SOLOBALAPAN.COM – Teka-teki mengenai identitas jenazah tanpa nama (Mr X) yang ditemukan di Perairan Pulau Enggano, Bengkulu, akhirnya terkuak secara terang.
Berdasarkan hasil pencocokan DNA oleh Tim DVI Pusdokkes Polri, jenazah tersebut dipastikan adalah Surakman, salah satu anak buah kapal (ABK) Arupadhatu 1 yang dilaporkan hilang kontak di Selat Sunda saat mengangkut rombongan jurnalis.
Jasad Surakman sebelumnya ditemukan terapung di Perairan Pulau Enggano pada 12 September, atau tepat pada hari kelima berlangsungnya operasi Search and Rescue (SAR).
Kepastian identitas ini menjadi temuan penting dan perkembangan signifikan dalam upaya pencarian delapan korban yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal.
Dilansir dari JawaPos.com, Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki, menyampaikan bahwa penetapan identitas tersebut diperoleh setelah pencocokan data DNA jenazah Mr X disandingkan dengan sampel antemortem keluarga para korban yang hilang kontak sejak Senin (7/9).
Berdasarkan data fisik awal, jenazah memiliki tinggi badan sekitar 163 sentimeter, diperkirakan berusia 50 tahun, dan mengenakan celana pendek warna hitam.
”Hasil identifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap seorang mayat Mr. X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, bahwa secara genetik PM/62/P.ENGGANO/01 itu kode jenazah Mr. X tadi, teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal,” terang Hengki kepada awak media, Rabu (23/9).
Jenderal bintang dua Polri tersebut menegaskan bahwa Surakman terbukti secara ilmiah sebagai ayah biologis dari pemilik data antemortem bernama Yayat, yang merupakan putra kandung sang ABK Kapal Arupadhatu 1.
Seluruh parameter data primer, mulai dari susunan gigi, sidik jari, hingga tes DNA Mr X, dinyatakan identik dengan profil keluarga kandung Surakman.
Titik Terang Pengangkatan Delapan Korban Hilang
Sebagaimana diketahui, Tim SAR Gabungan tengah memfokuskan pencarian terhadap delapan orang penumpang dan kru Kapal Arupadhatu 1 yang hilang misterius.
Para korban terdiri dari Warta (Kapten Kapal), Surakman (ABK), Heriyanto (Guide), M. Bagus Khoerunnas (Jurnalis Antara), Arie Basuki (Jurnalis Merdeka), Yudhistiro Pranoto (Jurnalis iNews), Firdaus Wajidi (Jurnalis Anadolu), serta Donal Husni (Jurnalis Freelance).
Operasi penyisiran yang digelar selama 10 hari tersebut telah diperluas mencakup perairan Samudra Hindia, pesisir Lampung, pesisir Bengkulu, hingga beberapa pulau tak berpenghuni di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Kendati operasi penyisiran melalui jalur laut, darat, dan udara sempat menghadapi kendala tanpa hasil signifikan, pengumuman resmi dari Polda Banten hari ini memberikan kejelasan pertama terkait nasib rombongan kapal tersebut.
Temuan ini berawal dari laporan dan koordinasi intensif antara Polda Bengkulu dan Polda Banten.
Langkah tersebut langsung ditindaklanjuti dengan pengiriman sampel data antemortem keluarga korban dari Banten ke Bengkulu, hingga akhirnya hasil resmi DVI Polri diumumkan hari ini. (dam)
Editor : Damianus Bram