SOLOBALAPAN.COM - Pertemuan tertutup antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di kediaman Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Selasa (6/10) malam memantik perhatian publik.
Pasalnya, pertemuan berlangsung selama dua jam (pukul 19.00–21.00 WIB) tepat ketika Mahkamah Konstitusi (MK) sedang membacakan putusan sengketa syarat kualifikasi pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pengamat Politik Arifki Chaniago menilai momentum pertemuan dua tokoh sentral tersebut menyimpan makna kalkulasi politik yang jauh lebih luas dari sekadar isu administrasi ijazah.
"Kalau kita membaca pertemuan Pak Prabowo dengan Pak Jokowi menjelang putusan MK, kalau kita baca secara utuh ini tentu Pak Prabowo dan juga Pak Jokowi yang tahu. Tapi kalau kita baca ini tentu lebih kepada momentum apakah ada yang didealkan atau disepakati di belakang layar," kata Arifki Chaniago, dilansir dari JawaPos.com, Kamis (8/10).
Menurut Arifki, persoalan keabsahan dokumen pendidikan Gibran mungkin hanya menjadi porsi kecil dalam diskusi tersebut.
Pembahasan utama disinyalir menyentuh arah manuver politik jangka panjang pemerintahan Prabowo-Gibran ke depan.
"Soal ijazah mungkin menjadi isu yang hanya tidak terlalu tebal dibicarakan di momen itu, tapi lebih bagaimana momentum kalkulasi atau duet ke depan yang akan dipilih oleh Pak Prabowo maupun Pak Jokowi," ujarnya.
Ia menambahkan, pembicaraan tertutup itu berpotensi memetakan distribusi kekuasaan di kabinet hingga persiapan peta koalisi menuju Pemilu 2029 mendatang.
"Apakah berhubungan dengan distribusi kabinet, atau berhubungan dengan beberapa variabel yang menurut saya apakah ada opsi-opsi alternatif?" tuturnya.
"Saya rasa ini juga akan berhubungan dengan konstelasi politik, apalagi sebelumnya ada pergantian Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri," urai Arifki.
Kendati tafsir politik liar berkembang di masyarakat, Arifki menekankan bahwa detail pasti perbincangan tidak dapat dikonfirmasi sepenuhnya karena sifat pertemuan yang terutup bagi media.
"Tapi pastinya, kalau kita melihat konteksnya kan tidak bisa kita pastikan karena kan juga tidak dipublikasikan ke media. Dan saya rasa makna politiknya memang mengarah ke sana," pungkasnya.
Ajudan Tegaskan Hanya Agenda Silaturahmi
Di sisi lain, Ajudan Jokowi, AKBP Syarif Muhammad Fitriansyah, mengonfirmasi kehadiran Jokowi ke Kertanegara memenuhi undangan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
"Pak Prabowo mengundang Pak Jokowi ke Kertanegara. Pertemuan dimulai pada pukul 19.00 hingga sekitar pukul 21.00," ungkap Syarif, Rabu (7/10).
Syarif membantah anggapan bahwa pertemuan tersebut sengaja dirancang untuk membahas amar putusan sidang MK terkait posisi Gibran.
"Tidak ada," tegas Syarif
Ia memastikan agenda murni silaturahmi antar-pemimpin bangsa. (dam)
Editor : Damianus BramSumber : jawapos.com