasi #proses #adidas