RADARSOLO.COM – Langkah melesat ke perguruan tinggi ternama dunia kini bukan lagi monopoli pelajar di kota-kota besar.
Semangat itulah yang ditiupkan SMA Unggulan RUSHD Masaran, Sragen lewat ajang Changemakers Fest x Beasiswa Garuda.
Tak sekadar menggelar hajatan internal, sekolah setempat turut memboyong ratusan pelajar dari Solo Raya untuk mengintip peluang beasiswa ke berbagai penjuru benua.
Gedung serbaguna SMA Unggulan RUSHD tampak riuh Sabtu (24/10/2026) pagi.
Sejumlah perwakilan kampus ternama dan lembaga konsultan internasional, mulai dari The Hongkong, Belt and Road Chinese Center, IDP Education, hingga Deakin University Lancaster University Indonesia membuka stan konsultasi secara langsung.
Baca Juga: SMA Unggulan Rushd Sambut 175 Siswa Baru Gen 4 Melalui Welcoming Ceremony 2026
Ika Nurul Indahsari, koordinator acara sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Unggulan RUSHD menegaskan, kegiatan ini dirancang untuk memecahkan batas canggung pelajar daerah terhadap pendidikan global.
"Kami ingin dorong mereka tidak hanya bermimpi biasa, tapi bermimpilah yang tinggi," ujar perempuan yang akrab disapa Miss Ika tersebut di sela acara.
Ika mengungkapkan, iklim berburu beasiswa di SMA Unggulan RUSHD terus bertumbuh pesat.
Dari angkatan pertama yang meluluskan 42 siswa, sebanyak 15 anak (sekira 35 persen) berhasil menembus perguruan tinggi luar negeri (PTLN).
Tujuh di antaranya lolos Beasiswa Garuda (dengan 5 anak masuk dalam profil utama).
Sementara sisanya menyebar lewat ASEAN Undergraduate Scholarship di Universitas Nasional Singapura (NUS), National Taiwan University, KISP Thailand, hingga beasiswa pemerintah Rusia dan BIB Kemenag.
"Untuk angkatan kelas 12 sekarang, semangatnya makin melonjak. Dari 103 siswa, ada 49 anak atau sekira 50 persen yang memantapkan niat berburu kampus luar negeri," papar Ika.
Tak hanya menggembleng siswa, sekolah juga melibatkan para orang tua secara aktif. Menurut Ika, peran orang tua amat vital sebagai pendukung utama mimpi anak agar memiliki satu visi yang selaras dengan arahan sekolah.
Strategi penyiapan portofolio pun tidak dilakukan secara mendadak.
Pihak sekolah telah membentuk ekosistem pendukung sejak siswa duduk di kelas 10 dan 11 melalui fleksibilitas ekstrakurikuler, keikutsertaan lomba, komunitas, hingga kegiatan volunteer.
"Di kelas 12 ini mereka sifatnya sudah tinggal apply saja. Tugas sekolah adalah menyediakan wadah dan memberi pemicu inspirasi," tandasnya. (din/nik)
Editor : Tri wahyu CahyonoSumber : solobalapan.jawapos.com