Greenpeace Ungkap Kondisi Horor Karhutla di Kalimantan: Air Tak Ada, Relawan Terpaksa Angkat Tangan!

Damianus Bram • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 12:29 WIB
Karhutla di Indonesia menjadi perhatian di tengah dampaknya terhadap masyarakat, kualitas udara, dan lingkungan. (Foto: Jawa Pos)
Karhutla di Indonesia menjadi perhatian di tengah dampaknya terhadap masyarakat, kualitas udara, dan lingkungan. (Foto: Jawa Pos)

 

SOLOBALAPAN.COM – Bencana kekeringan ekstrem dan krisis air bersih parah kian memicu kebuntuan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Kalimantan dan Sumatra.

Ketiadaan pasokan air membuat para relawan kewalahan memadamkan kobaran api. Akibatnya, tak sedikit warga yang terpaksa pasrah menyaksikan kebun dan mata pencaharian mereka dilalap si jago merah.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Belqis Habiba, membeberkan bahwa eskalasi karhutla tahun ini merupakan yang terparah sejak ia terjun dalam tim penanganan bencana pada 2019 silam.

Selain kepungan asap pekat, masyarakat di Kalimantan Barat hingga wilayah Kalimantan lainnya kini harus menghadapi ancaman kekeringan ekstrem.

”Bahkan satu bulan saya di Kalimantan Barat itu air bersih nggak ada. Air yang ada itu adalah air asin, bahkan PDAM-nya pun asin,” ungkap Belqis kepada awak media, dikutip dari JawaPos.com, Rabu (14/10/2026).

Baca Juga: Jejak Digital Terbongkar! Cuitan Jadul Prabowo Soal Karhutla Tahun 2015 Kembali Diserbu Netizen

Belqis menjelaskan, ketersediaan air merupakan variabel paling vital dalam memadamkan api di lahan gambut. Kebutuhan air skala masif tidak bisa terpenuhi lantaran fungsi alami gambut sebagai penampung air telah rusak akibat alih fungsi lahan dan kanalisasi perkebunan.

Kanal-kanal yang mengeringkan gambut membuat permukaan lahan sangat mudah terbakar. Saat titik api muncul, tim di lapangan tidak memiliki amunisi air yang cukup untuk melakukan penyiraman.

”Relawannya ada yang mau memadamkan, tapi sumber airnya nggak ada. Bagaimana mereka bisa memadamkan?” tegasnya.

Metode pemadaman manual dengan memukul api hanya efektif untuk titik kebakaran berskala kecil. Namun ketika api membesar dan masuk ke dalam lapisan dalam tanah gambut, relawan terpaksa angkat tangan.

Bahkan, operasi pemadaman udara (water bombing) pun kewalahan karena gambut yang terlanjur kering kerontang membutuhkan pasokan air berulang kali agar bisa kembali basah secara sempurna.

”Makanya kemudian banyak relawan yang menyerah karena sumber air nggak ada,” tambah Belqis.

Warga Pasrah Bersihkan Pembatas Api Mandiri

Kondisi memprihatinkan ini tidak hanya melanda Kalimantan Barat. Di Sumatera Selatan, khususnya Kabupaten Ogan Komering Ilir, keterbatasan komunitas pemadam dan minimnya fasilitas membuat warga yang memiliki kebun karet berada dalam posisi serba salah.

Tanpa adanya pasokan air untuk memadamkan api yang merembet, warga memilih cara manual dengan membersihkan area sekitar kebun sepanjang satu hingga dua meter demi membuat skat pembatas (sekat bakar).

Daun-daun dan ranting kering dibersihkan secara swadaya agar api tidak langsung menyambar pepohonan utama saat mendekati lahan mereka.

”Akhirnya apa? Warga pasrah. Kebun-kebun mereka, kan warga itu punya kebun,” sesal Belqis.

Langkah nekat ini diambil warga di tengah minimnya bantuan medis dan logistik. Masyarakat yang bermukim jauh dari pusat kota mengaku kesulitan mengakses puskesmas untuk sekadar mendapatkan masker medis.

Dampak karhutla kini telah menciptakan efek domino yang tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga keselamatan jiwa dan kesehatan masyarakat yang terus-menerus terpapar asap beracun.

”Jadi sebenarnya dampaknya itu multiplier, nggak cuma soal bagaimana api itu dipadamkan, tapi bagaimana kemudian warga yang menghirup asap berlarut-larut ini juga mendapatkan bantuan,” pungkasnya. (dam)

Editor : Damianus Bram
karhutla kebakaran hutan krisis air kalimantan greenpeace