SOLOBALAPAN.COM – Media sosial kembali diramaikan oleh fenomena jasa unik yang tidak biasa, yakni joki baca buku. Layanan ini menawarkan jasa membaca buku milik orang lain, lengkap dengan anotasi, highlight, hingga penanda halaman agar buku terlihat telah dibaca dan dipelajari secara serius.
Fenomena tersebut ramai diperbincangkan setelah seorang pengguna Threads menawarkan jasa membaca buku fiksi maupun nonfiksi dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Penawaran itu menarik perhatian warganet karena tarif yang dicantumkan mencapai Rp1,6 juta, bergantung pada ketebalan buku dan layanan yang diminta.
Dikutip dari pemberitaan IDN Times pada 6 Oktober 2026, jasa joki baca buku menjadi perbincangan setelah unggahan penawaran layanan tersebut menarik perhatian pengguna Threads. Tawaran ini kemudian memunculkan beragam reaksi, mulai dari anggapan sebagai peluang bisnis kreatif hingga kritik mengenai kebiasaan membangun citra diri di media sosial.
Baca Juga: Kimi Antonelli Berpeluang Kunci Gelar Juara Dunia F1 2026 di GP Amerika Serikat, Ini Jadwalnya
Cara Kerja Joki Baca Buku
Layanan joki baca buku pada dasarnya memungkinkan seseorang meminta orang lain membaca buku miliknya. Penyedia jasa kemudian memberikan berbagai penanda pada halaman, seperti highlight, catatan kecil, dan sticky notes untuk menandai bagian yang dianggap penting.
Buku yang dikerjakan dapat berasal dari berbagai genre, baik fiksi maupun nonfiksi. Ketebalannya juga beragam, mulai dari ratusan halaman hingga buku yang membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan.
Tidak hanya membaca dan memberikan anotasi, beberapa layanan juga menawarkan aksesori tambahan berupa pembatas buku rajut, penanda halaman, serta dokumentasi foto yang dapat digunakan untuk keperluan media sosial.
Baca Juga: Maudy Ayunda Bicara soal “Privilege”, Kenapa Kata Ini Sering Dipakai di Media Sosial?
Tarif yang beredar dalam penawaran jasa tersebut berkisar ratusan ribu hingga Rp1,6 juta. Besarnya biaya bergantung pada ketebalan buku dan paket layanan yang dipilih. Namun, angka tersebut merupakan tarif yang dicantumkan dalam penawaran yang viral, bukan standar harga seluruh penyedia jasa joki baca buku.
Konsepnya terbilang tidak biasa karena pelanggan bukan hanya memperoleh buku yang telah diberi penanda, tetapi juga tampilan visual yang dapat mendukung konten bertema literasi.
Baca Juga: Baru Rilis Dua Episode, Drakor 100 Days of Deception Hadirkan Intrik Spionase dan Romansa
Bukan Sekadar Membaca, tetapi Membangun Citra Bookworm
Salah satu hal yang membuat fenomena ini ramai dibicarakan adalah sasaran pasar yang disebutkan oleh penyedia jasa. Layanan tersebut turut menyasar orang-orang yang ingin menampilkan citra sebagai bookworm atau pencinta buku di media sosial.
Dalam budaya digital, buku tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari identitas yang ditampilkan melalui unggahan. Foto buku dengan anotasi, halaman penuh penanda, dan catatan kecil kerap digunakan untuk membagikan pengalaman membaca.
Melalui jasa joki baca buku, tampilan tersebut bisa disiapkan tanpa pemilik buku harus menjalani seluruh proses membaca sendiri.
Di sinilah muncul pertanyaan mengenai tujuan sebenarnya dari kegiatan membaca. Jika seseorang ingin memahami isi buku, menggunakan jasa orang lain untuk membaca tentu tidak memberikan pengalaman yang sama dengan membaca secara mandiri.
Sebaliknya, bagi orang yang membutuhkan bantuan memahami bacaan atau mencari referensi awal, rangkuman dan anotasi dapat menjadi bahan pendukung. Meski demikian, hasil bacaan orang lain tetap perlu diperiksa agar pemahaman terhadap isi buku tidak hanya bergantung pada catatan yang diberikan.
Menuai Pro dan Kontra di Media Sosial
Kemunculan jasa joki baca buku memunculkan perdebatan mengenai literasi dan kebutuhan mendapatkan pengakuan di media sosial.
Sebagian orang melihatnya sebagai peluang bisnis baru bagi mereka yang memiliki kegemaran membaca. Penyedia jasa dapat memperoleh penghasilan dari aktivitas yang dikuasai, sementara pelanggan mendapatkan bantuan untuk kebutuhan tertentu.
Namun, ada pula yang mempertanyakan manfaat layanan tersebut jika tujuan utamanya hanya membuat seseorang terlihat rajin membaca. Sebab, memiliki buku yang penuh anotasi tidak selalu berarti pemiliknya memahami gagasan yang tertulis di dalamnya.
Membaca bukan sekadar menyelesaikan halaman atau mengumpulkan buku. Aktivitas ini juga melibatkan proses memahami informasi, menghubungkan gagasan, serta membentuk pemikiran berdasarkan apa yang telah dipelajari.
Karena itu, fenomena joki baca buku tidak serta-merta dapat dijadikan ukuran rendah atau tingginya minat baca masyarakat. Tawaran jasa yang viral juga belum cukup untuk menggambarkan seberapa luas praktik tersebut digunakan.
Apakah Joki Baca Buku Layak Dicoba?
Bagi orang yang ingin menjadikan membaca sebagai kebiasaan, memulai dari buku tipis atau memilih genre yang disukai dapat menjadi alternatif yang lebih sederhana. Membaca beberapa halaman secara konsisten juga bisa membantu membangun rutinitas tanpa harus mengejar target yang terlalu tinggi.
Sementara itu, jasa anotasi atau rangkuman dapat dimanfaatkan sebagai pendamping ketika seseorang membutuhkan bantuan memahami bacaan. Namun, layanan tersebut sebaiknya tidak menggantikan proses membaca mandiri apabila tujuan utamanya adalah memperoleh pengetahuan dan membangun kemampuan berpikir kritis.
Fenomena joki baca buku menunjukkan bahwa aktivitas yang berkaitan dengan hobi pun dapat berkembang menjadi peluang bisnis di era media sosial. Di sisi lain, tren ini menjadi pengingat bahwa citra sebagai pencinta buku tidak selalu sejalan dengan kebiasaan membaca yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, keputusan untuk mengikuti tren tetap berada di tangan masing-masing orang. Hal terpenting bukan sekadar bagaimana buku terlihat di rak atau di unggahan media sosial, melainkan seberapa jauh seseorang dapat mengambil manfaat dari pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Editor : Inayah Choirunisa