Peneliti Internasional Usut Misteri Bahtera Nabi Nuh di Turki, Pengeboran 18 Meter Temukan Struktur Unik

Didi Agung Eko Purnomo • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 17:39 WIB
Diduga Bahtera Nabi Nuh.
Diduga Bahtera Nabi Nuh.

SOLOBALAPAN, TURKI - Tim peneliti internasional resmi membuka babak baru dalam upaya pencarian keberadaan Bahtera Nabi Nuh usai melakukan pengeboran sampel inti hingga kedalaman hampir 18 meter di Formasi Durupinar, Turki.

Struktur bukit tanah dan batuan berbentuk menyerupai kapal sepanjang 157 meter tersebut selama puluhan tahun dikaitkan dengan lokasi kapal kuno Nabi Nuh, meski bukti ilmiah mutlak hingga kini masih terus diteliti.

Dilansir dari Daily Star pada 27 September 2026, riset terbaru ini diusung oleh tim Noah's Ark Scans yang melibatkan puluhan arkeolog, ahli geologi, dan pakar ilmu tanah.

 Penelitian lapangan tersebut dipimpin langsung oleh arkeolog Cenker Atila dari Sivas Cumhuriyet University setelah memperoleh izin resmi dari pemerintah dan lembaga terkait di Turki.

Penelitian Lapangan dan Penggunaan Teknologi Canggih

Guna memeriksa kondisi bawah permukaan tanpa harus melakukan penggalian masif yang berisiko merusak site, tim memanfaatkan rangkaian teknologi pemindaian modern.

 Di antaranya radar penembus tanah (ground-penetrating radar/GPR), pengeboran inti kedalaman tinggi, hingga pengoperasian robot bawah tanah khusus bernama Gopher.

Baca Juga: Benarkah Teh Chamomile Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Dari hasil pengeboran pada sejumlah titik hingga kedalaman 18 meter, tim melaporkan belum menemukan adanya lapisan batuan dasar atau batu kapur padat. Seluruh sampel tanah dan material organik yang didapatkan saat ini sedang dikirim ke laboratorium untuk dianalisis komposisinya secara terperinci.

Hasil laboratorium ini yang nantinya akan memperjelas apakah Durupinar murni bentukan geologi alami atau memiliki karakteristik struktur internal buatan manusia.

Temuan Koridor Bawah Tanah dan Rekaman Robot Gopher

Sebelumnya, tim peneliti mengklaim hasil pemindaian radar memperlihatkan adanya indikasi celah yang ditafsirkan sebagai koridor atau ruangan di bawah permukaan. Robot Gopher kemudian diturunkan melalui lubang bor untuk mengabadikan kondisi ruang interior tersebut.

Rekaman visual tersebut diklaim sebagai dokumen pertama yang memperlihatkan bagian dalam formasi Durupinar.

Kendati demikian, tim menegaskan bahwa keberadaan celah atau lorong bawah tanah tersebut tidak serta-merta menjadi bukti sah bahwa struktur tersebut adalah kapal atau bangunan buatan manusia.

Kontroversi Durupinar dan Target Riset Hingga 2027

Formasi Durupinar terletak di Provinsi Ağrı, wilayah timur Turki, tepat di sebelah selatan Gunung Ararat.

Bentuknya yang menyerupai geladak kapal pertama kali menarik perhatian publik dunia setelah terekam dalam foto udara pada tahun 1959. Ukurannya yang sepanjang 157 meter juga sering dibandingkan dengan estimasi dimensi bahtera dalam catatan sejarah kuno.

Perdebatan akademis mengenai status Durupinar sendiri telah berlangsung selama beberapa dekade. Sebagian besar studi geologi terdahulu menyimpulkan bahwa lokasi tersebut merupakan bentuk erosi batuan alami.

Oleh karena itu, penelitian pada tahun 2026 yang melibatkan sekitar 20 ilmuwan dari lima negara ini bertujuan menguji ulang secara komprehensif apakah teori formasi batuan alami tersebut masih relevan berdasarkan data-data baru.

Pengambilan sampel dan pengujian laboratorium direncanakan terus berjalan hingga tahun 2027, sebelum nantinya dipublikasikan secara resmi dalam laporan ilmiah internasional.

Parameter / Detail Riset Rincian / Data Fakta
Lokasi Penelitian Formasi Durupinar, Provinsi Ağrı, Turki (Selatan Gunung Ararat)
Panjang Formasi 157 Meter (Menyerupai bentuk kapal kuno)
Pimpinan Tim Riset Cenker Atila (Sivas Cumhuriyet University) & Tim Noah's Ark Scans
Metode & Teknologi Radar GPR, Pengeboran Inti 18m, Robot Bawah Tanah Gopher
Temuan Sementara Tidak ditemukan batuan dasar padat; terdeteksi potensi lorong/ruangan
Jadwal Riset Analisis laboratorium berlanjut hingga 2027 untuk publikasi ilmiah

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
Bahtera Nabi Nuh turki