Warga Bali Dituding Lebih Ramah ke Bule Dibanding WNI, Arya Wedakarna: Jangan Dikit-dikit Diviralin

Didi Agung Eko Purnomo • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 17:38 WIB
Arya Wedakarna.
Arya Wedakarna.

SOLOBALAPAN, DENPASAR — Isu klasik mengenai dugaan perlakuan diskriminatif terhadap wisatawan domestik di Pulau Dewata kembali mencuat ke ruang publik per Rabu (7/10/2026).

Polemik ini memanas setelah sejumlah pesohor Tanah Air, salah satunya kreator konten Ria Ricis, mengeluhkan pelayanan pekerja wisata yang dinilai lebih ramah kepada turis asing (bule) ketimbang wisatawan nusantara (WNI).

Menanggapi kegaduhan tersebut, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, melontarkan jawaban lugas. Arya menepis tudingan adanya diskriminasi sistematis dan mengingatkan publik agar tidak serta-merta menggeneralisasi insiden kasuistis menjadi penghakiman massal di media sosial.

Baca Juga: Klarifikasi Arya Wedakarna Hadiri Miss Equality Bangkok, Sebut Bawa Misi Budaya dan Alasan Dikawal TNI

Berakar dari Keluhan Jasa Helikopter Ria Ricis

Sorotan tajam terhadap etika keramahan (hospitality) pariwisata Bali bermula dari unggahan video pribadi Ria Ricis saat berlibur di Pulau Dewata.

Dalam pengakuannya, Ricis merasa mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dan minim senyum dari petugas saat hendak menyewa fasilitas helikopter wisata.

Ricis membandingkan sikap petugas yang tampak jauh lebih hangat, sigap, dan ramah ketika berhadapan dengan pelancong mancanegara.

Keluhan tersebut lantas menuai perdebatan sengit di dunia maya, di mana sebagian warganet mengaku pernah mengalami pengalaman serupa, sementara sebagian lainnya membela dedikasi para pelaku industri pariwisata lokal.

Bantah Perlakuan Khusus: Pekerja Pariwisata Juga Punya Suasana Hati

Merespons narasi yang menyudutkan masyarakat Bali, Arya Wedakarna menegaskan bahwa Pulau Dewata memiliki DNA pariwisata yang sangat inklusif dan menyambut siapa saja tanpa memandang latar belakang kebangsaan.

Menurut Arya, pelayanan yang kurang memuaskan dalam satu momen tertentu tidak dapat serta-merta ditarik kesimpulan sebagai bentuk diskriminasi rasial atau kewarganegaraan.

Ia menekankan bahwa pekerja pariwisata di garis depan adalah manusia biasa yang tidak lepas dari tekanan mental maupun kelelahan emosional.

Pernyataan Anggota DPD RI Asal Bali (Arya Wedakarna): "Masyarakat Bali pada dasarnya welcome dengan semuanya. Wisatawan yang datang jangan mudah marah atau terpancing emosi ketika mendapatkan pelayanan yang dirasa kurang menyenangkan. Pekerja di sektor pariwisata juga manusia yang bisa memiliki kondisi atau suasana hati tertentu. Bukan berarti tidak ramah dalam satu kesempatan otomatis dianggap diskriminasi terhadap wisatawan lokal."

Kendati tidak membenarkan sikap petugas yang tidak ramah, Arya menyarankan agar konsumen menempuh mekanisme komplain yang beretika, seperti menegur langsung dengan sopan, mengisi lembar evaluasi (feedback form), atau melapor ke pihak manajemen perusahaan, bukan justru langsung membuat konten viral di media sosial tanpa dasar yang kuat.

Sentil Realitas Upah Minimum dan Target Wisatawan Berkualitas

Dalam telaahnya, senator asal Bali tersebut turut menyinggung realitas sosiologis dan ekonomi yang dialami para garda terdepan pariwisata daerah.

Arya memaparkan bahwa upah minimum di Bali tergolong relatif kecil jika dikomparasikan dengan beban adat, budaya, dan biaya hidup harian yang harus ditanggung masyarakat setempat.

Oleh sebab itu, wisatawan diharapkan memiliki empati dan pemahaman emosional timbal balik terhadap kondisi pekerja.

Arya menambahkan, masa depan pariwisata Bali kini diarahkan pada segmen quality tourism, yakni wisatawan yang tidak hanya memiliki kemandirian finansial yang sehat, melainkan juga dibekali budi pekerti serta etika komunikasi yang baik.

“Bali adalah tempat yang ramah. Wisatawan domestik maupun asing tidak boleh dibeda-bedakan dalam pelayanan, semua harus diperlakukan setara dan bermartabat,” tegas Arya memastikan komitmen kesetaraan layanan di seluruh sektor pariwisata Bali.

Tabel Pemetaan Polemik Pelayanan Wisatawan di Bali & Respons DPD RI

Guna memberikan pemetaan informasi mengenai pihak yang mengeluhkan, subjek penanggap, duduk perkara masalah, serta rekomendasi penanganan secara rapi, terstruktur, dan mudah dipahami, berikut adalah rangkuman datanya:

Parameter Informasi Rincian Fakta & Perkembangan Isu
Pihak yang Mengeluhkan Ria Ricis (Figur publik / kreator konten)
Objek Layanan yang Disorot Layanan jasa penyewaan helikopter wisata di Bali
Inti Tuduhan / Keluhan Sikap petugas dinilai lebih ramah ke turis asing dibanding WNI
Pihak Penanggap Resmi I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (Anggota DPD RI asal Bali)
Sikap Terhadap Tuduhan Membantah diskriminasi sistematis; tegaskan Bali terbuka bagi semua
Argumen Humanis Pekerja Pekerja sektor wisata adalah manusia yang bisa lelah atau punya beban hati
Sorotan Kondisi Sosial Tingkat upah minimum relatif minim di tengah tingginya beban hidup/adat
Saran Mekanisme Aduan Lewat jalur resmi: teguran langsung, lembar feedback, atau aduan manajemen
Kritik Perilaku Konsumen Hindari langsung memviralkan masalah sepele di medsos tanpa bukti kuat
Prinsip Akhir Pelayanan Seluruh turis (domestik maupun mancanegara) wajib dilayani secara setara

Polemik perlakuan wisatawan di Bali ini menjadi cermin penting bagi ekosistem pariwisata nasional, di mana profesionalisme pelayanan prima dari pelaku usaha wajib berpadu selaras dengan kedewasaan etika para pelancong dalam menyampaikan keluhan secara proporsional.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
Arya Wedakarna Warga Bali wni bule