SOLOBALAPAN.COM – Akademisi sekaligus pengamat politik ternama, Rocky Gerung, menegaskan bahwa dirinya bakal tetap bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah meskipun kini resmi menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Mantan dosen Universitas Indonesia (UI) tersebut memastikan posisinya di dalam lingkaran kekuasaan Presiden Prabowo Subianto tidak akan pernah melunturkan kebebasan berpikir apalagi mengkhianati perjuangan mahasiswa.
Rocky mengaku sangat menyadari munculnya gelombang kekecewaan dari sebagian masyarakat usai dirinya memutuskan menerima tawaran masuk ke dalam struktur pemerintahan.
"Kritis atau tidak kritis bukan soal sejauh apa. Kritik itu bukan ordinal, tetapi nominal. Artinya, bukan kritik 10 persen atau 20 persen karena ada kompromi di dalam kabinet. Kritik itu ya kritik atau tidak kritik,” tegas Rocky, dikutip dari JawaPos.com, Selasa (20/10/2026).
Bawa Cara Berpikir Kampus ke Lingkaran Istana
Rocky menekankan bahwa pemikiran dan idealisme dasar yang dibangunnya selama berdekade di lingkungan akademik akan terus ia bawa dalam memberikan masukan langsung kepada Presiden.
Baca Juga: Dirjen Imigrasi Benarkan Keberangkatan Nusron Wahid ke Luar Negeri untuk Agenda Dinas
Ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo memperkenalkan dirinya di Wantimpres bukan sebagai perwakilan partai politik, kelompok keagamaan, maupun purnawirawan, melainkan sebagai representasi komunitas pemikir independen.
“Saya tidak mewakili suara mahasiswa, tetapi saya ingin mahasiswa mengerti bahwa saya tidak akan mengkhianati mereka. Saya datang dari komunitas kampus. Filsuf akademisi itu konstan, tidak akan berubah,” ujarya mantap.
Analogi Kedokteran dan Pembongkaran Istana
Guna menjelaskan alasannya masuk ke dalam sistem, Rocky mengibaratkan fungsi kritik radikal sebagai peralatan luar yang justru sangat dibutuhkan untuk membenahi bangunan kekuasaan dari dalam.
Menurutnya, alat internal sistem kerap kali tidak memadai untuk mengoreksi kesalahan sistemik.
“Peralatan raja tidak mungkin dipakai untuk membongkar istana raja. Maka, harus menggunakan peralatan dari luar. Itulah kritik radikal,” imbuhnya.
Ia juga menutup keterangannya dengan analogi dunia kedokteran mengenai sel rusak (apoptosis) yang relevan dengan fenomena kejahatan korupsi di Tanah Air.
“Ada sel yang enggak mau bunuh diri karena tidak tahu diri. Dia lakukan metastasis dan merusak sel yang bagus. Koruptor juga begitu sekarang,” pungkas Rocky.
Editor : Damianus Bram