Gawat! Imbas Karhutla Kalsel, Udara di Balangan dan Tabalong Tembus Kategori Berbahaya, 

Damianus Bram • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 15:36 WIB
Pekatnya kabut asap imbas kebakaran lahan menyelimuti kawasan Kabupaten Balangan. Tingkat polusi udara akibat karhutla tercatat mencapai status Sangat Tidak Sehat. (M Dirga/Radar Banjarmasin)
Pekatnya kabut asap imbas kebakaran lahan menyelimuti kawasan Kabupaten Balangan. Tingkat polusi udara akibat karhutla tercatat mencapai status Sangat Tidak Sehat. (M Dirga/Radar Banjarmasin)

 

SOLOBALAPAN.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Selatan (Kalsel) membuat kualitas udara di Kabupaten Balangan anjlok drastis dan masuk kategori 'Sangat Tidak Sehat' tepat di jam sibuk warga berangkat kerja.

Sementara itu, kondisi lebih parah terjadi di kabupaten tetangga, Tabalong. Pada Minggu (11/10/2026), Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di kawasan tersebut sempat mencatatkan status 'Berbahaya'.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan resmi merilis Peringatan Dini Kualitas Udara pada Senin (12/10/2026).

Kepala Pelaksana BPBD Balangan, Rahmi, mengungkapkan bahwa konsentrasi partikulat (PM2.5) di Bumi Sanggam menunjukkan lonjakan tajam sejak tengah malam hingga menjelang siang.

"Berdasarkan pantauan Stasiun Klimatologi sejak pukul 00.00 hingga 09.00 WITA pagi tadi, kondisi kualitas udara di Balangan umumnya berada pada kategori 'Tidak Sehat'," ungkap Rahmi, dilansir dari Radar Banjarmasin, Senin (12/10/2026).

Baca Juga: Simbol Kedaulatan Pulang! Berlian Banjarmasin dan Pedang Sikin Panjang Resmi Dikembalikan Belanda

Rahmi membeberkan, puncak pencemaran udara terburuk terjadi pada jam-jam produktif warga mulai beraktivitas, yakni pukul 07.00 hingga 08.00 WITA.

"Pada jam-jam krusial tersebut, grafik menunjukkan konsentrasi tertinggi mencapai angka 158,4 mikrogram per meter kubik. Angka ini secara otomatis menetapkan kualitas udara kita pada kategori 'Sangat Tidak Sehat'," paparnya.

Menyikapi lonjakan polusi yang mengkhawatirkan tersebut, BPBD mendesak masyarakat untuk meningkatkan proteksi diri secara maksimal.

"Kami sangat menyarankan warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terlebih pada jam-jam dengan paparan kabut asap tertinggi," tegas Rahmi.

Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, ia menekankan pentingnya menggunakan masker standar medis khusus, bukan sekadar masker kain biasa.

"Gunakanlah masker berstandar N95 atau KN95 yang terbukti efektif menyaring partikel debu halus. Selain itu, perkuat imun tubuh dengan menjaga pola hidup sehat di tengah kondisi yang kurang bersahabat ini," ucapnya.

Rahmi kembali menyuarakan peringatan keras mengenai akar masalah bencana kabut asap ini dan meminta kesadaran penuh dari seluruh lapisan masyarakat.

"Yang terpenting, stop melakukan pembakaran lahan. Kondisi udara yang kita hirup saat ini adalah konsekuensi langsung dari aktivitas pembakaran tersebut," pungkasnya.

Matahari Tertutup Asap, Sekolah di Tabalong Dipulangkan

Di Kabupaten Tabalong, situasi lapangan tak kalah mencekam. Selama beberapa hari terakhir, jarak pandang di jalanan tertutup rapat oleh gulungan kabut asap tebal.

Sinar matahari bahkan nyaris tak mampu menembus pekatnya asap yang menyelimuti seluruh sudut kota dengan warna abu-abu gelap sejak pagi hari.

Berdasarkan dokumentasi foto, sejumlah ruas jalan protokol di Tabalong pada Minggu (11/10/2026) pagi tampak sepi melompong. Mayoritas warga memilih mengurung diri di rumah demi menghindari risiko gangguan pernapasan.

Dampak buruk kabut asap ini juga mengganggu aktivitas belajar-mengajar. Sejumlah sekolah terpaksa memulangkan para siswanya lebih awal ketika kabut asap mulai menebal dan membahayakan kesehatan para murid.

Editor : Damianus Bram
kebakaran hutan kualitas udara kabut asap karhutla kalsel kalimantan selatan