Sosok KH Hasan Abdullah Sahal: Pimpinan Gontor yang Disorot Usai Pidato Jenaka dan Menohok di Depan Presiden

Didi Agung Eko Purnomo • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 18:08 WIB
KH Hasan Abdullah Sahal.
KH Hasan Abdullah Sahal.

SOLOBALAPAN, PONOROGO - Potongan video pidato Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, mendadak menjadi perhatian publik usai menghadiri peringatan 100 tahun lembaga pendidikan Islam legendaris tersebut.

Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, ulama senior itu menyampaikan deretan pesan kebangsaan yang dibalut humor khas pesantren.

Momen tersebut menjadi perbincangan hangat di media sosial lantaran sang kiai tak canggung mengutip gaya bicara khas Prabowo saat panggung debat politik. Seloroh "sorry ye" hingga sindiran mengenai fenomena "cari muka" di kalangan masyarakat menjadi bagian dari isi pidato yang paling banyak mendapat sorotan publik.

Di balik nada bercanda tersebut, pimpinan pesantren kelahiran Ponorogo itu menyisipkan pesan mendalam mengenai prinsip keterbukaan terhadap kritik.

Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin maupun pejabat yang menikmati fasilitas lebih dari rakyatnya sudah sepatutnya siap dan terbuka untuk dikritik, diprotes, hingga didemo.

Kelakar 'Sorry Ye' dan Sindiran Fenomena Cari Muka

Saat membuka pidatonya, KH Hasan Abdullah Sahal secara terbuka meminta izin kepada Presiden Prabowo Subianto jika pesan yang dibawakannya terdengar kurang nyaman. Ia lantas mencairkan suasana dengan melontarkan frasa populer yang disambut tawa para tamu undangan.

Baca Juga: Ning Royya Anak Kyai Siapa? Putri Pengasuh Ponpes Lirboyo yang Resmi Dipersunting Habib Abbas

“Bapak Presiden, saya ngomong agak tak enak ya, Pak. Sorry ye,” ujar KH Hasan Abdullah Sahal mengutip kalimat ikonik Prabowo.

Ia kemudian melanjutkan gurauannya mengenai kehadiran kepala negara dalam momentum berharga peringatan satu abad Gontor tersebut. “Andai kata Pak Prabowo hari ini enggak datang, muka saya mau taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka.

Sekarang banyak orang yang cari muka, betul?” katanya.

Kendati disampaikan dalam suasana cair, ia menekankan integritas etika di lingkungan pesantren. Menurutnya, keterbukaan terhadap kontrol sosial merupakan fondasi utama pembelajaran di Gontor.

Jika seorang pengasuh atau pejabat makan dan tinggal lebih mewah dari santrinya, maka ia wajib menerima protes serta kritik.

Profil dan Rekam Jejak Kiprah KH Hasan Abdullah Sahal

Lahir pada 24 Mei 1947, KH Hasan Abdullah Sahal merupakan putra keenam dari KH Ahmad Sahal, salah satu dari tiga tokoh Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor bersama Zainuddin Fannanie dan Imam Zarkasyi.

Saat ini, ia memimpin Gontor bersama Amal Fathullah Zarkasyi dan Muhammad Akrim Mariyat.

Pendidikan keagamaannya ditempuh di lingkungan internal Gontor hingga lulus KMI pada 1965. Ia sempat mengajar dan menimba ilmu di Institut Pendidikan Darussalam (IPD) sebelum melanjutkan studi ke Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, pada 1967.

Spesialisasi keilmuan hadisnya kemudian diperdalam di Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 1992.

Dalam dunia pesantren, KH Hasan Abdullah Sahal menjabat sebagai Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sejak 1985.

Selain aktif mengajar sebagai dosen di ISID (kini Universitas Darussalam Gontor) sejak 1977, ia juga mendirikan Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah di Coper (1989) serta Pondok Tahfidz Qur'an Al-Muqoddasah di Nglumpang (1992).

Parameter Tokoh / Peristiwa Rincian / Data Fakta
Nama Tokoh KH Hasan Abdullah Sahal
Jabatan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (Sejak 1985)
Tanggal Lahir 24 Mei 1947 (Putra KH Ahmad Sahal / Trimurti Gontor)
Momentum Acara Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor
Tokoh Hadir Presiden Prabowo Subianto
Riwayat Pendidikan KMI Gontor (1965), Univ. Islam Madinah (1967), Univ. Al-Azhar (1992)
Pesantren Didirikan PP Putri Al-Mawaddah (1989) & PP Tahfidz Al-Muqoddasah (1992)
Pesan Kunci Pidato Keterbukaan terhadap kritik, etika kepemimpinan, & indepedensi pesantren

Gaya pidato lugas yang dikemas dengan kehangatan humor dari KH Hasan Abdullah Sahal menegaskan konsistensi peran ulama pesantren dalam memberikan nasihat konstruktif bagi para pemimpin bangsa.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
KH Hasan Abdullah Sahal Gontor presiden