SOLOBALAPAN.COM – Bayangkan sedang berdiri di bawah terik Matahari, tetapi bayangan yang biasanya mengikuti ke mana pun kamu pergi tiba-tiba terlihat sangat pendek, bahkan seolah menghilang. Bukan sulap, fenomena tersebut memang bisa terjadi dan Solo bakal mendapat gilirannya pada Oktober 2026.
Fenomena itu dikenal sebagai Hari Tanpa Bayangan, atau dalam istilah astronomi disebut kulminasi utama. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini terjadi ketika Matahari berada tepat di atas kepala atau titik zenit sehingga bayangan benda tegak akan bertumpuk dengan benda tersebut dan terlihat seperti menghilang.
Baca Juga: Aneh tapi Punya Manfaat, Mengenal Kefir: Minuman Fermentasi yang Dipenuhi Bakteri Baik
Kapan Hari Tanpa Bayangan Terjadi di Solo?
Jangan buru-buru mencari bayangan yang hilang pada September. Meskipun rangkaian Hari Tanpa Bayangan di Indonesia sudah berlangsung sejak September, Solo baru akan mengalami Kulminasi Utama II pada Oktober 2026.
Berdasarkan tabel waktu kulminasi utama BMKG, wilayah Surakarta dijadwalkan mengalami fenomena tersebut pada 12 Oktober 2026 sekitar pukul 11.23 WIB.
Artinya, warga Solo punya kesempatan untuk mencoba mengamati perubahan panjang bayangan benda di sekitar waktu tersebut. Namun, hasil pengamatan tetap bergantung pada kondisi cuaca dan lokasi pengamatan.
Secara umum, Kulminasi Utama II 2026 di Indonesia berlangsung secara bertahap. Fenomena ini dimulai di wilayah Sabang pada September dan terus bergeser hingga wilayah Baa, Nusa Tenggara Timur, pada Oktober. Pergeseran waktu tersebut berkaitan dengan posisi Matahari yang berubah sepanjang tahun jika diamati dari Bumi.
Kok Bisa Bayangan Menghilang?
Selama ini, bayangan seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari benda yang terkena cahaya. Namun, pada waktu tertentu, Matahari bisa berada tepat di atas kepala sehingga bayangan benda tegak jatuh hampir tepat di bawah benda tersebut.
BMKG menjelaskan, kulminasi utama terjadi ketika deklinasi Matahari sama dengan lintang pengamat. Pada kondisi tersebut, Matahari berada di titik zenit sehingga bayangan benda tegak terlihat bertumpuk dengan benda itu sendiri. Karena itulah fenomena ini populer disebut Hari Tanpa Bayangan.
Fenomena tersebut terjadi karena bidang ekuator Bumi tidak tepat berimpit dengan bidang ekliptika. Akibatnya, posisi Matahari yang tampak dari Bumi terus berubah sepanjang tahun di antara sekitar 23,5 derajat Lintang Utara hingga 23,5 derajat Lintang Selatan. Perubahan posisi semu Matahari inilah yang membuat waktu kulminasi utama berbeda-beda di setiap wilayah.
Baca Juga: Kuliner Tradisional : Dari Mana Asal Nasi Liwet? Ini Sejarah Versi Solo dan Sunda
Bisa Coba Sendiri di Rumah?
Tentu. Tidak perlu teleskop atau peralatan astronomi khusus untuk melihat efek Hari Tanpa Bayangan.
Salah satu cara sederhana adalah menggunakan botol, tiang kecil, atau benda lain yang bisa berdiri tegak. Letakkan benda tersebut di area terbuka yang mendapat sinar Matahari langsung, kemudian amati bayangannya mendekati waktu kulminasi.
Pada hari biasa, bayangan benda akan terlihat memanjang ke salah satu arah. Ketika mendekati waktu kulminasi, bayangan akan semakin pendek. Jika kondisi pengamatan mendukung, pada saat kulminasi bayangan dapat terlihat sangat pendek hingga seolah-olah menghilang di bawah benda.
Namun, jangan sampai terlalu bersemangat mengejar bayangan hingga lupa menjaga mata. Hindari melihat Matahari secara langsung dan cukup amati bayangan benda di permukaan tanah.
Solo Bukan Satu-satunya
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Solo. Karena Indonesia berada di sekitar garis khatulistiwa, Kulminasi Utama dapat terjadi di berbagai wilayah hingga dua kali dalam setahun. Waktunya berbeda-beda karena setiap daerah memiliki posisi lintang yang berbeda.
Bahkan, fenomena Hari Tanpa Bayangan tidak selalu terjadi tepat pada tanggal yang sama di seluruh Indonesia. BMKG mencatat Kulminasi Utama II 2026 berlangsung dari September hingga Oktober, mengikuti perubahan posisi Matahari terhadap wilayah-wilayah di Indonesia.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : BMKG